Permintaanku untuk mencari keberadaan papa disetujui Jeno, tetapi nanti setelah acara pertemuan dengan keluarganya selesai.
Ya. Tiga hari setelahnya, atau tepatnya hari ini, Jeno membawaku untuk bertemu dengan ayah, ibu, serta dua kakak lelakinya. Aku baru tahu bila Jeno merupakan anak bungsu. Sangat berbeda dari perkiraanku yang menduga jika ahli tahta perusahaan berikutnya adalah anak lelaki pertama.
Dan,
sesuai ekspektasi, aku sangat kurang diterima oleh keluarganya. Aku bisa menerima faktanya, tetapi Jeno kerap mulai meninggikan suara karena marah saat aku pun mulai dikucilkan.
"Memangnya pendidikan terakhir dia apa?" Tanya kakak sulungnya dengan nada meresahkan. "Kamu harus lihat Hwang Yeji, setidaknya perempuan seperti dia bisa sekolah di luar negri."
Sedangkan aku mengalami tunanetra, tepat setelah aku lulus dari SMA reguler.
Jeno menjawab. "Euna sekolah sampai lulus dengan baik tanpa onar. Aku tahu dia rendah hati dan punya attitude yang ramah. Dia sabar, dan tidak suka merendahkan orang."
Kakak keduanya mendecih, tidak memberiku kesempatan untuk berbicara dengan percaya diri.
"Zaman sekarang, sekadar sikap saja tak berpengaruh."
Tiba-tiba Tuan Lee bersua, menegur kakak-kakak Jeno. "Taeyong, Ten."
Nyonya Lee menyahut. "Kenapa kamu masih membela orang miskin, ayah?" Tanpa melihat kami seraya mengiris steak di atas piringnya.
Aku berusaha tersenyum bodoh dengan tangan yang memegangi gelas, dengan tulang rahang yang bergetar menahan sesak. Kakak-kakak Jeno tertawa, puas dengan ibu mereka yang sepertinya setuju.
"Baru kali ini ada yang menggunakan dress murahan ke dalam rumah kita."
Tak lama berselang, tuan Lee memukul meja dan berkata, "biarkan kali ini Jeno yang memilih jalannya sendiri!"
"Ayah—"
Jeno bangkit dari kursinya, menarik tanganku untuk pergi.
"Jeno—"
"Aku membawanya untuk berkenalan dengan kalian, bukan untuk kalian jadikan bahan ejekan."
"Jangan sombong, penerus tahta."
"Mau bagaimana pun juga tak ada yang bisa seperti Euna. Aku tidak gila akan kedudukan dan perempuan seperti yang kalian lakukan. Setidaknya aku berterimakasih karena kalian ingin menghadiri makan bersama ini."
Aku segera bangkit karena Jeno memaksaku untuk ikut. Beberapa kali aku membungkuk mintamaaf atas sikap Jeno yang mungkin saja tak sopan ini, tetapi aku pun tak punya pilihan lain.
Kami melewati lorong-lorong besar rumah megah Lee untuk mencapai pintu utama dan keluar. Jeno masih geram, aku tak berani melihatnya. Setibanya di samping mobil, aku melepas tangannya.
"Jeno, cukup."
"Cukup apa?"
"Kamu tidak boleh seperti itu pada keluarga kamu, mau bagaimana pun juga mereka orangtua dan saudaramu."
"Orangtuaku hanya ayah."
"Jeno—"
Dia mengusap wajah sedikit frustasi. "Kamu kenapa malah membela mereka?"
"Jujur, aku tak apa dengan ucapan mereka. Lagipula, bukannya yang mereka katakan itu benar?"
Jeno memandangku skeptis. "Kamu tak boleh merendah pada mereka, jangan rela dunia semakin padamu."
"Karena mereka, aku jadi semakin tahu akan batasan diriku."
Dia menggeleng, memegangi kedua bahuku. "Jangan sampai semua omongan jelek mereka masuk ke dalam dirimu. Please, aku sangat tahu segala baikmu dan jangan aku tak mau kamu dipengaruhi oleh mereka."
"..."
"Aku mohon."
Aku tersenyum, memegangi kedua tangannya erat. "Iya."
Jeno menghela nafas lega. "Aku tak mau pisah denganmu. Nanti kalau kita sudah nikah, kita tak akan tinggal bersama mereka. Aku jamin itu."
"Iya Jeno, terserah kamu ya."
Dia beralih mengusap pipiku. "Kenapa sih aku bisa dapat perempuan sebaik dan sesabar sepertimu?"
"Kenapa sih aku bisa dapat laki-laki seteguh dan sebertanggungjawab sepertimu?"
Jeno mendengkus, menangkup pipiku cukup gemas. "Aku tak sabar ingin menikahimu."
"Hm!"
Dia terkekeh tanpa sebab, aku bingung.
"Kenapa?"
"Gemas."
"Sudah."
"Iya, sudah."
"Oke."
"Jadi, sekarang kamu ingin mencari papamu?"
Ah, benar juga. Aku harus buru-buru mencari beliau sebelum pernikahan kami digelar. Lantas aku mengeluarkan sebuah foto lama dari dalam tasku dan memperlihatkannya pada Jeno. "Ini."
Jeno meraih selembar kertas lumayan tebal itu dan mengamati wajah papa. Awalnya biasa saja, tapi semakin lama raut wajahnya semakin aneh.
"Kamu kenal papaku?"
Dia tak menjawab, sekadar menatapku nanar.
"Jeno, ada apa?"
"..."
"Jeno—!"
"Euna, kamu bermarga Shin, bukan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sincerely.
Fiksyen Peminat[✓.] Buta yang kualami membuatku tak mampu lagi melihat indahnya hidup. Tak kusangka, kehadiran seorang Barista bernama Lee Jeno mampu menggambarkan eloknya dunia dalam kegelapan ini. © HATESTRAWBERRY
