PERMINTAAN MAAF

98 11 4
                                        

-AUTHOR POV-

Jimin membanting pintu kamarnya dan langsung masuk kedalam kamarnya, ia tersulut emosi mendengar Ara berteriak padanya. Dia bingung, merasa bersalah namun juga kesal atas sikap adiknya itu. Sementara Ara di dalam kamarnya tidak berhenti menangis bahkan tambah kejer ketika mendengar bantingan pintu dan abangnya yg berteriak balik padanya. Sebenarnya kalau difikir ini cuma kesalah pahaman diantara mereka, dan sepele juga. Karena mereka sama-sama sifat nya keras jadilah kesalah fahaman, ya begitulah mereka kawan-kawan. Mari kita ke Ara dlu ya ;).

"Hikss miann". Ara terus menangis sejadinya.

"Emm". Ara mencoba untuk tenang, menghapus air mata nya, dan beranjak dari kasur nya, dan keluar dari kamarnya. Ia berniat untuk menyusul abang nya untuk meminta maaf, dan menjelaskan semua kesalah fahaman ini.

"Abangg buka". Ara mengetuk-ngetuk pintu nya berkali-kali tetapi tidak ada jawaban apapun dari Jimin.

"Abangg adek minta maaf, ini salah faham". Ara terus mengetuk pintu kamar abangnya itu, tpi tetap tidak ada sahutan dari abangnya. Sampai ia memutuskan untuk menunggu abangnya dan duduk di samping pintu kamar abangnya itu. Sementara jiminn :))

-JIMIN POV-

Aku terbangun ketika mendengar notif hp ku berbunyi, aku melihat jam di hp ku dan langsung di buat kaget karena itu.

"Astaga jiminn kau ketiduran lg, ish ini sudah pagi". Aku langsung beranjak bangun, dan lari ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dan memakai baju aku membuka kunci pintu dan berniat untuk meminta maaf pada adek. Setelah terbuka akupun keluar dan bertapa kejutnya aku ketika melihat sebuah badan yg meringkuk tidur di depan kamarku.

"Astaga adek hey". Akupun langsung membangun kan nya, menepuk pelan pipi nya.

"Emm". Dia membuka matanya perlahan.

"Astaga kau kenapa tidur disini dek, ish nanti kau sakit bagaimana tidur dilantai. Diluar begini kan dingin".

"Emm". Aku melihat senyuman  dibalik wajah pucatnya, ya adek sudah pucat sekarang.

"Aish jngn terseyum disaat sedang bgini kau pucat sekali". Akupun langsung menggendong nya dan membaringkan di kamarnya. Akupun bergegas ingin menelpon dokter keluarga kami tapi..

"Ani abang, adek gapapa. Tidak usah khawatir".

"Tidak papa bagaimana? Kau pucat eoh ish".

"Emm aku akan sembuh bang, tapi".

"Tapi apa? Jangan memotong pembicaraan astaga kau ini situasi nya tidak tepat dek".

"Iyaiya tidak usah terlalu cemas, aku hanya butuh istirahat dan butuh maaf dari abangku". Dia langsung memasang muka penuh rasa bersalah nya.

"Hufh abang yg minta maaf karena kasar padamu". Aku mengelus lembut pucuk kepala nya

"Emm abang salah faham, kenapa si langsung ngomong lu, gue. Adek tuh gak mau temen2 sekolah tau siapa adek soalnya mereka itu disana terlalu memujakan manusia, terlalu memuji anak dri keluarga terpandang. Adek ga suka digituin bang, risih. Abang tau kan". Ucap nya panjang lebar berusaha untuk menjelaskan, ditambah wajahnya yg memanyun membuat aku tambah gemas dengan nya hihi.

"Ish abang dengar tidak jangan senyum2 aja".

"Eh iya pricess abang dengar, baiklah kalau bgtu. Jadi Abang harus menunggu mu setiap hari di tempat tdi ya, yg kau menunggu ku".

"Ne disitu lebih baik". Senyum nya

"Baiklah tuan putri aku harus segera menelepon dokter".

"Ish dibilang tidak usah, adek gapapa. Adek mau lanjut tidur aja ya, gak mau sekolah dlu". Dia memasang wajah puppy eyes nya.

Adik KesayanganCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang