Frustasi, satu kata yang sudah bisa menggambarkan kondisiku saat ini. Tiga hari sejak Euna menghilang, aku benar-benar tak tahu di mana keberadaannya. Aku sudah meminta semua ajudan mencari jejaknya, tetapi segalanya sia-sia.
Semua barang Euna masih ada di rumah kami, dan dirinya seolah hilang.
Terakhir, ponsel dan tasnya ditemukan pada basement gedung. Dia, sungguh pergi entah ke mana.
Aku harus bekerja, aku harus berusaha, aku harus mencari dia sampai kutemukan.
Belum sempat aku jujur sepenuhnya, meminta maaf padanya mengenai semua kesalahanku di masa lalu, tetapi Euna malah pergi meninggalkanku.
"Lee Jeno."
Aku menoleh, melihat ayah yang masih menemaniku di rumah.
"Kamu harus beristirahat, nanti ayah yang akan membantumu mencarinya."
"Bagaimana aku bisa istirahat bila calon istriku tiba-tiba menghilang, ayaha? Dia orang penting, dia orang terbaikku. Apa ayah bisa menggunakan logika yang sama untuk sebentar saja, ayah?"
"Namun ini sudah malam."
Sudah malam dan bagaimana dengannya? Apa dia berada di tempat yang aman? Apa dia sedang tidak kedinginan?
"Mungkin ini adalah pilihan Euna sendiri."
"Tidak mungkin!"
"..."
"Bagaimana pun kejamnya masa lalu, Euna akan menjadi orang pemaaf dan tak lari meninggalkan kenyataan. Ayah ini kenapa, sih? Ayah sudah tahu kan dia adalah korban dengan luka paling berat saat itu?!"
"Tapi posisi kamu—"
"Persetan dengan posisi!"
"Jeno, dengar ayah. Kakekmu sudah percayakan ini, apa hanya karena perempuan itu—"
"Ambil posisinya, ambil semuanya, asal jangan Euna!"
"..."
"Dia buta karena insiden itu, dia menderita karena harus sendirian, dan sekarang—lagi?"
"..."
"Jangan harap aku akan hidup tenang di atas penyesalan terberatku seumur hidup."
Aku segera meninggalkan ayah yang akhirnya henyak, tak lagi membujukku fokus pada jabatan baru tersebut. Aku masuk ke dalam kamar Euna, mengunci pintunya dan duduk di atas lantai yang dingin.
Euna, kamu di mana?
Apa memang kamu marah karena aku telah berbohong dalam waktu yang lama?
Apa kamu sedih karena aku menyembunyikan itu semua?
Kamu boleh menyiksaku, sepuasmu, seinginmu. Tetapi tidak untuk kamu meninggalkanku.
Aku pernah sesulit itu berpisah denganmu bertujuan meraih posisi ini, demi membahagiakanmu. Namun kenapa, kenapa sekarang kamu sangat marah?
Kamu satu-satunya orang yang peduli pada traumaku, mengerti penyesalanku. Kamu yang berani berjalan di sekitar pecahan kaca yang berhamburan itu untuk mendatangiku, mengatakan bahwa senyumanku adalah hal yang membahagiakan untukmu.
Jadi bagaimana caranya kamu bahagia bila tak melihat aku, dan aku tak tahu di mana kamu saat ini?
Euna, aku mohon, pulanglah ke rumah.
Atau setidaknya, katakan saja kamu ada di mana, maka aku yang akan menjemputmu untuk kembali.
Aku tahu karma, aku ingat aku pernah meninggalkanmu, tetapi jangan sampai aku kembali menambah penyesalan itu seumur hidup. Aku butuh kamu, dan kamu sudah setuju atas janji kita seumur hidup.
Euna, kamu senang ya kalau aku menangis?
Kamu tega kah melihatku tertekan, terisak tanpa kehadiranmu?
Euna, apapun itu, aku hanya mau menukarkan semuanya dan hidup seperti dulu, asalkan itu bersama kamu. Aku rindu melewati rel itu dengan menggenggam jemarimu, mengobrol di atas lajuan kereta menuju stasiun yang lain, bernyanyi dengan gitar tua itu di depanmu.
Nanti, siapa yang akan memperhatikan diriku sebelum kerja? Siapa yang akan memintaku berbaring di hadapannya saat lelah?
Aku berlebihan, baik. Aku akui itu.
Karena sejatinya aku hanya tak mampu untuk hidup tanpa duniaku, perempuan sederhana yang penuh kehangatan sepertimu. Wanita tulus yang selalu lapang menerima hidupnya, wanita indah yang ramah menerima pria dengan trauma peliknya ini, wanita yang begitu baik menjalani segalanya.
Aku tak akan memaafkan siapa pun yang tega menyakitimu, sekalipun orang itu adalah aku sendiri.
Tolong kembalilah.
Janjiku yang belum kupenuhi untuk membahagiakan kamu, dan itu masih banyak.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.