[22] two men

1K 313 22
                                        

Hari ini adalah hari terakhiru bekerja setelah menunda beberapa waktu atas kepindahanku, dan kini aku harus mengucapkan salam perpisahan pada semua rekan juga Manager Seo.

Aku beruntung dapat bertemu dengan orang-orang baik seperti mereka. Pun, diam-diam aku harus menahan air mataku agar tak menangis di depan mereka yang akan selalu siap sedia membantu di kala aku membutuhkannya.

Bahkan mereka sampai memberiku beberapa hadiah kecil yang disatukan dalam sebuah totebag. Mereka pun mengantarku hingga ke stasiun, mengungkapkan roman wajah akan betapa sedihnya mereka karena kami harus berpisah.

Baru kali ini, banyak orang yang sedih atas kepergianku.

Nantinya, setelah aku sudah ada dalam kereta dan hilang dari depan mereka, aku baru bisa menitikkan tetesan air mata yang pilu.

Tuhan selalu aja menyelipkan haru di setiap waktuku, dan aku bersyukur akan itu.

Pemandangan di luar kereta cukup menghiburku yang sedang menyendiri. Tempat demi tempat dilalui, laju kereta yang kencang terus membawaku untuk kembali.

Aku punya banyak cerita di sini.

"Hai."

Aku menoleh, menemukan fakta bahwa ada Haechan di sampingku.

"Mau pulang?"

"Kok kamu naik kereta?" Lagi.

"Mau modus."

Aku mendengkus kecil.

"Tadi malam aku telepon kamu, tapi tidak diangkat."

"Aku sedang—aku sedang lelah, jadi aku tidur lebih awal dan mengaktifkan mode silent."

Haechan mengangguk paham. "Kamu sungguh akan pindah?"

"Yap."

"Kamu sudah dijemput Jeno ya?"

Aku tersentak, Haechan tahu itu?

"Honestly, tadi pagi aku ingin menjemputmu, tapi aku lihat Jeno keluar dari rumahmu. Right then, menurutku lebih baik aku tidak mengganggu momen kalian."

Aku mengeratkan genggaman pada tali totebag ini. Rasa bersalahku kembali datang, padahal kami seharusnya bisa untuk tetap santai. "Maaf." Ujarku.

"Kamu kenapa sih selalu minta maaf?"

"Karena—"

"Kamu kan tidak salah apa-apa."

"Maaf, aku harus pergi dengan situasi kita yang seperti ini."

Haechan menggeleng. "Kamu tidak pergi, kamu sedang kembali ke tempatmu yang sebenarnya."

"..."

"Lagipula Jeno meminta aku untuk menjagamu, bukan untuk jatuh cinta padamu."

Aku tahu, aku yakin. Berhenti mencintai tidak semudah untuk memulainya. Tetapi kenapa harus aku yang jadi orangnya, Chan?

"Ayolah Na, santai saja. Kamu bikin aku awkward deh!"

"Oh maaf maaf, aku tidak bermaksud—"

"Sepertinya aku harus beri tahu Jeno agar kamu tidak terlalu kaku."

Dia terus berceloteh, menemaniku sampai tiba di stasiun tujuan terakhir. Haechan ikut turun dan mengantarku sampai ke depan gerbang rumah sewa.

"Terimakasih atas semuanya ya, Chan."

"Nomorku masih ada, it means kalau ada butuh kamu bebas menghubungiku. Kalau ada yang macam-macam, aku akan patahkan tulang selangkanya."

Aku terkekeh. "Seram!"

"Bercanda."

Setelah tawa ringanku reda, aku berpamitan dengan Haechan. Aku melangkah masuk dengan dirinya yang masih berdiri di gerbang. Aku melihat pantulan bayangannya melalui pintu kaca, dan ya. Dia benar-benar menungguku menghilang dari pandangannya.

Aku tidak bisa melihat Haechan seperti itu, aku tidak mau menangis lagi.

Setelah mengusahakan langkah ini, aku menadahkan pandangan ke dalam rumah selepas membuka pintu. Ada sepasang sepatu dan sayup-sayup terdengar suara ringan dari arah dapur.

Baiknya, kali ini aku bisa tersenyum lebar dan bergegas masuk ke dalam.

"Kamu tidak mengganti sandi rumah ya?" Kata Jeno seraya memasak sesuatu tanpa melihatku.

Aku tinggal sebentar, menatap bahu bidangnya dari belakang. Gerakan sederhana itu membuatku hanya bisa diam untuk mengamati, terlalu jatuh dalam dirinya.

"Kamu belum makan pasti. Aku masak pasta, sebentar lagi jadi."

"Kamu tidak punya kesibukan di tempatmu?" Kataku sambil mendekat ke sebelahnua.

"Sudah selesai semua." Balasnya dengan meraih sebuah kain di sampingku. "Kamu suka pasta kan?"

Aku mendongak, lalu mengangguk. "Aku makan apa saja."

Jeno tersenyum. "Kamu pulang sama siapa?"

"Sama—"

"Sama siapa?"

"Haechan." Jawabku pelan.

"Oh. Lalu mengenai tempat tinggalmu yang baru, aku sudah negosiasi dengan pemiliknya. Jadi aku bilang kamu batal untuk tinggal di sana."

"Loh, kok—"

"Kan kamu bisa tinggal denganku."

"Kasihan pemilik tempatnya."

"Tak apa, uang ganti ruginya sudah aku berikan. Pemiliknya juga baik kok."

"Astaga, Jeno—"

Jeno berhenti mengaduk saus krim dan melipat kedua bibirnya, menatapku seperti ingin agar aku tidak membantah.

"Oke, dimengerti."

"Anak pintar."

"..."

"..."

"Jeno."

"Ya."

"Aku bisa minta tolong?"

"Apa itu?"

"Sebelum kita menikah, aku ingin mencari papaku."

Sincerely.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang