“Aku perhatikan, kau sibuk sangat belakangan ini?”
Kim Bum yang baru selesai menata beberapa roti yang baru diangkat dari oven, menoleh dan menatap Hye Sun yang duduk di kursi di depan meja bar. Sahabatanya itu terlihat sedang menatap barisan roti-roti hangat yang telah disusun rapi dalam etalase di sebelahnya.
“Siapa?”
“Kau.”
“Memangnya apa yang aku lakukan?”
Hye Sun terlihat mengendik dan Kim Bum memilih membawa roti yang sudah ditatanya tadi untuk dimasukan ke dalam etalase juga.
“Ya mana aku tahu, kau yang sibuk. Hanya saja, beberapa hari ini, aku jarang melihatmu.”
“Sepertinya bukan aku yang sibuk, tapi kau.” Kim Bum memberikan jawaban acuh. Pria Kim itu lalu bergerak lagi untuk mengangkat roti lain yang masih di oven. “Setelah bertengkar dengan Min Ho, kau tidak ke sini.”
“Jangan sebut-sebut namanya, aku marah.”
“Kenapa? Kalian putus?”
“Doamu, sialan!”
“Siapa yang mendoakan?”
Hye Sun tidak menjawab. Ia memilih memutari meja bar untuk sampai ke tempat dimana Kim Bum berada sekarang. Lalu, tanpa peduli apa yang akan pemilik marga Kim itu katakan, ia mengambil piring dan pergi mengambil beberapa roti dari etalase.
“Ngomong-ngomong, Kim Bum. Kudengar dari Seo Jun, saudara sepupumu yang itu, sedang ada di sini?”
“Hm, mau kerja.”
“Tinggal di mana dia?”
“Tidak tahu.”
“Tidak tinggal denganmu?”
Kim Bum tidak menjawab. Ia kembali meletakan rotinya di dalam elatase sebelum pergi ke arah meja kasir. Ia lalu mengutak atik mesin kasir sebelum pergi ke hadapan Hye Sun dengan selembar kertas. Tanganya lalu mengulurkan benda itu pada Hye Sun, sukses membuat si Goo itu menatapnya dengan tatapan super kesal.
“Kya Kim Sang Bum, kau perhitungan sekali denganku?”
“Aku bisnis.”
“Lalu, siapa yang peduli? Aku tidak mau bayar.” Menjawab dengan emosi, Hye Sun melempar kembali kertas yang Kim Bum berikan tadi padanya.
“Oke.” Dan Kim Bum meraih benda itu dengan santai. “Ada Lee Min Ho yang siap membayar bahkan sampai sepuluh kali lipat untuk semua tagihan pacar tidak tahu dirinya ini.”
“Wah bajingan kau!”
“Tidak peduli.”’
“KIM SANG BUM, KAU HARUS TAHU AKU BARU SAJA BERTEMU DENGAN SIAPA!”
Hye Sun belum menjawab ucapan Kim Bum, tapi kedatangan Seo Jun dengan teriakannya dari pintu toko roti Kim Bum itu sukses membuat keduanya menatap ke sumber suara. Hye Sun mendengus lebih dulu, hampir saja melempar lelaki Park itu dengan piringnya.
“Bisa kau tutup mulut besarmu itu, sialan?!”
“Tidak ada urusannya denganmu.” Seo Jun benar-benar mengabaikan Hye Sun. Ia kini menatap Kim Bum dengan tatapan berbinarnya. “Kau harus tahu aku baru saja bertemu dengan siapa.”
“Siapa?”
“Kim So Eun.”
“Brengsek, mau apa pe...”
“Lalu?”
•be ambitious•
So Eun tidak dapat menahan dirinya untuk merekahkan senyumnya dengan indah saat maniknya bertemu dengan manik Young Hwa—yang baru saja masuk ke ruangannya. Ia lalu beranjak dari kursinya dan tanpa aba-aba langsung berlari dan menubruk lelaki Jung itu sebelum memeluknya erat.
“So.... Eun?”
“AAAKKHHH, KAU INGAT DENGANKU?! AKU PIKIR KAU LUPA! KYA JUNG, AKU SANGAT MERINDUKANMU!”
So Eun berteriak heboh, lalu melepas pelukannya, menatap Young Hwa selama beberapa saat sebelum memeluk lelaki Jung itu lagi. Young Hwa sendiri hanya diam sebelum tangannya bergerak naik untuk membalas pelukan So Eun. Mereka sudah lama tidak bertemu dan bohong jika ia tidak rindu.
“Aku juga merindukanmu.”
Setelah Young Hwa mengatakan kalimat itu, So Eun melepas pelukannya. Masih dengan senyum yang sama ia menatap Young Hwa dengan tatapan berbinarnya.
“Ke mana saja kau selama ini?”
“Aku tidak ke mana-mana. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Ke mana saja kau selama ini? Dulu kau tiba-tiba saja mengilang.”
“Aku dibawa pergi ayah ibuku. Kau tahu bukan, jika aku tidak bisa melawan mereka?”
“Lalu di mana mereka?”
“Sudah tidak ada.”
“Ya?”
Young Hwa terlihat kaget dan senyum So Eun perlahan berubah menjadi senyum miris. “Ya sudah tidak ada. Beberapa bulan setelah mereka membawaku ke sini, mereka kecelakaan dan tidak bisa diselamatkan.”
So Eun tidak tahu pasti apa yang Young Hwa pikirkan setelah ia memberikan jawaban itu. Tapi, ia dapat melihat raut bersalah di wajah sahabatnya itu.
“Maafkan aku, Sso. Aku tidak bermaksud untuk...”
“Tidak apa-apa. Itu juga sudah lama terjadi.”
“Jadi, selama ini kau sendiri?”
“Tidak juga.” So Eun menjawab setelah itu. “Aku ditemani Min Young.”
“Min Young?”
“Kau ingat orang yang baru datang dari Jepang itu? Yang kuceritakan padamu, aku menolongnya di depan kampus.”
“Ingat.” Young Hwa menjawab sedikit ragu-ragu, So Eun yakin Young Hwa hanya mengingatnya sedikit. “Dia ya?”
Lalu, saat pertanyaan lanjutan yang pria Jung itu berikan sampai ke telingnya, So Eun mengangguk saja. “Dia dan Min Ho oppa yang menemaniku selama ini.”
Young Hwa terlihat mengangguk di posisi yang sama. Membuat So Eun merasa jika ia harus mencari topik lain untuk obrolan mereka.
“Oh ya Jung, kau tidak apa-apa kan, jika langsung bekerja jadi sekretarisku? Aku memang sengaja meminta pada Min Ho oppa saat tahu kau melamar kerja di sini. Tapi kalau kau tidak mau, aku bisa meminta pada Min Ho oppa lagi agar memberikan posisi yang baik untukmu.”
“Tidak apa-apa, aku justru senang bisa mendapat posisi ini.” Diam sesaat, Young Hwa terlihat mengulum bibirnya sebelum berucap lagi. “Ngomong-ngomong Sso, perusahaan ini kau yang mengurusnya?”
“Iya.” So Eun menjawab cepat dengan anggukan kecil. “Sejak orang tuaku meninggal, memang aku yang mengurusnya. Kenapa?”
•be ambitious•
Thank you...

KAMU SEDANG MEMBACA
be ambitious
FanfictionBumsso Awalnya, hidup keduanya terlampau biasa saja, terlalu datar dan hanya berjalan apa adanya. Tapi tidak lagi setelah mereka bertemu. Karena setelah hari itu, ada ambisi rahasia di diri masing-masing, membuat hidup yang awalnya biasa-biasa saja...