Kim Bum mendengus kecil, menatap Hye Sun yang langsung menarik kursi dengan tidak santai sesaat setelah mereka memesan makanan dan menentukan tempat untuk duduk. Sahabatnya itu nampak masih menatap kesal ke arah Min Ho dan seorang wanita cantik yang tadi berpapasan dengan mereka di dekat pintu masuk.
“Apa-apaan itu? Sok cari perhatian sekali pada Min Ho. Min Ho juga apa tidak lelah tiap hari yang diperhatikan So Eun terus, So Eun terus. Aku seperti tidak ada harganya, sialan.”
Berucap penuh emosi sambil menarik beberapa lembar tisu dari kotaknya, pemilik marga Goo itu terlihat mencabik-cabik tisunya, membuat Kim Bum lagi-lagi mendengus kecil.
“Siapa?”
“Apanya?”
“Yang kau sebut-sebut.”
Tatapan kesal Hye Sun semakin menjadi saat Kim Bum berucap demikian. Ia lalu menunjuk dua orang di dekat pintu sana dengan dagunya. “Anak sialan itu. Aku malas menyebut namanya.”
“Tapi, kau menyebut namanya sejak tadi.”
“Kya Kim, tidak bisakah kau tidak menjadi menyebalkan?”
“Kau yang menyebalkan.”
“Aku tidak peduli.”
“Jadi, dia siapa?”
“Kenapa kau sangat ingin tahu?” Hye Sun bertanya semakin emosi, tapi Kim Bum terlihat tidak peduli. Pria Kim itu tetap menatap sang sahabat dengan tatapan super datarnya yang biasa. Membuat Hye Sun mendengus dan menghempaskan tisu di tanganya ke atas meja. “So Eun. Kim So Eun, saudara sepupu Min Ho.”
Jawaban Hye Sun berikan, tapi Kim Bum masih diam pada posisi yang sama—menatap wanita dengan tatapan datarnya. Hingga pada detik kesekian, ia menjawab dengan satu kata yang sukses membuat emosi Hye Sun naik lagi.
“Oh.”
“Hanya seperti itu, brengsek?!”
“Lalu, kau ingin jawaban macam apa?”
“Terserah.”
Hye Sun kesal, Kim Bum tahu tapi tidak peduli. Mengenal Hye Sun sejak kecil membuat ia sudah terbiasa dengan apapun sifat si Goo itu. Wanita itu seperti dilahirkan dengan kesensitifan yang berlebihan sehingga apapun dapat membuatnya kesal dan marah. Dan Kim Bum tidak akan peduli dengan itu.
“Makanannya sudah dipesan?”
Mengalihkan tatapannya dari Hye Sun, manik Kim Bum kini tertuju pada Min Ho yang baru saja datang dan mengambil tempat di sampingnya—di depan Hye Sun.
“Kau tak jadi makan dengan So Eun?”
“Kenapa jadi So Eun? Dia ke sini dengan Min Young.”
“Ya, siapa tahu kau mau makan dengannya?”
“Tidak. Aku ke sini bersama kalian, tentu aku akan makan dengan kalian.”
“Oh.”
“Lalu, bagaimana makanannya?”
“Milikku dan Kim Bum sudah dipesan. Pesan sendiri milikmu dan Seo Jun.”
“Kenapa hanya Kim Bum? Sebenarnya pacarmu aku atau Kim Bum, sih?”
“Sekarang aku tanya, pacarmu aku atau So Eun?”
“Wah, pertengkaran rumah tangga macam apa ini?”
Kim Bum hanya diam, menatap malas pertengkaran yang--kembali--terjadi di antara Min Ho dan Hye Sun—bahkan hingga Seo Jun datang. Sepasang kekasih itu masih anteng dengan perdebatan—entah apa—mereka. Lalu, saat Seo Jun menendang kakinya untuk menanyakan apa lagi yang terjadi di antara mereka, Kim Bum hanya mengendik tak peduli.
“Ya So Eun...”
Entah apa yang salah, Min Ho belum menyelesaikan ucapannya setelah itu, tapi Seo Jun sudah bergerak lebih dulu untuk memukul kepalanya dan Hye Sun.
“Kalian selalu bertengkar gara-gara So Eun. Sekarang apalagi?”
Seo Jun bertanya malas dan Hye Sun langsung balas menabok kepalanya. “Kau juga sering bertengkar dengan Min Young gara-gara dia, sialan. Jangan bertingkah seakan kau tidak bermasalah dengan kehadiran So Eun.”
Sekarang, bukan lagi Min Ho dan Hye Sun saja yang bertengkar. Nyatanya, Seo Jun juga sudah ikut bergabung dalam pertengkaran itu.
Kim Bum?
Ia masih anteng pada posisinya. Menatap ketiga temannya itu dengan tatapan datarnya. Hingga pada detik kesekian, ia memilih untuk mengalihkan tatapannya dari mereka. Mengarah ke arah salah satu meja di dekat pintu—di mana orang yang menjadi penyebab pertengkaran ketiga temannya itu duduk dengan tenang sambil menunggu pesanannya.
Dari ucapan sambil lalu yang didengarnya dari pertengkaran teman-temannya, orang itu bernama So Eun—Kim So Eun. Kata mereka, So Eun sepupu Min Ho—adik sepupu—berarti lebih muda dari lelaki Lee itu.
Dari posisinya saat ini, Kim Bum dapat melihat dengan jelas wajah indah wanita itu.
Oh, itu bukan kebohongan. Kim Bum tidak dapat menyangkal jika pemilik marga Kim itu memang indah. Rambutnya hitam pekat, jatuh begitu saja di membingkai wajah cantiknya. Maniknya indah dan penuh binar cantik. Hidungnya sempurna dan bibirnya cerah alami—yang entah mengapa terlihat begitu menggoda. Dan pipi bulat itu nampak cantik dengan semburat merah samar di sana.
Ya, Kim So Eun seindah itu.
Dan ia benar-benar sukses mengundang dan menjadi pusat perhatian.
Buktinya, lihat tiga manusia yang masih bertengkar tentang wanita itu. Bukankah itu bukti bahwa kehadiran si cantik bermarga Kim itu mengundang perhatian?
Dan nyatanya, So Eun juga berhasil mengundang perhatian Kim Bum.
Tapi bukan sekedar perhatian.
Ada hal lain yang membuat perhatian Kim Bum sepenuhnya tertuju pada So Eun—lebih tepatnya dunia So Eun. Dan membuat pria Kim itu berpikir bahwa ia harus masuk ke sana, lebih jauh lagi.
•be ambitious•
Thank you...

KAMU SEDANG MEMBACA
be ambitious
FanfictionBumsso Awalnya, hidup keduanya terlampau biasa saja, terlalu datar dan hanya berjalan apa adanya. Tapi tidak lagi setelah mereka bertemu. Karena setelah hari itu, ada ambisi rahasia di diri masing-masing, membuat hidup yang awalnya biasa-biasa saja...