Setelah keluar dari stasiun, aku biasanya berjalan beberapa meter ke arah kanan untuk menghampiri papa yang bekerja di sebuah kedai. Oh iya, tadi aku dan Lee Jeno sudah berpisah di luar gerbang stasiun untuk berjalan ke tujuan masing-masing.
Kalau aku tidak memaksa, mungkin saja Jeno masih menemaniku sampai ke tempat papa. Aku cemas kalau dia sampai diomeli bosnya tempatnya bekerja karena terlambat.
Akhirnya, aku tiba di tempat tujuanku. Ada dua buah anak tangga di depan kedai yang selalu menjadi pertanda bila saling bertabrakan dengan ujung tongkatku. Perlahan aku menaiki anak tangga itu, seraya meraba-raba dinding dan sekitarnya guna mencari pintu.
Bugh
Aneh, pintunya masih terkunci? Aku berusaha mendorong lagi, tapi pintunya memang tidak bisa dibuka.
"Papa."
"..."
"Papa, ini aku."
Tetap tidak ada sahutan sama sekali, aku jadi bingung. Berulang kali aku memanggil papa dan mengetuk pintu kaca, siapa tahu papa memang belum membuka kedainya.
"Eh, permisi."
Aku menoleh seolah melihat seseorang yang datang.
"Tempat ini sudah ditinggalkan pemiliknya tadi malam. Ada tulisan kedai sudah ditutup permanen."
"Maksudnya—"
"Apa kamu mencari seseorang?"
"..."
Kenapa papa tidak menyampaikan apapun mengenai hal ini? Aku tinggal terpisah dengan beliau karena menghabiskan sisa sewa yang akan berakhir lusa, sementara dia tinggal di sini sekaligus menjaga kedai. Lagi, sebelumnya dia tidak menyampaikan apapun yang penting padaku.
Papa, kamu tidakmeninggalkanku, bukan?
Aku berusaha menutupi keterkejutan ini. Orang yang tadi memberitahuku, lambat laun menjauh meski dirinya ingin menemaniku untuk menunggu lebih lama. Aku kehilangan arah, tak tahu saat ini sudah berapa jam, bahkan papa belum muncul sama sekali.
Aku tidak punya handphone, aku tidak punya uang membeli tiket kereta untuk pulang ke rumah sewa. Aku bingung akan ke mana. Aku—ingin pulang.
Kuusap air mataku yang sudah mendesak untuk bergegas keluar. Aku berusaha yakin, papa tidak mungkin melakukan apa yang sedang menjadi ketakutanku. Meski beliau terkesan dingin, tapi aku yakin dia tak setega itu meninggalkan anak gadis satu-satunya.
Waktu demi waktu berlalu, aku bangkit dari duduk di atas permukaan anak tangga. Meski tanpa tujuan aku terus berjalan, berharap ternyata papa juga sedang mencariku.
Kueratkan genggamanku pada tongkat seraya mengusap dada, berusaha menguatkan kesendirian ini.
"Euna."
"..."
"Euna, kan?"
"Jeno ya?"
"Kamu kenapa bisa sampai ke sini? Bukannya kamu mau ke tempat papa kamu?"
Aku terdiam, enggan mengatakan kesialanku secara langsung padanya.
Because as we grow up, it's better to keep everything private and silent.
"Kamu habis menangis ya, Na? Ada yang mengganggumu, atau bagaimana?"
Pertanyaan Jeno yang bertubi-tubi seolah menjadi penentu kehidupan berat untuk kujawab. Selalu saja begini, membisu dan tak tahu apa yang harus aku lakukan.
Tiba-tiba aku merasakan rintikan air menjatuhi tanganku. Angin berhembus sedikit kencang daripada sebelumnya, lantas Jeno meraih lenganku. "Ayo ke dalam dulu, sepertinya akan hujan deras."
"Tapi kamu sedang bekerja."
"Bukan apa-apa, ayo."
Kami bergegas beranjak ke dalam, tempat di mana Jeno bekerja dengan hawa yang sejuk menyambut kedatanganku. Tempatnya begitu tenang, tetapi aku bisa merasakan beberapa orang melihatku dan Jeno usai sebuah lonceng berdenting di atas pintu yang dibuka.
"Jeno, itu siapa?" Tanya seseorang dengan suara yang ringan. Aku menurunkan tangan Jeno, memberi isyarat untuk meninggalkan aku di sini.
"Maaf manager, dia temanku dan mungkin akan berteduh sebentar di sini. Di luar sana sedang hujan, apa boleh dia bersamaku di sini?"
Hening sesaat. Jantungku berpacu, takut diusir manager atau lebih buruknya—Jeno akan diberi peringatan keras.
"Kamu—"
Kugenggam dengan erat tongkat di dalam kedua tanganku.
"Dia kenapa Jeno?"
"Eh, ini—dia, dia tidak bisa melihat."
"Oh, astaga oke oke. Beri tempat duduk yang nyaman, tapi jangan sampai kerjamu terganggu."
Bahuku yang tadinya tegang spontan terjatuh, menghembuskan kelegaan mendengarnya. Aku membungkuk, mengucapkan rasa terimakasih dan merasakan manager berjalan pergi dari hadapanku dan Jeno.
"Terimakasih, managerSeo." Kata Jeno lagi sedikit riang. "Nah kamu dengar kan tadi? Kamu bisa di sini. Duduk ya, tapi maaf aku tidak bisa menemanimu karena aku masih bekerja."
"Aku minta maaf karena sudah mengganggumu bekerja."
Jeno meraih tanganku. "Jangan selalu merasa seperti ini selama aku yang mau."
Belum sempat aku membalas ucapannya, dia buru-buru melepas tanganku dan pergi. Aku melipat kedua bibirku, membiarkan Jeno kembali bekerja.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.