[25] odd-us

911 298 59
                                        

Setelah memperoleh beberapa informasi, aku dan Jeno bergegas meninggalkan rumah untuk mendatangi tempat di mana keberadaan papaku ditemukan. Jantungku berdebar tak karuan, aku menjadi setakut itu untuk menemui beliau.

Jeno terus memintaku tenang walau dia sendiri cukup kewalahan dan ikut gelisah.

Begitu tiba, aku terhenyak. "Kamu yakin dia ada di dalam sana?"

Jeno melirik ponselnya, kemudian mengangguki pertanyaanku. "Lokasi yang dikirimkan ajudanku memberi titik koordinatnya di sini."

"Apa papaku bekerja di dalam sana?" Tanyaku lagi, saat membenarkan pandangan yang menemukan potongan tulisan, Rumah Abu Kebahagiaan.

Aku kembali melihat Jeno, namun ekpresinya semakin kikuk lagi. Beberapa detik kemudian dia berusaha tersenyum, mengajakku masuk bersama ke dalam rumah abu.

Kami berjalan dengan sejajar menuju tempat di mana orang yang diminta oleh pria Lee ini bertemu dengan kami.

Namun dalam sekejap, semua harapanku perlahan sirna. Apalagi saat kami diminta berhenti tepat di hadapan sebuah almari yang bertuliskan nama papa, Shin Cheol.

Hatiku mencelos, merasakan rahang yang bergetar tanpa keinginanku yang tak mampu menahan pukulan batin yang begitu tiba-tiba.

"Jeno—"

Dia menatapku sedih, sontak meraih tanganku.

"Kenapa nama papaku ada di dalam sana?" Tanyaku berusaha menyingkirkan segala pikiran buruk ini. "Tadi kamu bilang kita sudah menemukan papaku. Lalu kenapa namanya ada di sana? Sebenarnya—dia mana?"

"Na."

"..."

"Dia sudah pergi, untuk selamanya."

Bahuku terjatuh, disusul dengan nafas yang memburu berupaya menetap dalam denial. "Mungkin saja kita salah orang."

"Selama ini beliau memiliki riwayat penyakit jantung dan dirawat di rumah sakit di kota lain. Mata itu—mata yang didonorkan ke kamu, sebenarnya milik beliau."

"..."

"Dia pergi, untuk kamu."

Reflek terhuyung ke depan, berusaha menahan tubuh sendiri atas ucapan Jeno.

"Semua ajudanku sudah memastikan itu, dan bukti-buktinya baru saja di kirim ke kantor."

"Jeno, papaku—"

"..."

"Papaku selama ini menderita karena aku, ya?"

Dia menggeleng. "Tidak Euna, dia tak menderita karenamu. Dia sangat menyayangimu."

Saat ini, dunia seperti tidak berarti lagi. Aku kira, aku kehilangan karena telah menemukan kesulitan, namun faktanya lebih daripada itu. Aku yang membuat kesulitan itu terjadi.

Kenapa aku bisa hidup seperti ini disaat nyatanya papa kesakitan dalam detik-detik terakhirnya, tanpa diriku sama sekali?

Aku nyaris terjatuh, membuat Jeno segera meraih tubuhku. Dia memelukku erat, mencoba menenangkan diri yang tak mampu menangis meski sangat sesak dalam dada.

Aku hanya mampu menatap lirih guci yang menyimpan kenangan dan abu papa. Aku memang merasa bahwa kini kami telah dekat, tetapi faktanya, kami sudah terlalu jauh satu sama lain.

"Papa, ternyata Euna yang sudah jahat ke papa. Papa, aku mohon, maafkan aku ya? Aku mohon maafkan aku karena mengira kamu meninggalkanku hari itu, papa."

"Na, tak apa. Ini bukan salahmu, dia sangat menyayangimu."

"Papa maafkan aku ya—?"

Hatiku sangat sakit, meronta meminta waktu untuk kembali mundur. Andai saja aku bisa menghilang dibanding menyusahkan papa, andai saja aku tak terlahir, dan membiarkan semuanya bahagia semestinya.

Andai saja, andai saja bukan aku.

"Jangan seperti ini, Na. Please ya, aku mohon. Jangan salahkan diri kamu, kamu tidak salah apa-apa."

"..."

"Ini semua takdir, kenapa kamu harus menyalahkan diri kamu? Tolong jangan selalu memposisikan dirimu sebagai orang jahat."

"Jeno. Setelah semuanya terjadi, alasan apalagi yang aku punya untuk tetap bertahan?"

"..."

"Tak ada, bukan?"

"Aku, tolong jadikan Lee Jeno sebagai alasan kamu tetap ada. Aku sayang sama kamu, aku butuh kamu."

"..."

"Papa kamu adalah orang baik dan dia yang membuat kamu bisa melihat dunia ini lagi, tolong hargai itu dan aku akan tetap menemani kamu."

"..."

"Tolong ya? Aku mohon kamu tetap di sini."

Kutatapi wajahnya yang penuh roman tak menentu. Dia terus memohon, membuatku semakin sedih dan tak paham, merasa ganjal dan kebingungan. Dia bahkan hampir meneteskan air mata, melihatku ketakutan seolah sangat terguncang.

Jeno tidak seharusnya begini.

Sincerely.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang