"There are many things that I would like to say to you. But, I don't know how."
➿
Kallula memasuki ruangan dengan muram diwajahnya. Perempuan yang biasa terlihat ceria itu kali ini terlihat kusut dan gelap seperti sedang mati lampu. Hal itu tentu saja tak luput dari perhatian Tara yang juga berada di ruangan pagi itu. Sepanjang meeting berlangsung, matanya tidak hanya sekali mencuri pandang ke arah Kallula. Perempuan itu hanya menatap kosong ke depan dan berkali-kali menghela nafasnya membuat Tara tak bisa mengikuti meeting dengan baik karena fokus yang terbagi.
Rasa penasaran Tara semakin bertambah ketika Kallula meminta ijin untuk keluar ruangan terlebih dahulu disaat meeting masih berlangsung. Perlahan rasa khawatir menghinggapinya, apa istrinya itu sakit? Berbagai kemungkinan mulai menghampiri pikirannya saat ini. Alhasil, begitu meeting selesai Tara langsung bergegas mencari Kallula. Rooftop menjadi tujuannya karena tempat itu salah satu tempat yang paling sering didatangi Kallula saat sedang berada di kantor wilayah.
Dengan menenteng paper bag berisi air mineral, roti dan obat nyeri yang dibeli Yusuf dikedai depan kantor—pria itu melangkah keluar dari lift yang membawanya. Semakin dekat dengan pintu rooftop, suara orang yang sedang mengobrol samar-samar terdengar. Tara sempat mengeryitkan dahinya bingung, apa ada orang lain selain Kallula? Karena penasaran, pria itu melangkah mendekat. Tara yang kini sudah berdiri diambang pintu bisa melihat dengan jelas sosok Kallula dan Mahesa sedang berdiri bersisian memunggunginya.
Tara memperhatikan mereka dalam diam. Keduanya nampak serius, wajah Kallula pun terlihat datar nyaris tanpa ekspresi. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Meski penasaran, Tara memilih untuk tidak menganggu pembicaraan mereka.
Mata Tara sempat melihat botol air mineral ditangan sang istri dan sekaleng kopi ditangan Mahesa. Pria itu melirik paper bag di tangannya lalu tersenyum kecut kemudian.
"Sebenarnya gue ngekhawatirin apa, sih?"
Untuk sedetik, rasa nyeri menyerang hatinya. Tara tidak suka ini, harusnya dia tidak perlu mencari Kallula dan berakhir melihat perempuan itu sedang bersama pria lain. Tara menghela nafasnya berat, dengan cepat ia berbalik-memilih pergi menjauh dari tempat itu.
Dasar bodoh.
"Siang, Pak..." Sapa Opi, si sekretaris CEO saat berpapasan dengan atasannya itu di lift.
Tara tersenyum tipis. "Siang, Opi..." kemudian satu tangannya terulur—menyodorkan paper bag—yang membuat gadis itu mengeryit bingung. "Buat saya, Pak?" Tanyanya memastikan.
"Hm, Hm. Biar Opi makin semangat kerjanya..." ujar Tara kembali menyodorkan paper bag itu.
Opi menatap pemberian Tara dengan mata berbinar. "Beneran, Pak? Asik. Makasih ya, Pak." ucap si gadis dengan nada ceria.
"Sama-sama, Opi. Saya duluan yaa..." pamitnya begitu lift yang mereka naiki berhenti dilantai tempat ruangan Tara berada.
➖➖➖
"Bapak?" Kaget Kallula saat melihat sosok Tara di halte—tempat biasa ia menunggu jemputan Yusuf.
Tara menoleh begitu mendengar suara Kallula, "Kirain udah pulang."
Kallula menggeleng. "Bapak ngapain disini?" Heran perempuan itu. Apa jangan-jangan Tara sengaja datang untuk menjemputnya?
"Jemput kamu." Jawab pria itu dengan senyum simpulnya.
"Yusuf mana, Pak? Biasanya kan dia yang jemput." Tanya Kallula berusaha menutupi salah tingkahnya. Tak dipungkiri, melihat Tara menunggunya membuat perut perempuan itu sedikit tergelitik.
KAMU SEDANG MEMBACA
XOXOSOS!
FanfictionKallula Maheswari, si budak korporat yang diam-diam menyimpan rasa pada si manajer namun secara tiba-tiba menjadi istri si pemimpin divisi. Another story of Ten and Lisa. Alternative universe Happy Reading! ©️SkylaR 🍂
