1.

2.5K 261 27
                                        

"I like being single.
I'm always there when I need me."
:)

Senyum ramah menghiasi wajahnya, balutan pakaian formal menutupi lekukan tubuhnya dan jangan lupakan stilettos hitam yang mengalasi kakinya. Kallula Maheswari, seorang pegawai perbankan itu melangkah penuh percaya diri menyusuri lorong kantornya. Sesekali menyapa, sesekali tersenyum ramah menanggapi sapaan nasabah dan juga rekan kerja. Tepat disaat dia akan memasuki pantries, ponsel disaku blazernya berdering. Kallula dengan sigap merogoh sakunya mengambil si benda pipih, takut-takut kalau ternyata itu panggilan penting dari nasabah. Detik berikutnya, wajah yang tadinya terhiasi senyuman seketika berubah menegang begitu melihat nama yang tertera dilayar.

"Mama is Calling..."

Kallula masih menatap benda pipih yang bergetar ditangannya, ia terlihat ragu untuk menerima panggilan itu. Karena gugup, ia mulai menggigiti bibir, mengerutkan dahi, bahkan berjalan kesana kemari dengan ponsel di tangan. Saat akhirnya benda itu berhenti bergetar, Kallula menghela nafasnya berat. Perempuan itu merasa lega. Tapi, kelegaan itu tidak berlangsung lama karena di menit berikutnya panggilan kembali datang membuat Kallula hampir saja melempar ponsel ditangannya. Seolah tahu akan menghadapi badai besar, Kallula menghirup banyak oksigen sebelum menghembuskannya dengan kasar.

"Halo, dek..." suara mamanya terdengar begitu ia menempelkan si benda pipih ditelinga.

"Iya, Ma? Maaf tadi aku lagi meeting ini baru aja selesai." Bohongnya.

"Aduh, kamu lagi sibuk banget emang?"

"Iya gitu, Ma... namanya juga kerja. Ada apa?" Tanya Kallula cepat, ia tidak ingin berlama-lama menerima panggilan ini.

"Oh iya, hampir aja lupa. Kamu udah dapat pacar belum?"

'Nah kan!' Batin Kallula berteriak, sudah bisa dipastikan mamanya menelpon hanya untuk bertanya soal pendamping. Harusnya ia tidak perlu mengangkat panggilan dari sang mama, dan sekarang ia menyesalinya.

"Hng... kok nanya gitu, Ma?"

Akhirnya Kallula hanya memasang telinga, mendengarkan ocehan sang mama yang sama seperti panggilan sebelum-sebelumnya. Mulai menceritakan sanak saudara yang sudah membangun rumah tangga dan memiliki anak diumur Kallula yang sekarang. Memuja keluarga kecil Kak Jovanka, tak lupa juga memuji si menantu kaya raya. Bagi orang tua Kallula, hanya dirinya yang memiliki kekurangan karena belum juga menikah dan memiliki anak. Muak? Tentu saja, tapi Kallula tidak sedurhaka itu untuk membantah dan mengatai orang tuanya.

"Dek, kamu dengerin mama nggak sih?" Suara mamanya yang kembali terdengar membuat Kallula tersadar dari lamunan.

"Ah, iya Ma... kenapa?"

Terdengar suara decihan diujung sana, "Kamu ini, jangan lupa ketemu sama anaknya tante Evi. Nanti mama kirim alamat ketemuannya,"

Kini giliran Kallula yang mendesah, lagi dan lagi. Kencan buta yang entah sudah keberapa kalinya harus ia datangi. Kadang gadis itu merasa ia seperti boneka yang tak laku sampai harus ditawarkan kepada orang-orang.

"Kallula nggak bisa janji, Ma..."

"Astaga! Mama enggak mau tahu, pokoknya kamu harus datang!" Tepat setelah mengatakan itu, panggilan terputus. Mamanya memutus sambungan mereka sepihak, dan itu tandanya mau tidak mau Kallula harus menuruti perintah tanpa bantahan.

"Sialan." Kallula mengumpat penuh penekanan.

➖➖➖

"Cariin gue suami dong..." ujar Kallula begitu ia bergabung dengan rekan kerjanya yang lain.

XOXOSOS!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang