I've something nice to say, pagi tadi ada dokter mata yang menawarkanku untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Aku tak tahu harus berkata apa, namun yang jelas ini sangat membahagiakanku.
Kilas balik setelah kejadian yang membuatku mengalami kebutaan, aku tak melakukan perawatan secara berkelanjutan. Mengingat papa hanya bekerja di kedai, membuatku memutuskan untuk tidak menyelesaikannya.
Walau, mungkin belum begitu pasti mengenai apa yang akan aku peroleh, tetapi kata dokter itu, beliau akan menungguku di rumah sakit tempatnya bekerja!
Kata Jeno, pagi berganti siang, lalu sore, hingga malam pun tiba. Aku masih sangat senang dan antusias. Bak terdapat keajaiban yang muncul setelah pakaianku tertimpa minuman dari anak si dokter tadi pagi.
"Bahagia ya?" Tanya Jeno seraya mengunci pintu kafe yang menjadi tugasnya hari ini.
"Sekali, Jeno."
"Aku juga bahagia sekali melihat kamu tersenyum seperti ini."
Setelah Jeno meraih tanganku untuk pulang, aku menjawab. "Seperti orang gila, bukan?"
"Tidak, justru orang lain ikut bahagiankarenamu."
Seperti biasa, meski ini baru hari kesekian kami bersama, aku dan Jeno akan menuju stasiun terlebih dahulu. Di sela-sela perjalanan, kami akan terus mengobrol, bercanda, tertawa, mengabaikan orang-orang yang mungkin tengah menatap kami heran.
Tahu tidak apa yang membahagiakan selain bertemu dokter mata yang baik?
Benar, melewati hari-hariku yang tenang bersama Lee Jeno. Duniaku mungkin sekadar gelap hari ini, tetapi suara Jeno yang selalu menjelaskan segalanya bak penerang bagi jalanku. Tangan Jeno yang selalu hangat, selalu memberiku kenyamanan yang bahkan tak pernah kuharapkan sebelumnya.
"Na, bulannya lagi terang."
Baiklah, sudah waktunya Jeno kembali menggambarkan situasi saat ini. Terdengar deru mesin kereta yang melaju, menantikan genggaman tangannya yang mengerat.
"Sekarang cukup ramai di luar."
"Oh ya?"
"Iya. Mungkin karena hari ini hari spesial."
"Hm?"
Jeno terkekeh, tak melanjutkan apapun.
Hari apa? Apa ada perayaan hari besar sekarang? Atau sudah memasuki perayaan akhir tahun?
Sejak membahas mengenai hari, Jeno lebih banyak diam. Aku merasa sedikit aneh karena dia hanya menanggapi dengan dehiman, ya, atau tidak.
Ketika kami keluar dari stasiun, beberapa meter sebelum mencapai rumah, Jeno memintaku menunggu di tepi jalan raya.
"Mau ke mana?"
"Eum, ada."
Kamu tidak mungkin meninggalkan aku, bukan?
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku hanya sebentar kok!"
"Ya, aku tunggu."
"Baiklah."
Seperginya Jeno, hanya suara kendaraan yang berlalu-lalang yang mampu menyapu pendengaranku. Angin sepoi-sepoi ikut menyentuh kulitku, yang berlagak sok mengamati sesuatu agar tak terlihat aneh.
Dia benar, tak sampai sekian menit dia kembali.
"Sudah."
"Apa yang kamu lakukan?"
"Membeli cake."
"Eh?"
"Hari ini ulang tahunku, Euna. Hehehe."
"Ah, kamu ulangtahun?"
Tanpa menjawab pertanyaan untuk memastikannya, Jeno meraih tanganku agar kami kembali berjalan. Kali ini kami tak langsung pulang, namun dia membawaku ke sebuah tempat yang mungkin bisa kutebak bila tempat ini adalah taman kota.
"Mari kita rayakan ulang tahunku."
Aku mengangguk semangat.
Jeno terdengar menyalakan sebuah pemantik, memintaku duduk di sebuah bangku agar dia dapat mengurus cakenya sebelum memintaku bernyanyi.
"Happy birthday Jeno, happy birthday Jeno. Selamat hari ulang tahun, happy birthday Jeno."
"Yeeey."
"Ayo buat harapan dulu!"
Jeno membuat harapan dan aku menunggunya. Tidak membutuhkan waktu lama, dia segera mengatakan, "amin."
"Semoga yang diharapkan Lee Jeno akan tercapai dengan baik. Terimakasih, Lee Jeno, kamu sudah menjadi temanku, teman Euna. Terimakasih, Lee Jeno, kamu dengan banyak kehangatan menerima kehadiranku."
"Na, jika nanti kamu sudah bisa melihat lagi, kamu akan tahu seharusnya aku yang banyak berterimakasih karena kamu ingin bersamaku."
Dahiku mengernyit. "Hm?"
"Karena aku sendiri punya banyak kekurangan. Tapi sejak kamu ada, aku tak lagi teringat akan kekuranganku."
"..."
"Nanti jika kamu sudah bisa melihat, jangan lupa untuk tetap bersamaku ya?"
"Aku tidak akan melupakanmu, tidak akan."
"Semoga."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.