"Nanti kita pindah ke Norwegia saja ya, Euna."
"..."
"Agar kamu, aku, dan kelak anak kita bisa hidup lebih damai di sana. Di tempat yang baru, dan juga kehidupan yang baru."
"..."
"Kita—kita harus hidup bersama dan tenang. Kamu pantas mendapatkan semua hal-hal baik."
"..."
"Tujuanku untuk saat ini adalah membahagiakan kamu, itu saja."
"..."
"Jadi jangan sedih-sedih lagi, ya?"
"..."
I'll be right by your side even if I die, no matter how hard you'll push me away, I wouldn't go anywhere.
Aku mengerjapkan mata, menemukan langit-langit kamar Lee Jeno lalu tersadar—bahwa aku sangat lelah hingga belum kembali ke kamarku semalam.
Ucapannya yang terlampir tepat sebelum aku terlelap terus terngiang dalam benakku, menandakan makna yang akan kembali membuat bekas indah dalam benak perempuan sepertiku.
Wajahku menoleh ke samping, menemukan pria Lee itu tidur membelakang. Sepertinya Jeno juga kelelahan, karena sebelum kami keluar dia mengaku merasakan sakit kepala.
"Tidak mungkin."
Dahiku mengernyit, mendengar Jeno yang mengatakan sesuatu.
"Tidak mungkin."
Dia kembali meracau dalam tidurnya.
"Tidak mungkin itu aku!"
"Jeno."
Nafasnya memburu.
Aku segera bangkit dan mengguncang bahunya. "Lee Jeno, sadar!"
Kedua netranya seketika terbuka, bersama dengan pelipis yang dibanjiri oleh keringat gelisah. Jeno melihatku kalut, lantas menyentuh tanganku erat.
"Kamu mimpi buruk lagi?"
Seraya mengalihkan tubuhnya untuk tidur terlentang, dia mengangguk. "Sepertinya."
Aku yang masih duduk lalu menghela nafas berat. "Kamu terlalu banyak pikiran, seharusnya aku tidak terburu-buru untuk mencari papa."
Jeno menggeleng. "Tak apa, ini hanya mimpi."
"Tapi kamu jadi kurang tidur kalau begini terus."
Sambil berusaha tersenyum dia membalas, "semuanya cukup."
"Pakai baju kamu kalau tidur."
"Tadi panas, sorry."
Aku mendengkus kesal dan melihat jam dinding, sudah jam tiga pagi. Aku memutuskan untuk turun dari ranjangnya dan kembali ke kamar.
"Kamu mau ke mana?"
"Kamarku." Jawabku singkat sembari meraih segelas air mineral di mejanya.
"Tidur sama aku saja di sini."
Aku menggeleng.
"Kenapa?"
Aku menggeleng lagi karena masih minum.
"Kamu takut sesuatu ya?"
Secara tak sengaja aku menemukan selembar kertas hasil konsultasi psikologis dari sebuah klinik yang juga ada di atas mejanya. Aku berhenti meneguk dan memincingkan mata.
Itu memang benar, nama Lee Jeno tertera di sama.
"Euna." Panggilnya membuyarkan lamunanku.
Aku dengan cepat menggeleng ringan. "Tidak, Jeno. Tak ada apa-apa kok. Aku hanya ingin tidur di kamarku." Kataku dan menatap matanya untuk meyakinkan.
Jeno lumayan cemberut, beralih memainkan ujung selimutnya.
Aku belum berani menanyakan tentang kondisi psikisnya selepas melihat kertas tadi. But I'm gonna make it sure, dia masih menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tak mau memaksa dia mengatakan semuanya, namun aku akan selalu menunggunya agar mengungkapkan itu.
Bila aku meminta Jeno untuk harus selalu mengatakan semua yang telah dia hadapi, aku takut dia akan tertekan. Karena aku yakin, jika aku penting baginya, maka suatu saat nanti dia akan memberitahuku mengenai segalanya di waktu yang tepat.
"Kamu istirahat yang baik, ya?"
Jeno mengangguk.
"Jangan sampai kamu merasa sendiri, ada aku. Kamu selalu bilang kalau kamu ada untuk aku tapi jangan sampai menurut kamu—aku tak selalu ada untukmu."
Jeno terdiam.
"Jeno, kamu dengar, kan?"
Dia melihatku dan kembali tersenyum tipis. "Iya."
Aku mengangguk, berniat kembali ke kamar namun tiba-tiba Jeno menyebut namaku. Aku diam, menunggunya mengatakan hal lain.
"Itu—"
"Kenapa?"
"Lusa nanti, kamu akan menemaniku saat peresmian nanti, kan?"
"Tentu!"
"Hm, okay."
Lagi-lagi dia sedikit ambigu, di pagi buta seperti ini. Yang tidak seharusnya dia tanyakan itu, malah memancing batinku untuk mencurigai sesuatu. Jujur, itu cukup mengganjal dalam benakku akan sikapnya sedari kemarin.
"Kamu tahu kan kalau pemilik perusahaan sebelumnya itu adalah kakekku?"
Aku mengangguk.
"Dan aku cucu yang mengambil alih perusahaannya?"
Aku mengangguk lagi.
"Ah, bagus. Aku hanya ingin mengingatkan kamu."
"Uh—okay."
"..."
"Jeno."
"..."
"Kamu baik-baik saja, kan?"
"Iya."
"Kamu yakin?"
Jeno mengangguk, cukup kecil.
Tidak, dia tidak baik-baik saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sincerely.
Фанфикшн[✓.] Buta yang kualami membuatku tak mampu lagi melihat indahnya hidup. Tak kusangka, kehadiran seorang Barista bernama Lee Jeno mampu menggambarkan eloknya dunia dalam kegelapan ini. © HATESTRAWBERRY
