Senja meluruskan badannya dan bersandar pada jok mobil. Helaan napas keluar dari mulutnya berulang kali sejak mendengar ucapan Langit terakhir kali. Lalu kini keduanya telah kembali melanjutkan perjalanan pulang mereka.
Setelah mengucap satu kalimat sensitif itu, Langit sesegera mungkin kembali melajukan mobil kala matanya menatap Senja sudah tak tertarik dengan pembicaraan itu. Suasana di dalam mobil pun menjadi hening. Baik Senja maupun Langit tak ada yang berniat untuk memulai pembicaaraan terlebih dahulu.
Langit menepikan mobil di depan rumahnya saat mereka telah tiba. Senja yang sudah melepas seatbelt, tiba-tiba merasakan lengan kanannya digenggam. Perempuan itu pun menoleh dan melihat sosok Langit yang menatapnya dengan penuh arti.
"Sorry."
Senja tersenyum tipis dan mengangkat kedua bahunya menanggapi ucapan Langit.
"Jaja..."
"Iya."
"Iya apa?"
"Maaf 'kan?"
Langit mengangguk, "Dimaafin?"
"Iya." Langit menaikkan kedua alisnya seperti menunggu ada kata selanjutnya yang keluar dari mulut Senja. "Dimaafin."
Setelah kata itu keluar, dalam sekali tarik Langit membawa tubuh Senja ke dalam pelukannya. Tangan kanan Langit mengusap lembut rambut lurus Senja yang terurai.
"Cerita semuanya kalo lo udah siap ya? Ayo selesaiin semua masalah ini bareng-bareng. Lo tau gue emang bakal selalu ada buat lo 'kan?"
Senja mengangguk masih di dalam pelukan yang Langit buat. Langit mencoba memberi hal lain yang mungkin bisa menenangkan perempuan itu, karena sepertinya segala ucapan menenangkan saat ini takkan ada artinya.
Jika ditanya apakah Langit marah saat ini, maka jawabannya sudah pasti adalah iya. Langit cukup marah pada Senja yang mengakui secara tidak langsung kesalahan yang dibuat dalam persahabatan mereka. Langit tahu dengan cukup jelas apa yang Senja maksud dengan ucapannya malam itu, juga dengan bagaimana diamnya Senja saat ia bertanya tadi. Namun untuk marah pun, Langit seperti tak memiliki hak. Terlebih ketika dirinya sendiri pun memiliki kesalahan yang sama seperti yang Senja lakukan.
***
Suara pintu mobil yang tertutup menjadi pemecah lamunan Akash kali ini. Ia menatap Anindya yang sudah duduk manis di sebelahnya.
"Ngeliat apaan sih?" Ucap Anindya seraya mengedarkan pandangan pada jalanan depan rumahnya yang kosong.
Akash menggeleng dan mulai menyalakan mobilnya sebelum menjalankannya keluar dari rumah.
Berbohong mungkin menjadi keahlian Akash yang baru saja ia geluti akhir-akhir ini. Lalu membohongi semua orang akhirnya memberi dampak bagaimana semua ini dapat terjadi.
Sebelum Anindya memasuki mobil, Akash telah mendahuluinya dengan niat ingin memanaskan mobil terlebih dahulu. Baru saja ingin menyalakan mobilnya, Akash melihat mobil Langit yang baru saja berhenti di depan rumahnya. Namun hingga beberapa saat setelahnya, Akash sama sekali tak melihat siapapun keluar dari mobil itu. Melalui kaca mobil Langit yang tidak terlalu gelap, Akash memfokuskan penglihatannya dan menemukan kedua temannya yang sudah saling memberi pelukan hangat.
"Ih kok kelewat sih??" Protes Anindya seraya memperhatikan tenda penjual makanan yang baru saja Akash lewati.
Akash mengerjap kaget mendengar protes adiknya dan melihat seberapa jauh ia telah melewati tenda penjual makanan yang sebenarnya ia tuju. Lalu secara perlahan Akash menepikan mobil tak jauh dari tenda tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Senja
Teen FictionKepada Senja yang paling cantik di alam semesta, kutitip doa pada-Nya agar kamu selalu baik-baik saja. Kepada Senja paling baik di alam semesta, beri aku senyummu maka akan kubuat kau jatuh cinta. Kepada Senja yang selalu ku sayang sepanjang masa, m...
