Beberapa hari berselang, beberapa hari itu juga aku dan Lee Jeno senantiasa menunggu kabar dari pihak rumah sakit.
Kehidupanku kini sudah terbiasa dengan Jeno, berusaha membantunya sebaik dan semampun mungkin karena aku tak mampu membiarkan kebaikannya begitu saja.
Untuk saat ini aku tidak ikut dengan Jeno seperti biasa, karena dia sedang menghadapi semester akhir dari perkuliahannya. Kurasa dia akan sibuk, maka dari itu aku menunggunya di rumah saja.
Well, sepertinya sudah malam, tapi Jeno tak kunjung pulang. Aku beranjak meraba-raba dinding, berniat menunggunya di luar rumah sewa ini.
Saat mendorong gagang pintu, kudengar suara rintikan hujan dan merasakan angin ringan menyapu wilayah rumah kecil ini.
Jeno, semoga kamu tidak kehujanan di luar sana.
Aku cemas akan cuacanya, takut Jeno sakit atau sedang kesulitan karena terhalang keadaan. Andai saja aku bisa melihat, aku akan menyusulnya sesegera mungkin di stasiun.
Beberapa menit berlalu, dia tak kunjung muncul. Aku bersandar pada dinding, berharap Lee Jeno akan selalu baik-baik saja.
Tap, tap!
Ada suara langkah yang mendekat, dan itu—cukup terseok?
"Jeno."
Bukan jawaban, namun bau alkohol yang lantas menyibak pada indera penciumanku.
Aku melangkah mundur, instingku berkata itu bukan Lee Jeno. Aku bergegas mencari-cari gagang pintu, berusaha menekan tombol sandi secepat mungkin agar menghindari orang asing yang semakin mendekat itu.
"Kamu sendiri ya sayang?"
Pintu segera terbuka dan aku terdorong ke dalam hingga secara tak sengaja tubuhku ikut tersungkur. Aku buru-buru menutup pintu, namun orang itu bergegas masuk menyusulku.
"Pergi!"
"Kamu cantik deh."
"Jangan pegang aku!"
"Ah, kamu tidak bisa melihat rupanya."
Dia menahan satu tanganku, menyentuh dadaku dengan kasar, berusaha membuka pakaianku meski aku terus meronta.
Aku berusaha mendorong dia walau tangannya semakin liar. Aku menangis, memberontak, dan terus mendorongnya.
Brak!
"Bangsat!"
Lelaki tadi tiba-tiba saja menjauh dariku, disusul oleh suara amarah Jeno, dan hantaman keras yang dilakukan berkali-kali.
"Bajingan kamu, anjing! Biadab!"
"Jeno, Jeno—"
"Manusia sialan!"
Dengan air mata yang tak lagi mampu kubendung, aku berusaha bangkit dan mencari Jeno. Kuulurkan tanganku di udara, mencari-cari dirinya untuk segera kuhentikan.
Begitu menemukan lengannya, aku segera memohon. "Jeno, su-sudah— ya." Isakku. "A-aku baik-baik sa-saja."
Tak lama berselang, bunyi luapan kekesalannya terhenti, disusul suara perminta ampunan pria mesum itu, dan kakinya yang terburu-buru melangkah menjauh dari rumah ini.
Rasanya, dan tentu, aku berada dalam kondisi sangat berantakan, ditambah lagi dengan tubuhku yang masih terguncang. Kututup dadaku dengan satu tangan, mundur dari hadapan Jeno cukup lambay.
Aku merasa hina.
"Euna."
Aku kembali menangis, membenci hal tadi.
"Kamu diapakan oleh dia?"
Sialnya aku tak bisa mengatakan apa-apa, aku hanya bisa ketakutan, dan menangis.
Jeno bergegas membawaku masuk, mengunci pintu, dan terus masuk hingga tiba di atas ranjang. Sepertinya bajuku robek pada bagian samping, membuatku terus menutupnya dari pandangan Jeno.
"Maafkan aku, Na. Aku pulang terlambat."
Derai air mataku kian deras, aku benci ini. Dia tidak salah sama sekali.
"Maaf."
"..."
Jeno meraih tubuhku, menyalurkan dekapan hangatnya meski aku hanya membisu.
"Aku ada di sini, tapi aku terlambat. Aku menyesal, seharusnya aku tak perlu menunggu hujannya reda."
"Tak apa, Je—" jawabku tanpa suara, pada dasarnya keadaan ini membuatku tak mampu bersua.
Pelukannya semakin erat, Jeno sangat menyesal.
Setidaknya, kamu kembali. Aku memang ketakutan, namun tak seharusnya kamu yang merasa sebersalah ini.
Deru guntur menggema, kami terus merenungi kejadian tadi. Pria di sampingku tak kunjung berhenti meruntuki dirinya sendiri atas kejadian yang di luar dari kehendaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sincerely.
Fiksi Penggemar[✓.] Buta yang kualami membuatku tak mampu lagi melihat indahnya hidup. Tak kusangka, kehadiran seorang Barista bernama Lee Jeno mampu menggambarkan eloknya dunia dalam kegelapan ini. © HATESTRAWBERRY
