"Tenang, kita berpisah karena hanya karena tersesat jalan saja. Saat jalan yang kita lewati telah benar, kita akan kembali bersatu dan melewati berbagai rintangan bersama."
-Clara Anggelista.
***
Gibran menghela napasnya gusar, "gagal gue."
Pandu mendekat pada Gibran dan duduk disampingnya, "sebenernya apa sih niat lo nemuin gue sama Clara kek gini?"
Gibran menatap Pandu dalam, "gue cuma mau lo berdua masih temenan kek dulu. Gue gamau liat Clara sedih terus."
"Ya kan ada lo, lo emang ga bisa buat dia seneng?" sinis Airin yang merasa khawatir takut Pandu berhasil dihasut untuk kembali pada Clara.
"Du, lo kenal Clara dari kecil kan? Lo pasti udah hafal sama semua sipat dia, gue yakin. Lo tau kan kalau dia ga pernah nunjukkin rasa sedihnya di depan orang lain?"
"Iya gue tau," jawab Pandu.
"Dia suka sama lo udah lama dan lo malah jadian sama temennya sendiri, coba bayangin kalau lo ada diposisi Clara sekarang gimana?" kata Gibran.
Pandu terdiam memikirkan ucapan Gibran yang sangat menusuk hatinya. Airin yang melihat Pandu yang diam, segera menarik lengannya untuk pergi menjauhi Gibran.
"Kenapa narik tangan gue?" tanya Pandu galak.
"Gue gamau lo dipengaruhi dia dan balik lagi sama Clara," kata Airin jujur.
Pandu melepaskan tarikan tangan Airin dengan keras, "apa mau lo?"
"Gue mau jadi milik lo seutuhnya. Gue gamau lo balik lagi ke Clara, gue pengen bahagia lo cuma sama gue." papar Airin.
"Lo egois, gue ga suka sama orang yang cuma mentingin dirinya sendiri," hardik Pandu dan melengos pergi meninggalkan Airin sendirian.
"Salah kalau gue pengen ngabisin terakhir waktu gue sama lo? Bahagia sama lo?" gumam Airin dengan mata yang berkaca-kaca menatap punggung Pandu yang semakin menjauh.
***
Gibran mencari keberadaan Clara, ia mencoba menelpon namun tidak diangkat, mengirim pesan tidak dibaca, sebegitu marahnya kah Clara?
"Ham!" panggil Gibran saat melihat Ilham lewat berdua dengan Dina.
"Apa?" jawab Ilham.
"Liat Clara ga?" tanya Gibran langsung.
"Lah? Bukannya Clara daritadi sama lo?" tanya balik Dina.
"Iya," jawab Gibran yang kemudian menceritakan peristiwa tadi saat ia mempertemukan Clara dan Gibran.
"Bego lagian!" tangkas Ilham.
"Lo padahal tau seberapa sakitnya Clara kalau liat Pandu sama cewenya, tapi lo malah dengan sengaja nemuin mereka," ujar Ilham.
"Yaudah gini aja, sekarang lo cari Clara di balkon, biasanya tiap malem dia sukabumi natap langit di balkon," saran Ilham yang diangguki oleh Gibran.
"Thanks, bro."
Gibran berlari dengan cepat, menaiki anak tangga satu persatu, hingga sampailah ia di balkon. Benar, Clara sedang duduk sendiri disana. Gibran berdeham sedikit kencang hingga membuat Clara membalikkan dirinya dan menatap Gibran.
"Maju selangkah lagi, gue ga bakal mau lagi ketemu sama lo," hardik Clara.
Gibran terus melangkahkan kakinya, "iya Cla gapapa kalau lo gamau ketemu lagi sama gue. Tapi sebelum itu gue cuma mau ngejelasin apa niat dan tujuan gue, biar ngga ada salah paham."
"Ga perlu."
"Cla, please! dengerin gue," pinta Gibran serius.
"Iya apaan?"
Gibran memegang kedua tangan Clara dan menatapnya intens, "gue sayang sama lo udah lama. Bukan perasaan abang ke adik, ini perasaan cinta, Cla. Gue suka sama lo."
"Gue ga mau liat lo sedih mulu. Gue pengen hibur lo, tapi seharian ini keknya lo sedih mulu. Jadi gue berniat nemuin lo sama Pandu. Gue kalau liat muka lo doang aja udah seneng, dan gue pikir kalau lo cuma liat muka Pandu doang juga bisa seneng," imbuh Gibran.
