“Tidak seperti itu caranya, Sso.”
“Ya?”
So Eun menoleh, menatap Kim Bum dengan tangan kanan yang memegang pisau dan tangan kiri yang memegang toples selai kacang. Sedang yang ia tatap kini terlihat menatapnya malas sebelum kembali sibuk lagi dengan pekerjaannya. So Eun sendiri acuh dan akan bergerak untuk mengoleskan selai kacang tadi pada roti yang ada di atas meja.
Di letakannya toples selai itu ke atas meja setelah mengambil dengan pisau di tangan kanannya. Berikut tangan kirinya meraih roti, sudah akan mengoleskan selai itu ke atas permukaan roti. Tapi, gerakannya terhenti karena Kim Bum yang bergerak lebih dulu untuk menahan tangan kanannya.
“Aku sudah bilang, tidak seperti itu caranya.”
“Lalu bagaimana caranya? Ini tinggal memasukan selai saja, kan.”
“Tapi rotinya tidak kau lubangi seperti ini juga.”
Menjawab cepat, Kim Bum dengan cepat meraih roti dari tangan kiri So Eun dan pisau di tangan kanan si cantik. Ia lalu mengembalikan selai yang tadi sudah diambil So Eun kembali ke dalam toples dan menggunakan pisau yang sama untuk memotong roti—yang So Eun lubangi bagian atasnya tadi—menjadi dua bagian.
“Sso, lihat ini. Potongnya seperti ini, tidak dilubangi dari atas. Kalau kau melubanginya dari atas, selainya tidak akan sampai ke semua sisi rotinya.”
“Seperti itu ya?” Tanya So Eun dengan tatapan polosnya.
“Memangnya kau tidak pernah melihat ibumu membuatkan roti seperti ini untukmu?”
“Tidak.”
Kim Bum sungguh tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Selama hidupnya, apa saja yang sudah So Eun lakukan sampai melihat ibunya membuatkan roti selai—untuk sarapan—saja tidak pernah?
“Sudah, seperti ini. Yang lain juga buatlah seperti ini.”
“Tapi, semua rotinya sudah kulubangi, Bum.”
“Astaga. Bagaimana bisa kau melakukan ini, Sso?”
“SUdah hancur, Bum.”
“Terserah kau saja. Pokoknya semua roti ini, kau harus menghabiskannya. Kau yang memintanya tadi.”
Setelah mengatakan kalimat itu, Kim Bum kembali ke pekerjaannya—mengabaikan So Eun yang kini sudah menatap roti-roti nyaris hancur yang ada di atas meja dengan wajah merengutnya.
Tahan.
Kim Bum tidak boleh menoleh untuk melihat wajah merengut—yang jatuhnya menggemaskan itu. Bisa ada bahaya besar jika ia melakukan itu.
So Eun?
Lupakan saja. Biarkan ia memikirkan cara untuk menghabiskan lima roti dengan berbagai macam selai yang tadi ia minta dari Kim Bum.
Dan mari kembali pada Kim Bum yang baru selesai melayani seorang pelanggan. Ia selanjutnya melihat apa yang kurang dari roti dalam etalasenya. Tapi, belum juga ia kembali untuk mengambil apa yang perlu, kedatangan Seo Jun di tokonya mengalihkan perhatiannya.
“Bum, nanti sore kau sibuk tidak?”
“Tidak juga. Tapi itu.” Kim Bum menjawab pertanyaan Seo Jun dengan santai dengan dagu yang bergerak menunjuk So Eun yang duduk di meja yang ada di dalam sana—masih sibuk dengan roti-rotinya.
“Dia di sini terus. Apa dia tidak kerja?”
“Kalau bos bebas.” Menjawab acuh, Kim Bum lalu ke belakang untuk mengambil roti yang perlu ia tambahkan ke dalam etalase, meletakan segelas air untuk So Eun dan kembali sibuk dengan rotinya. “Tapi, kenapa kau bertanya aku sibuk atau tidak?”
“Hye Sun mengajak untuk pergi ke tempat biasa. Katanya sudah lama kita tidak ke sana kan.”
“Lalu dia ke mana?”
“Apalagi? Tentu saja pacaran. Aku tadi berpikir, kenapa tidak dia sendiri yang datang ke sini. Tapi ketika aku melihat Minhee di sini, aku tahu apa yang dia lakukan.”
Mengangguk acuh, Kim Bum kembali ke meja kasir sebelum menatap Seo Jun lagi. “Tanyakan pada Hye Sun, kalau aku boleh membawa dia, aku akan ikut.”
“Bawa saja dia. Persetan dengan Hye Sun, toh Min Ho juga ke sana kan.”
“Baiklah.”
“Kalau begitu aku langsung pergi ya. Aku cuma lewat sini, makanya dititipkan pesan Hye Sun untukmu tadi.”
Lalu, setelah Kim Bum mengangguk, pria itu benar-benar pergi dari toko Kim Bum.
Kini, suasana kembali sepi. Tidak ada siapapun di situ selain Kim Bum dan So Eun—yang entah sampai kapan sibuk dengan rotinya di belakang sana.
Memilih untuk menghentikan aktivitasnya, Kim Bum memilih untuk pergi menghampiri So Eun. Si cantik masih sibuk menikmati rotinya—ia benar-benar akan makan semua roti itu sepertinya.
“Sudah?”
“Ya? Belum, Bum.”
Kim Bum bertanya dan So Eun menjawab cepat diantara kegiatannya mengunyah rotinya. Detik berikunya, ia mendongak untuk menatap Kim Bum—yang berdiri di sampingnya. Sukses saja membuat pria Kim itu mendengus malas karena melihat penampakannya saat ini.
Kedua pipi yang sudah bulat semakin bulat karena roti yang memenuhi mulutnya, bibirnya yang mengerucut kecil dengan remahan roti dan selai yang berserakan disekitar mulutnya.
Sialan ya, So Eun. Kim Bum mana kuat kalau seperti ini?
“Kau, apa kau tidak bisa makan dengan lebih sopan?” Kim Bum mengajukan pertanyaan itu dengan tangan yang bergerak menyeka selai di sudut bibir So Eun. Tapi wanita itu seperti tidak tahu apa yang ia lakukan.
“Ya?”
“Ditelan dulu itu.”
So Eun susah payah menelan roti di dalam mulutnya lalu memasukan potongan terakhir lagi ke dalam mulutnya. Mengunyahnya dengan cepat dan menelannya sebelum kembali menatap Kim Bum.
“Kenapa, Bum?”
•be ambitious•
Thank you...

KAMU SEDANG MEMBACA
be ambitious
FanfictionBumsso Awalnya, hidup keduanya terlampau biasa saja, terlalu datar dan hanya berjalan apa adanya. Tapi tidak lagi setelah mereka bertemu. Karena setelah hari itu, ada ambisi rahasia di diri masing-masing, membuat hidup yang awalnya biasa-biasa saja...