Dua hari berlalu, aku kembali memijakkan kaki untuk beranjak dari tempat tinggal Lee Jeno. Aku ikut dengannya ke tempat kerja, seperti adik yang terus mengikuti kakaknya ke mana saja.
Katanya, lebih baik seperti ini daripada aku hanya kebingungan selagi menunggunya di rumah.
Aku selalu mendengarkan cuitan-cuitan dari bibir Jeno yang pasti akan selalu berbeda di tiap waktunya. Dia tak pernah diam, kecuali itu ketika dia tidur atau sedang kerja, berupaya menjadi temanku sepanjang waktu meski aku tak ingin dia terbebani.
Perlahan kulupakan kesedihan tempo hari, tapi tidak dengan pikiran akan bagaimana ke depannya aku bisa tetap hidup.
We cut between the winds
Here and there, far away, far, far away
(to the end)
I'm so good with you~
Mustahil bukan jika aku terus menjadi parasit dalam harinya?
"Euna."
"Ya."
"Kamu mau tahu? Cuaca pagi ini cerah. Kamu dengar air sungainya mengalirkan?"
"Eum, ya."
"Langit biru, ada pesawat loh."
Aku tersenyum, membayangkan gambaran yang sedang Jeno deskripsikan.
"Sudah beberapa meter dari stasiun, ada kebun bunga yang bermekaran."
"Oh ya?"
"Iya, cantik."
Aku tersenyum.
"Kamu juga."
Mungkin ukiran di bibirku ini melebar, sampai mataku ikut menyipit karenanya. Aku ingin berkata bahwa dia tampan, tapi sudah tidak mungkin aku mengatakan sesuatu yang belum pernah kulihat.
Itu namanya bohong.
Tak lama berselang, Jeno menuntunku masuk ke dalam kafe itu lagi. Aroma kopi dan wangi roti memenuhi indera penciumanku. Hm, mereka sudah mulai beraktivitas.
"Euna, manager bilang kamu menunggu di sudut sini saja ya? Kalau kamu bosan atau mungkin mau sesuatu, kamu tekan ini."
Ting!
Aku mengangguk paham. "Bel ya? Ya, aku paham, tuan."
"Hahaha, baiklah, nona. Aku akan langsung bekerja dulu ya."
Aku berdehem. Duduk di samping meja seolah melihat keluar kafe. Kudengar banyak alunan lagu yang di putar, merasakan beberapa pelanggan mulai berdatangan. Masih tenang, masih ada kehangatan mentari yang menyelimuti.
"Hei."
Sebuah tangan mengetuk mejaku. Aku berdehem, lagi.
"Aku Jeno." Katanya seraya meraih tanganku.
Aku tak tahu ada apa ini, tetapi dengan reflek aku menarik tangan karena merasa itu bukanlah Lee Jeno.
"Siapa kamu?"
Dia tertawa.
Menyebalkan!
"Haechan, jangan ganggu dia." Terdengar teguran Jeno yang sedikit mendingin. "Kamu terlalu jahil, dia cukup sensitif."
"Aku hanya mencoba kenalan."
"Nanti saja."
"Kenapa?"
"Kerja."
"Kan masih bisa mencuri waktu."
Jeno berdecak sebal, hening sesaat. Setelah itu Haechan, orang yang berada di hadapanku, beralih bangkit seraya meminta maaf. "Oke, that's my bad. Maaf ya."
Seperginya Haechan aku kembali sendiri, memainkan jari di atas permukaan meja. Dua, tiga, berlama-lama kemudian, aku tidak sengaja menjatuhkan bel di depanku.
Dengan segera aku berjongkok, meraba-raba lantai, guna mencari-cari bel tadi.
Tiba-tiba kakiku diinjak oleh seorang anak kecil yang berlari dan menumpahkan sesuatu yang cair di bahuku.
Ouh, sedikit panas!
"Uh, maaf!"
"Ah, ya. A-apa kamu—"
"Euna!"
"Maaf, aku tidak sengaja menumpahkannya, maaf."
"Ini cokelat panas, kamu harus berhati-hati dengan sekelilingmu. Na, kamu bisa berdiri kan?"
"Iya Jeno, tidak apa. Jangan marah padanya."
Seketika suasana menjadi agak ramai daripada tadi. Mungkin saja beberapa pasang mata tertuju pada kami, bahkan beberapa teman waitress Jeno pun ikut membantu kami.
Terdengar suara orangtua anak tadi datang, mengulang permintamaafannya berkali-kali. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, karena Jeno sendiri berusaha yang menghadang orang-orang dariku.
"Dia tidak bisa melihat, jadi maaf bila responnya cukup lambat. Dik, tolong lebih waspada lagi dengan langkahmu."
"Iya kak, sekali lagi aku minta maaf."
"Maaf untuk ini, tapi—apakah dia tunanetra?"
"..."
"Apa boleh saya lihat? Kebetulan sekali, saya seorang dokter mata."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sincerely.
Fanfiction[✓.] Buta yang kualami membuatku tak mampu lagi melihat indahnya hidup. Tak kusangka, kehadiran seorang Barista bernama Lee Jeno mampu menggambarkan eloknya dunia dalam kegelapan ini. © HATESTRAWBERRY