Clara tidak bisa mengatakan apa-apa, ia terlalu kaget dengan apa yang habis Gibran utarakan. Ia tidak menyangka, lelaki yang biasanya ia jadikan tempat curhat, ia telah tau seluk beluk masalah Clara, tapi ia malah mengutarakan perasaan.
"Okei karna gue udah jujur tentang perasaan gue sama lo selama ini. Lo ... mau jadi pacar gue?"
"Gue bakal jadiin lo ratu, gue bakal bahagiain lo, lo ga akan nangis-nangis lagi," kata Gibran.
"Gue bukan tipe orang yang gampang buat lupa, dan gue gamau ngegunain seseorang untuk melupakan seseorang. Mending kalau gue akhirnya bisa suka sama lo, ya kalau ngga gimana?" jawab Clara yang membuat Gibran terdiam lumayan lama.
"Maaf ya Bang," ucap Clara dan segera pergi meninggalkan Gibran sendiri.
Yang gamau itu yang kamu mau.
***
Setelah dirasa lelah, semuanya segera masuk ke kamar masing-masing. Pandu sekamar dengan Noval, Banu, Ilham, dan Gibran.
"Selamat malam dan selamat tidur," ucap Ilham sambil mematikan lampu agar tidur mereka bisa nyenyak.
01.00.
Gibran terbangun dari tidurnya, ia merasa sulit untuk kembali memejamkan matanya. Tenggorokannya terasa haus, saat ia ingin mengambil minum, air dalam botolnya telah habis. Dengan terpaksa ia harus keluar kamar dan mengambil minum.
Membuka pintu dengan perlahan dan berjalan mengendap, tidak mau mengganggu orang yang sedang tidur.
Setelah sampai dapur dan mengisi botolnya hingga penuh, mata Gibran menanangkap seseorang yang sedang membawa botol minum juga seperti dirinya.
"Hei," panggil Gibran, Airin menoleh tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Ngapain lo disini? Lo nangis?" tanya Gibran yang melihat pelupuk mata Airin sembab.
"Kenapa? Lo puas liat gue menderita? Harus banget ya ngebahagiain Clara dengan cara nindas gue?" sentak Airin yang tak terasa air matanya kembali menetes.
"Apa maksud lo?"
Airin menyeka air matanya dan terkekeh sinis, "ga usah pura-pura bego."
"Lo pengen Clara seneng makannya nemuin dia sama Pandu kan? Asal lo tau ya, gara-gara itu gue sama Pandu berantem. Dia marah karna gue gak mau kalau dia masih peduli sama Clara," imbuh Airin.
"Clara juga marah sama gue," lirih Gibran.
Airin menatap Gibran dan tersenyum simpul, "lo mau balik lagi sama Clara ga?"
"Gimana caranya?"
"Gini-gini, lo yakin kan kalau lo bisa bahagiain Clara?" tanya Airin yang dibalas anggukan oleh Gibran.
"Pandu marah sama gue, Clara marah sama lo. Lo mikir ga sih ini tuh peluang besar kalau mereka mau balikan, lo pasti ga mau kalau mereka balikan, iya?" Airin mulai menghasut Gibran.
"Trus kita harus gimana?"
"Kita harus buat rencana lagi supaya mereka jauh." Airin mengerlingkan sebelah matanya.
Airin membisikkan sesuatu pada Gibran, ide rencana yang akan mereka lakukan besok pagi sebelum pulang.
"Kalau Clara tau, dia bakal lebih marah sama gue," gumam Gibran.
"Ya dia gak bakal tau, karena ngga ada yang ngasih tau juga, 'kan? Tenang aja ini rahasia kita berdua," ucap Airin.
"Yaudah besok kita mulai, sekarang gue harus pergi takut ada yang ngintip," pamit Gibran.
"Badan tua, otak pinter tapi tetep aja masuk perangkap seorang Airin haha," batin Airin.
"Liat aja lo Cla, hidup lo perlahan bakal hancur," batin Airin lagi.
***
YUHUU!
Jangan lupa vote komen dan krisarnya ya.
Makasii😉
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA SEPIHAK [TERBIT]
Teen Fiction"Hal terbodoh yang pernah lo lakuin apa, Cla?" tanya Pandu. "Harus jujur?" "Iyalah." "Suka bertahun-tahun sama sahabat sendiri dan gaberani bilang gue suka sama dia hingga akhirnya dia jadian sama temen deket gue." "Lo... lo suka sama gue?" "Udah te...
![CINTA SEPIHAK [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/229624204-64-k991755.jpg)