6||•Main•

4.1K 357 36
                                        

"Bahkan, gue bisa bersikap selembut sutra walau hati gue hancur lebur dalam kekecewaan."- Airin Putri.
*
*
*

Pandu dan Clara baru saja sampai di rumah, dilihatnya semua kawannya sedang asik menyetel film laga di ruang keluarga yang biasanya sangat sepi itu.

"Ini snack ngambil dimana?" tanya Clara mengintrogasi, pasalnya banyak sekali snack yang tergeletak disana.

Dina nyengir tanpa dosa, "kulkas lo."

"Ga boleh pelit nanti liburan lo sempit," ujar Lisa.

"Ada juga yang kuburannya sempit itu lo! Asal ngambil di kulkas orang tanpa izin aja," sungut Clara kesal.

"Kan nanti gue bakal tinggal disini," ucap Dina dengan bangganya.

Clara dan Lisa menatap Dina curiga, "mau ngabisin stok makanan di kulkas gue?

Dina tertawa lebar, "kan nanti gue bakal jadi kaka ipar lo, haha."

"Masih pacaran sama Abang gue aja lo udah kek gini, apalagi kalau nanti nikah sama dia, bisa melarat hidup gue," cetus Clara.

"Jangan mau Cla, lo jadi ade ipar nya Dina, dia mah kan egois," imbuh Lisa mengimpori Clara dan Dina.

"Ya tapikan kalau jodoh ma, lo berdua bisa apa?" ujar Dina tak mau terkalahkan.

"BANG IAM DINA MAU BURU-BURU NIK---"

Dina membekap mulut Lisa kuat, "jangan malu-maluin gue bisa ga lo?"

Lisa melepaskan bekapan Dina dengan susah payah, "tangan lo asin banget najis."

"Hahaha," tawa Clara dan Dina mulai mengusik ruang yang semula sepi.

"Ilham pacaran sama Dina?" tanya Airin tiba-tiba.

Clara, Dina dan Lisa memberhentikan tawanya seketika, kaget dengan pertanyaan yang diajukan oleh Airim secara tiba-tiba dan terdengar nada suara tak suka.

Airin merasa dirinya dicurigai tak jelas, "mak... maksud gue, gue cuma pengen tau doang, ga bermaksud apa-apa."

"Lo tau nama Abang gue dari siapa?" tanya Clara menginterupsi.

"Tadi... itu gue ket---"

Ilham segera memotong ucapan Airin yang sedang bingung, "gue pernah ketemu dia waktu tinggal di Palangkaraya."

Clara, Dina dan Lisa terlonjak, "kalian udah saling kenal dari dulu ternyata."

Airin hanya meresponnya dengan senyumannya yang terpaksa. Mata Airin mengikuti langkah Ilham yang mendekat pada Dina.

Ilham dan Dina sangat terlihat serasi, sangat terlihat aura kebahagiaan yang memancar dari keduanya, namun tidak dengan keadaan hati Airin.

Hatinya panas, terkoyak-koyak, bahkan bisa dibilang sedang hancur-hancurnya, namun Airin berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja.

"Cie yang lagi dimabuk asmara," ledek Airin.

"Ih iya anjir! Kan pas itu kita holiday ke Puncak, terus mereka beduaan terus, serasa dunia milik berdua kali," tambah Clara dengan menceritakan pengalaman liburan tahun lalu.

CINTA SEPIHAK [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang