[19] angelee

1K 336 35
                                        

"Aku tak tahu, apakah ada orang lain yang sangat bersyukur karena mengenalmu. Aku tak tahu, apakah ada orang lain yang begitu beruntung atas hadirmu di hidupnya.

Teruntuk lelaki dengan nama indahnya,
Lee Jeno.

Terimakasih, berkatmu yang selalu memberikan tangan itu, agar aku bisa merasakan hangatnya langit sepanjang waktu.
Terimakasih, karenamu yang mampu menunjukkan indahnya dunia. Di saat aku bahkan tak mampu melihat wajahmu.

Terimakasih, karena kamu ada."












Kulipat secarik kertas yang sudah terisi oleh segala pesan dan keinginan yang ingin kusampaikan padanya. Kuletakkan secarik kertas itu di atas meja, berbalik sebelum hendak ke atas ranjang. Kuamati kamar yang cukup kecil ini, yang telah menjadi saksi bisu atas perjuanganku selama beberapa waktu terakhir.

Aku tersenyum, mengenang semuanya sebelum lusa nanti aku akan pindah.

Ya, aku memutuskan pindah ke kota lain demi menjalani hidup baru, meninggalkan segala angan yang telah diciptakan oleh tempat sederhana ini. Mulanya aku sudah terbiasa, menganggap semuanya akan segera berlalu. Namun sepertinya aku tak cukup kuat bila terus menetap di sini.

Dalam berita harian akhir-akhir ini, nama Lee Jeno masih berlalu-lalang dalam siaran, juga pikiranku. Tak pelak, aku harus menerima kondisi, sedikit demi sedikit untuk upaya berdamai dengan diri sendiri.

Ponselku tampak berdering, seperti biasa. Menandakan Lee Haechan yang tak akan pernah absen menanyai kabarku meski beberapa waktu lalu kami sempat terlibat hal rumit. Hebatnya dia tampak baik-baik saja, tak termakan oleh sikap tak mengenakkanku saat itu.

Untuk kali ini, aku ingin mengabaikan panggilannya. Aku ingin sendiri, benar-benar sendiri.

Hembusan nafas tak begitu berat perlahan meluncur dari mulutku. Aku lantas berdiri, menuju ranjang dan mengistirahatkan diri. Saat berniat memadamkan lampu, tiba-tiba pintu rumah kami terdengar diketuk.

Aku rasa Haechan tak seharusnya datang selarut ini.

Kakiku kembali berpijak yang kali ini menuju pintu utama. Aku menarik gagang pintu, dan—

Sial.

Pria pemabuk itu kembali datang ke tempatku!

Buru-buru aku menutup pintu, namun sayang, tangannya lebih dulu menahan. Ketakutanku kembali hadir, namun aku berusaha mendorong pintu sekuat mungkin untuk menggagalkan rencananya.

Aksinya tak kunjung berhenti, ucapan anehnya semakin menjadi. Semestinya aku tak selalu mengira Haechan yang akan datang, ini salahku.

Brak!

Tangannya tertarik, tubuhnya terdengar dibanting di luar sana. Aku terdiam usai menduga pria itu sudah dihadang orang lain. Meski jantungku masih berdegup tak karuan, aku perlahan mengintip dari balik pintu yang masih sedikit terbuka. Kutelan salivaku secara paksa, berharap orang baik memang sedang membantuku.

Entah darimana datangnya, kehadiran pria itu membuat diriku mematung. Bahunya yang naik turun karena amarah terhadap si pria pemabuk membuatku mengingat malam di mana aku terancam kala itu.

Lee Jeno, kembali datang menyelamatkanku.

"Kali ini kamu sudah tidak bisa diberi kesempatan, bajingan."

Tanganku masih menetap di pintu, wajahku masih memandanginya tak percaya. Detik ini aku mampu melihat jelas dirinya yang berdiri tegap di depanku.

Seperti dunia fana yang keluar dari dimensinya.

Mendadak terdengar suara langkah lain dari arah tangga di luar sana, ternyata itu petugas keamanan yang berjaga, yang akhirnya bekerja dengan baik di tempat sewa ini.

Jeno tak berhenti memprotes atas ketidakamanan di tempat tinggal ini, seolah meluapkan amarah atas kejadian yang terulang. Aku? Masih diam bak anak kucing yang tak tahu akan kehadiran induknya.

Pria pemabuk segera digelandang agar meninggalkan area ini. Jeno masih berdiri di hadapanku dengan kedua tangan yang berkacak pinggang, serta nafas yang memburu.

Kubuka pintu sedikit lebar lebih daripada tadi, melihat ke arah ubin di bawah sana usai Jeno beralih melihatku. Aku tak berani melihatnya secara lebih jelas, karena jantungku terlalu lemah.

Untuk pertama kali aku melihatnya secara langsung, membuatku tahu, jika aku adalah perempuan yang tak begitu kuat.

"Na."

Aku mendongak, dia membuka topinya.

"Kamu ingat aku kan?"

Lucu kamu. Bagaimana bisa aku lupa dengan suara beratmu?

"Euna."

Aku kembali menunduk, memainkan kuku dari ibu jemariku. Sumpah, aku sangat bodoh begitu berhadapan langsung dengannya.

Tangannya mengulur, meraih satu tanganku tanpa melakukan hal lain.

Lambat laun aku melihat tangan tebalnya, lalu melihat lengan, bahu, leher dan yang terakhir, wajahnya. Perkiraan tinggi badannya melebihi perkiraanku saat masih tak bisa melihatnya dulu.

Perkiraanku dan kenyataan, betul-betul membuatku hanya mampu membisu.

Sejelas itu, malaikat yang pernah menemaniku.

Sejelas itu, malaikat yang pernah menemaniku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sincerely.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang