[30] but do you?

913 264 20
                                        

Sepuluh menit sebelum acara peresmian Lee Jeno sebagai pemegang perusahaan selanjutnya, aku malah henyak pada sebuah bilik toilet tanpa arah pikiran yang jelas. Entah sejak berapa lama aku terdiam seperti ini, baik Lee Jeno maupun Lee Haechan terus berupaya menghubungiku.

Ada rasa aneh, dan aku tak paham akan itu. Aku berusaha melawan kaganjalan ini, tetapi tubuhku terus memintaku untuk menutup mulut.

Kamu pulang?

Kiranya seperti itulah bunyi dari pesan singkat yang dikirimkan Jeno. Aku menatap ponsel begitu kosong, mengartikan pesan sesungguhnya dari dalam kepala.

Sebentar. Balasku.

Dreeet—!

Dreeet—!

Jeno memanggil.

Tolong dijawab telponnya.

Dreet—!

"..."

"Euna?"

"..."

"Kamu kenapa? Apa ada yang sedang terjadi?"

"..."

"Kamu sakit?"

"..."

"Kamu kenapa? Please, tell me something."

"Aku, aku tidak tahu, Jeno."

"Euna—"

"..."

"Aku mohon."

"..."

"Sedikit lagi, dan nanti semuanya akan selesai. Paham?"

"..."

"Ayo, temani Lee Jeno di sini."

"..."

"Ya?"

Kutelan saliva secara berat, melawan anomali yang masih mengerubungi pikiranku. Euna, what's wrong with you? Kamu tidak seharusnya seperti ini di acara penting pria yang merupakan calon suamimu.

"Ya, tunggu sebentar."

"Selalu."

Aku bangkit, bergegas melangkah meski pikiranku masih melayang entah ke mana. Bilik toilet itu perlahan kutinggalkan, bergantian dengan lintasan sebuah gedung megah, serta banyaknya ornamen-ornamen elegan yang terpajang di tempat ini.

Nafasku cukup memburu, merasa sedikit pening karena anomali hari ini. Aku berjuang untuk terlihat baik-baik saja, tak ingin mengacaukan hari bersejarah bagi Lee Jeno ini.

Begitu meraih gagang pintu hall, tiba-tiba seseorang mencegat pergelangan tanganku.

"Ikut saya."

Alisku saling bertautan. "Siapa—"

Begitu cepat dia menarikku, membawaku pergi meski aku terus memberontak. Sumpah, aku tak tahu siapa dia dan sialnya, semakin banyak pria yang mengepungku.

"Lepaskan!"

Mereka tak peduli, mereka terus berjalan agar terus membawaku.

Tasku, ponselku, itu semua terjatuh di depan pintu basement gedung. Tak ada orang lain yang bisa melihatku, tak ada siapa pun yang bisa kuajukan sebagai permintaan tolong. Sudah sangat jelas aku akan kalah, mereka semua lelaki dan aku hanya bisa mengandalkan suara ini.

Bagaimana kalau Jeno sudah memulai kegiatan itu tanpa melihatku sama sekali? Bagaimana jadinya kalau Jeno sampai salah paham denganku yang tidak dapat hadir?

Rontaanku berujung pada sebuah Van hitam, duduk terpaksa di dalam sana usai menerima dorongan keras.

"Bawa dia."

Aku reflek menoleh, menemukan suara yang bersumber dari luar kendaraan. Semua pria yang menarikku tadi mengangguk, menuruti ucapannya.

Lalu dirinya muncul sebagai sosok yang mungkin, mungkin memang sangat membenciku. Sebuah paspor dan visa terpampang jelas di depan mataku setelah beliau melemparnya, sesaat sebelum dia berkata, "kamu sama sekali tidak pantas bersanding dengan anakku."

"Tapi tolong—"

"Orang sepertimu harus dibuang dari hidup Lee Jeno."

Nyonya Lee membanting pintu, tidak peduli akan permohonan dan teriakanku untuk dikeluarkan dari dalam Vam ini.

Setidaknya jangan buat aku seperti barang yang akan memang hendak dibuang, setidaknya buat aku pergi tanpa dijadikan sebagai pelampiasan kehebatan kalian.

Pintu sudah terkunci, Van segera melaju meninggalkan gedung. Tanganku terus memukul kaca jendela, namun sang supir dan mobil yang mengikuti tetap berjalan meninggalkan gedung secepat mungkin.

"Jeno—" ucapku lirih dan pasrah melihat kami yang semakin berjauhan.

Berpisah tanpa pamit dan meninggalkan kenangan buruk seperti ini.

Saat menunduk, aku membuka paspor dan menemukan identitasku sendiri. Sebuah tiket penerbangan yang bukan atas kemauanku. Sebuah perjalanan menuju Norwegia, tempat yang jauh, seperti tempat yang akan menyambutku hidup dalam penderitaan lainnya.

Sincerely.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang