CHAPTER 2 : Siswa Akhir a.k.a Pejuang PTN

43 8 4
                                        

"Cepet kesini atau seblak lo gue makan!" Ucap Senja pada Akash di seberang telepon.

"Sabar, udah pembacaan notulensi."

Setelah mengucap itu, Akash menutup teleponnya. Senja mencibir dengan gerakan bibirnya setelah mengetahui Akash menutup telepon secara sepihak.

"Punya lo yang apa sih, Ja?" Tanya Langit saat tiga mangkuk seblak tiba di meja mereka.

"Lo ga usah pura-pura bego biar bisa ngembat seblak gue ya, sat. Punya gue yang komplit ada ceker, jamur, sama bakso."

"Njir lah, tau aja mau gue tuker."

"Kita udah hidup 17 tahun bersama ya, Lang."

"Mau nambah seumur hidup ga, Ja? Nanti kita jadi sehidup semati, gue-nya hidup lo yang mati."

"Anjing, ngomong yang bener ya bangsat. Lo pilih gue siram kuah seblak apa gua tonjok?!"

"Daripada buat nyiram gue, mending masuk ke perut gue, Ja."

"Akash mana sih, anjir? Dia harus secepat mungkin  ada di sekeliling kita, gue udah cape ngadepin lo yang gila."

Laki-laki yang baru saja disebut namanya itu kini mulai memasuki kedai dimana Langit dan Senja berada. Akash duduk di sebelah Senja dengan muka lelahnya seraya menyeruput es teh manis yang telah lebih dulu dipesan kedua temannya.

"Kash, bener deh, lo ga boleh kayaknya biarin gue berduaan aja sama Langit." Ucap Senja seraya menggoyangkan lengan Akash.

"Kenapa lagi, sih?"

"Emang aneh cewe di samping lo, Kash. Gue denger-denger sih pohon rambutan di samping rumahnya Senja ada Mba Kukunnya. Ga heran deh kalo dia rada aneh gitu." Langit berbicara dengan sedikit berbisik dan raut wajah seperti ibu-ibu bergosip.

"Jujur, gue udah mencoba untuk tidak berkata haram, Kash. Tapi kayaknya emang bener kalo orang mau tobat tuh setannya kenceng banget buat gangguin."

"Bener 'kan kata gue disamping rumah lo ada Mba Kukun, Ja?"

"Engga, anjir! Lo setannya ya!" Ucap Senja gemas seraya mencoba mencubit Langit yang berada di depannya.

"Ja—Senja, udah, Ja. Ini nanti seblaknya tumpah." Akash mencoba menengahi seraya menarik Senja.

"Belain gue dong, Kash." Pinta Senja dengan raut wajah memohon.

"Iya-iya, udah ya ga usah berantem lo berdua, gue lagi cape banget."

Melihat raut wajah Akash yang tidak berbohong tentang rasa lelahnya, Senja mengambil tas miliknya dan mengeluarkan kipas elektrik yang selalu ia bawa kemana-mana lalu mengarahkannya ke Akash. Langit mendorong seblak milik Akash bersamaan dengan tangannya yang menaruh sendok di mangkuk tersebut.

"Ayo Kash, sebentar lagi demisioner dari ketos. Masa letoy gini lo." Ucap Senja masih dengan kegiatannya mengipasi Akash.

"Kenapa lagi Wakasek Kemahasiswaan?" Tanya Langit tiba-tiba.

"Darimana lo tau gue lagi pusing sama Wakasek Kemahasiswaan?"

"Ada dede gemes yang curhat gitu masalah OSIS."

"Bisa-bisanya masalah internal di umbar."

"Tanpa dia umbar juga lo bakal ngasih tau gue ujung-ujungnya, sama aja lah."

Akash menghela napasnya, "Pensi sebulan lagi dan persiapannya belum mateng. Panitianya ga bisa dikasih kepercayaan banget. Gue yang pusing sendiri nyari solusi."

"Kash.." Panggil Senja pelan, "Lo harus inget kalo setahun yang lalu lo seneng banget kepilih jadi ketos, sekarang ga boleh nyerah dong.  Katanya pensi proker terakhir lo sebelum demisioner."

Langit SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang