[28] issa bad liar

949 271 38
                                        

🎶 The Overtunes - I Still Love You

Jalanan malam ini cukup ramai, dipenuhi banyak manusia yang berlalu-lalang. Kulihat orang-orang itu tersenyum, ada yang hanya menatap kosong, atau masih sibuk dengan ponsel masing-masing. Aku tak tahu, apakah mereka semua memang begitu, atau sebatas keharusan agar terlihat baik-baik saja.

Tak seperti saat aku berangkat menuju klinik, perjalan pulang kali ini aku hanya bisa diam memikirkan segalanya. Aku harap Haechan bisa mengerti dengan situasi kenyataan yang sulit, yang tak begitu mudah untuk kutelan mentah-mentah.

"Aku paham, Na."

Aku cukup termangu, kemudian menoleh pada Haechan.

"Terkadang berat untuk kita tahu sebuah kenyataan jika bukan diberitahu oleh orangnya langsung, bukan?"

Aku menunduk, memainkan jemariku yang menjadi rumit. "Aku yang terlalu penasaran dan tetap berusaha mencari tahu, padahal seharusnya tidak begitu."

"Tidak, tidak." Haechan menggeleng. "Kamu berhak tahu, kok."

"..."

"Kamu merasa tidak, life's fun until you start thinking?"

Aku mengangguk ringan, merasa ucapannya memang sangat benar.

"Tapi kalau tidak dipikirkan, ya kamu tak akan mendapat pembelajaran apa-apa."

Aku kembali menatap pria ini, dan memandangnya lamat.

"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Aku yakin kamu itu tahu batas dan semua orang yang kenal akan menghargai kamu, seperti yang kamu lakukan."

"..."

"Orang baik akan menghargaimu bukan karena kamu memiliki apa, tetapi itu semua akan sikapmu dan dirimu yang selalu menjaga diri."

"Chan—"

Dia mengulum bibirnya, sambil mengangkat kedua alis jahil itu.

"Terimakasih banyak ya. Aku tak tahu harus berkata dan berbuat apa untuk membalas kebaikanmu."

Haechan menggeleng. "Tak ada apa-apanya, dan—oke. Kita sudah sampai di rumah kalian."

Aku melihat ke arah gedung apartemen tempatku dan Jeno menetap, lalu melihat Haechan lagi. "Kamu tak ingin mampir?"

"Thank you, tetapi sepertinya malam ini kamu harus menemani Jeno."

"..."

"He needs you."

"..."

"For every single day."

Iya, dan aku sudah berjanji akan hal tersebut berkali-kali. Kuhela nafas ringan dan membuka pintu mobil ini seraya berkata, "terimakasih sudah menemaniku ya. Maaf aku merepotkanmu."

Haechan menggeleng lagi. "Go get him."

Aku tersenyum, mengiyakan ucapannya. Akhirnya aku menutup pintu mobil setelah Haechan berpamitan pulang, dan melajukan kendaraan besi itu keluar dari kawasan ini ini.

Selepas Haechan pulang, aku melangkah gontai menuju tempat tinggalku dan Jeno.

Masih berat untuk bertemu dia lagi setelah faktanya terungkap. Aku tak tahu harus merespon apa ketika aku sudah paham dengan kondisi Lee Jeno yang sebenarnya.

Begitu tiba di depan pintu dan sudah memasukkan sidik jari pada mesin pendeteksi, benda persegi panjang berat ini terbuka. Kutelan saliva lumayan berat, melangkah masuk ke dalam rumah kami.

"Aku pulang."

"Euna—!" Sahut Jeno ceria dari dalam dapur begitu mendengar suaraku.

Aku buru-buru menyusulnya dan menemukan Jeno sedang memasak sesuatu. Sedikit malu lagi, karena yang paling sering memasak adalah dia, bukan aku.

"Kamu suka udon?"

"Pasti."

Jeno tersenyum dan menatapku yang sudah ada di sampingnya. "Kamu dari mana?"

"Aku dari toko furniture, hendak melihat-lihat barang untuk ditaruh di ruangan barumu."

"Wah, kamu sendiri?"

"Bersama Haechan."

Jeno mengangguk. "Berarti kamu sudah makan?"

"Sekadar mengemil."

"Lapar ya pasti?"

"Tentu."

Jeno tertawa renyah lalu mengusap bahuku lembut dan mengecup puncak kepalaku. "Sedikit lagi ya."

Aku berdehem.

Dirinya pun kembali memasak, padahal baju kerjanya belum diganti. Yang tadinya aku ingin mandi, kini berujung henyak di dekatnya sambil mengamati.

"Mungkin anda sudah tahu, saat remaja Lee Jeno tidak sengaja terlibat dalam insiden di Youth Departement Store. Tidak ada yang menjadi korban jiwa, tetapi ada seorang gadis yang mengalami kebutaan dan itu diketahui oleh Lee Jeno."

Kalau memang benar dia terlibat dalam insiden itu, aku harus bagaimana? Dia telah menghabiskan hari-harinya dengan trauma dan kesepian. Tetapi di sisi lain, aku pernah menghabiskan hari-hariku dengan melepaskan masa muda dan harapan karena insiden tersebut.

Aku berharap suatu saat nanti aku bisa tahu, apa yang sebenarnya terjadi saat itu.

Jadi, apakah ini yang namanya Tuhan menghancurkan rencanamu untuk digantikan dengan rencana lain?

Begitu memikirkan segalanya, aku juga akan selalu teringat dengan papaku. Aku belum paham dengan apa yang sebenarnya kurasakan.

"Euna kenapa?"

Lamuyanku reflek buyar, Jeno ternyata memperhatikanku. "Um?" Dehemku. "Tak apa."

Dia tampaknya tak begitu yakin, tetapi aku berusaha menutupinya. Aku terus menjawab obrolan ini, merasakan perbedaan di saat kami tengah menyimpan kebohongan masing-masing.

Sincerely.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang