be ambitous 23

511 76 4
                                    


“Bum-ah, kau di mana?”

“Jalan.”

“Pulang?”

“Tidak.” Melirik sekilas ke sekitarnya, Kim Bum tetap melanjutkan langkahnya sebelum menjawab ucapan orang di ujung sana. “Aku mau ke rumah So Eun.”

“Kau akan menginap lagi?”

“Hm.”

“Wah, betah sekali kau di sana.”

“Berikan alasan kenapa aku harus tidak betah.”

“Astaga, tapi benar juga. Terlepas dari semua alasan yang lain, tidur dengan Kim So Eun saja memang sudah membuat betah. Apalagi kalau bisa memeluknya. Lebih bagus lagi kalau bisa sampai menciumnya.”

“Jung...”

“Tidak, Bum. Bercanda.”

“Jadi, kenapa kau menelponku?”

“Itu, ada yang mau kutanyakan padamu.”

“Apa?”

“Kau sedang menyuruh orang untuk mengikuti So Eun?”

Sebuah kerutan tercipta di kening Kim Bum. Pada saat yang sama, ia juga menghentikan langkahnya begitu saja—karena matanya menatap seseorang di depan sana, tepat di depan tempat tinggal So Eun.

“Tidak. Aku tidak pernah menyuruh siapa-siapa untuk mengikutinya. Kenapa?” Jawab pria Kim itu kemudian.

“Masalahnya begini, Bum. Tadi, saat aku dan dia rapat di luar, aku melihat seperti ada orang yang mengikutinya. Awalnya aku tidak yakin, mungkin saja itu memang orang yang kebetulan satu tujuan dengan kami. Tapi, saat aku sengaja meninggalkan So Eun sendiri, dia tetap di sekitar So Eun. Aku kira itu orang suruhanmu.”

“Aku tidak punya uang untuk menyuruh orang mengikutinya. Lagi pula, untuk apa juga aku melakukannya?”

“Oh iya, aku lupa.”

“Ngomong-ngomong, kau melihat wajah orang itu?”

“Tidak. Dia memakai masker dan topi, jadi mukanya tidak kelihatan dengan jelas.”

“Baiklah. Lain kali kalau kau sedang bersama dengan So Eun dan ada dia, awasi dia. Aku tutup dulu, ada yang harus kuurus.”

Selanjutnya, tanpa peduli apa jawaban sepupunya di ujung sana, Kim Bum memutuskan sambungan telpon itu lebih dulu. Matanya masih mengarah pada orang yang berdiri di depan tempat tinggal So Eun itu. Hingga saat ia sudah mengambil langkah kelima, orang itu menoleh ke arahnya dan dalam sepersekian detik kemudian langsung berlari pergi meninggalkan tempat itu.

Kim Bum tidak mengejarnya. Berniatpun tidak. Tapi, ketika ia mengingat bagaimana orang itu melihatnya tadi, sebuah senyum miring lantas tercipta di wajahnya.

“Tunggu saja. Tunggu dan lihat apa yang akan kulakukan padamu karena sudah berani menggangguku.”










•be ambitious•










So Eun bersenandung kecil saat berjalan memasuki dapur. Niatnya ke sana untuk melihat apa ada sesuatu miliknya yang bisa ia makan sambil menunggu pesanan makan malamnya sampai. Ia sangat lapar sekarang.

Tadi pagi, ia melewatkan sarapan karena terlambat bangun dan Kim Bum. Makan siangnya juga terlewat karena harus buru-buru ke kantor untuk menghadiri rapat penting bersama Young Hwa tadi. Ia hanya menikmati hidangan ringan selama rapat tadi sehingga tidak salah kalau sekarang ia lapar bukan main.

Tapi, gerakannya untuk memasuki dapur jadi terhenti begitu saja saat maniknya menangkap ada bibi sedang sibuk di depan kompor sana. Ia ingin tetap masuk, tapi rasa tak enak membuatnya mundur lagi. Sayangnya, sebelum langkah mundur itu ia ambil, bibi lebih dulu menoleh bersamaan dengan seseorang yang mendorongnya untuk masuk ke sana.

So Eun gelagapan, tidak tahu harus mengahadapi yang mana lebih dulu.

“Kenapa begini?”

“Apa yang kau lakukan?”

“Nona So Eun sedang apa?”

“Ya?”

So Eun masih bingung, sementara bibi dan Kim Bum saling melirik sebelum kembali menatapnya. Dua detik kemudian, bibi maju lebih dulu setelah pergi untuk meletakan masakannya di meja makan.

“Nona makan dulu ya, bibi sudah menyiapkan makan malam untuk nona.”

“Tapi kan, bi...”

“Tidak apa-apa. Tadi pagi nona tidak sarapan, tidak sempat makan siang juga. Di kantor pasti tidak sempat makan juga karena sibuk bekerja.”

“Tapi, aku sudah memesan makan.”

“Tidak apa-apa juga. Itu bibi masak untuk nona, jadi memang untuk nona.” Mengukir sebuah senyum manis, wanita itu lalu menunduk kecil dan pamit untuk pergi.

Setelah bibi pergi, So Eun menatap ke arah meja makan. Di sana, tidak sedikit makanan yang wanita itu siapkan untuknya. Membuatnya jadi menghela napas berat saat menyadari hal itu.

“Aku tidak enak jika harus memakannya.”

“Kau tega?”

So Eun jadi tersentak kecil saat pertanyaan itu sampai ke telinganya. Oh iya, ia lupa jika ada Kim Bum yang bersamanya saat ini.

“Kenapa?”

“Kau tega? Bibi sudah kelelahan memasak dan kau tidak makan masakannya. Lalu, jika tidak dimakan, makanan itu mau kau apakan? Dibuang?”

“Ya tidak begitu juga.”

“Kalau begitu makan. Lagi pula, aneh-aneh saja kau ini. Kau majikan di sini, semua yang ada di dini itu milikmu tapi...”

“Sudah kubilang kalau semua ini bukan milikku.”

“Tapi selama ini kau yang ada di sini. Bisa  dibilang jika ini semua milikmu.”

“Tidak, ini bukan milikku.”

“Kalau begitu, anggap saja ini milikmu.”

“Mau kutolak, Bum. Tapi, malam ini tidak jadi. Sayang sekali makanan itu.”

“Seterusnya juga tidak ada yang mempermasalahkan itu.”

Jawaban Kim Bum membuat So Eun berdehem saja. Hingga beberapa detik kemudian, si cantik Kim itu menoleh dan menatapnya dengan tatapan heran.

“Kenapa kau ada di sini?”

“Kau tidak mau aku ke sini?”

“Bukan begitu. Maksudnya, kenapa kau tiba-tiba sudah ada di sini. Kau juga tidak memberi kabar.”

“Yang penting aku datang, kan?” Menjawab acuh, Kim Bum lalu meraih tangan si cantik dan menariknya ke arah meja makan. “Lagi pula, aku sudah bilang padamu tadi pagi kalau aku tidak mau ditinggal. Jadi, jangan tanya apapun kalau tiba-tiba aku sudah ada di sini.”

•be ambitious•

















Thank you...

be ambitiousTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang