31||•Terungkap•

7K 271 6
                                        

"O---bat gue..."

Airin jatuh tersungkur didepan pintu masuk rumahnya. Ia tak tahan menahan rasa pusing dan penyakit sesaknya yang kambuh.

Mirna yang mendengar suara jatuh segera mencari sumber suara. Betapa terkejutnya Mirna saat melihat anak majikannnya jatuh tak sadarkan diri di depan rumahnya sendiri. Ia segera memanggil supir untuk meminta mengantarkannya ke rumah sakit.

"Ayo buruan jalannya mang!" titah Mirna yang semakin panik karena Airin tak juga bangun.

Lima belas menit, akhirnya Mirna sampai di rumah sakit. Ia membawa Airin ke ruang IGD agar mendapat penanganan yang cepat. Kini Airin sudah dibawa menggunakan brankas rumah sakit, ia menunggu di depan ruang IGD dengan perasaan yang sangat cemas.

"Assalamualaikum Pak, non Airin pingsan di depan rumah tadi. Saya sekarang lagi di rumah sakit." Mirna mengirim pesan chat pada Tama, ayahnya Airin.

Pak Tama

Saya dan Ibunya Irin lagi sibuk.
Kamu urus saja sendiri semua keperluan Airin, saya sudah transfer 50jt ke rekening kamu.
read.

Mirna sangat miris, dirinya sudah menikah bertahun-tahun tapi tidak dikaruniai seorang anakpun. Sedangkan majikannya, sudah diberi anak sesempurna Airin, bahkan kehidupan ekonominya pun sudah sangat baik, malah lalai.

Dokter keluar bersama seorang suster dari ruangan Airin. "Gimana keadanyaa dok?"

"Ibu keluarga pasien?" tanya Dokter.

"Otangtua nya sedang sibuk, saya ditugaskan untuk menjaganya," jawab Mirna.

"Pasien harus dirawat bebarapa hari dulu Bu, panyakit asmanya sudah sangat buruk. Kemungkinan kecil sangat tidak bisa diobati. Saya yakin kalau Airin sudah sering menahan sesaknya dan tidak meminum obat yang saya beri bulan lalu," ujar Dokter.

"Sekarang harus gimana dok?" tanya Mirna pilu. Meskipun Airin hanya sebatas anak majikan, rasa sayangnya melebihi otangtua nya sekalipun.

"Untuk saat ini lebih baik perbanyak doa," saran dokter. "Saya pergi dulu ya, Bu."

"Iya, terimkasih dok," jawab Mirna.

Lagi, hatinya sangat terluka saat melihat Airin yang sudah dipasangi tabung oksigen di hidungnya. Tangannya yang sudah dipasangi infusan.

"Mama Papa dimana bi?" tanya Airin pilu. Ia tahu bahwa orangtuanya pasti sangat tidak memperdulikan dirinya, namun ia sangat berharap besar kali ini mereka akan melihat kondisi anaknya walau hanya semenit.

"Sibuk non," jawab Mirna pelan.

Airin tersenyum simpul, "seperti biasa ya, Bi."

"Sabar ya non, kan disini ada bibi yang siap dua puluh empat jam buat jagain dan nemenin non Irin sampai pulang kerumah lagi," ucap Mirna pengertian.

"Makasih Bi." Airin tersenyum pahit melihat kondisi dimana orang yang asing, tidak memiliki hubungan darah dengannya namun memiliki rasa sayang teramat besar.

Airin termenung sendiri, dalam kondisi nya yang sedang dirawat pun kedua orangtuanya tidak datang menengoknya sama sekali, dan Pandu yang sedang marah padanya.

Orang jahat kalau mau jadi baik itu susah. Bukan karena tidak bisa menjadi baik lagi, tapi ia takut mendapat resiko. Bisa saja ia dicaci dan dibenci oleh orang lain.

CINTA SEPIHAK [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang