sincerely, jeno.

1.4K 277 121
                                        

Sebelum mengakhiri semuanya, aku selaku penulis dari buku ini mengucapkan banyak terimakasih kepada para pembaca. Thank you telah meluangkan waktu untuk hadir bersama Jeno & Euna. Maaf jika masih banyak kekurangannya, atau hal-hal yang menyangkut berjalannya cerita ya😉

Oh iya, jangan lupa mampir ke buku yang lain di akun ini! Tysm🕊












Matahari akan tetap terbit, malam akan tetap memiliki bulannya. Air akan terus mengalir kemanapun arah membawanya pergi, udara juga akan tetap sama.

Akan senantiasa menyapu seluruh ruang di muka bumi ini bersama penantinya.

Kamu memang bukan sepenuhnya milikku, tapi sudah tentu kamu itu milik Tuhan. Mungkin, aku pernah terlalu yakin jika aku adalah satu-satunya yang akan abadi di sampingmu. Tapi faktanya, anginlah yang akan selalu menang karena mampu bertemu denganmu tiap hari.

Tanpa mencarimu. Tanpa menanti kembalinya dirimu dalam pedih.

Biarkan dia sendiri, tinggalkan dia. Belajarlah hidup tanpa dia.

Persetan.

Orang-orang pikir itu semua mudah. Orang-orang pikir berbicara tanpa merasakannya itu sangatlah mudah dan mungkin. Mereka tak tahu rasanya tersiksa kehilangan separuh kehidupan, kehilangan rasa nyaman atas perginya sang angan yang nyata.

Mereka bilang aku terlalu berlebihan, lantas kenapa bukan mereka saja yang merasakannya?

Memang benar, Eun. Aku sudah bisa menemukanmu, aku sudah bisa melihatmu.

Lucunya aku tidak bisa merasakanmu. Itu karena aku hanya bisa menikmati wajah manismu dari kejauhan, berpikir dirimu masih sama dengan dirimu dulu.

Aku bukannya sudah tidak sayang. Tapi saat aku mendekat, kamu bisa saja merasa terancam.

Kamu masih sama, dan akan selalu begitu.

Dan aku pun.

Sudah dua tahun aku begini. Menikmati pemandanganmu dari jarak tak jauh, tak dekat, tapi tak pernah merasa bertemu denganmu. Menikmati rasa sakit saat orang lain selalu bisa menyapamu sedangkan aku, untuk muncul di depanmu saja tidak bisa.

Ini semua salahku, namun aku tidak akan pernah lari. Aku akan terus menjagamu, melindungimu, melihatmu menatap awan meski demi itu aku harus berjuang.

Berjuang meluangkan waktu, juga berjuang agar kamu tetap berada jauh dari bahaya.

Tenang, kamu akan tetap aman. Aku sudah berjanji dan aku sudah tahu, bukan kamu yang mau pergi, bukan kamu yang mau seperti ini.

Untuk saat ini, aku hanya bisa membiarkanmu hidup tanpaku. Sama seperti aku tanpamu. Aku yakin, itu berat kan? Hati kita akan tetap sama, tubuh kita tetap merindu satu sama lain. Sayangnya, semesta seolah membenci itu.

Disini, aku memperhatikan dirimu sedang bermain dengan anak kecil yang lucu, entah milik siapa. Kamu tersenyum gemas, mengajarkannya tepuk tangan untuk mengapresiasi hal-hal sederhana.

Kan, sudah kubilang. Kamu tetap sama.

Rambutmu sudah begitu panjang, tapi apa kulitmu masih sehangat saat kita masih bisa berdua?

Terkadang aku belum rela, bagaimana kita harus terpisah bahkan waktu seolah tidak ingin kita berpamitan. Tapi aku rasa itu bukan akhir dari segalanya, walaupun aku pikir ini begitu melawan arus daripada takdir.

"Papa, papa—"

Kamu menunggu anak kecil itu, mengucapkan kata lain.

"Papa—mana mana—?"

"Papamu belum pulang." Jawabmu. "Sabar ya, sebentar lagi."

Aku tersenyum. Itulah sosok yang kuinginkan untuk menjadi ibu dari anak-anakku.

Kamu terus menghiburnya meski dia hampir menangis. Kamu terus mengusap wajahnya meski kamu sendiri selalu menangis sendirian.

Tiba-tiba aku melihat lelaki lain, datang menghampirimu dan anak itu.

"Papa datang."

"Papa, papa."

"Ugh, gendutnya."

"Papa."

"Makasih ya."

Kalian akrab, kalian dekat, aku cemburu. Itu seharusnya aku dan kamu. Aku marah, aku gagal. Semestinya aku yang lebih dulu menolongmu, menemukanmu dan membawamu pergi dari keterpurukanmu.

Sialnya, aku hanya bisa menahan.

"Ayo masuk dulu."

"Sebentar ya, aku mau ke supermarket dulu. Kamu duluan saja bersama Haera."

"Tak butuh bantuan?"

"Isn't a big deal."

"Oke, kalau begitu aku duluan ya. Hati-hati."

Mereka pergi, kamu kembali sendiri. Aku melihatmu menunduk, menyembunyikan raut itu. Kamu sedih?

Aku tentu saja bangkit, ingin melihatmu sedikit dekat, sedikit saja. Ingin memastikan apa kamu baik-baik saja. Tapi mendadak kamu mendongak, melihat ke arahku lalu sangat terkejut.

Tidak, aku tak mau kamu melihatku.

Sudah kuduga, kamu hanya bisa mematung. Seperti tidak percaya dan mengingatkanku kenangan dimana kita, juga tidak bisa menyusul satu sama lain.

Matamu, itu yang kurindukan.

Aku, yang akan selalu mengharapkan.

Dirimu.

—Sincerely, Jeno.

—Sincerely, Jeno

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.














tamat.

Sincerely.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang