[15] this is fact

1.1K 347 48
                                        

Sebulan kemudian.

Kepergianmu akan selalu membekas di dalam lubuk hatiku. Kamu yang meninggalkan aku akan selalu terkenang dengan semua memori berbentuk suara indah itu.

Kini aku hanya bisa melihat wajahmu melalui foto yang selalu kamu abadikan di kala kita masih bersama. Kamu menghilang, secukup itu untuk tega meninggalkanku terpuruk usai menyematkan janji bila kamu akan selalu ada di sampingku.

Aku tidak memaksa, namun aku sedikit kecewa.

Meski begitu, dunia akan tetap berjalan seperti semestinya. Dulu, aku dengan mudahnya merelakan penglihatanku terenggut, didampingimu dalam redupnya cahaya.

Sayangnya, merelakanmu pergi sepertinya lebih dari kesulitan, Lee Jeno.

Aku terus berusaha untuk hidup dalam sendirian. Berjuang untuk diriku dan setidaknya mencarimu. Walau berbekal keadaan yang terbatas, aku tak akan pernah berhenti menanti kepulanganmu. Aku berharap, suatu saat nanti kamu akan muncul meski itu terdengar sangat mustahil.

Saat ini, aku sedang berjaga untuk bagian transaksi di kafe, tempat dulunya Lee Jeno bekerja. Atas permintaanku untuk melamar pekerjaan, Manager Seo sangat terbuka dan menerimaku menjadi bagian dari mereka. Para waitress yang telah cukup mengenalku ikut senang melihatku kembali dengan mata baru ini.

Tetapi, sudah beberapa waktu berlalu, jiwaku seolah belum bisa mengenali diri, seperti pada keadaan saat bersama Jeno.

Sejauh apapun Jeno, dia masih menjadi hal yang menguasai pikiranku, benar-benar permanen di dalam lubuk jantungku.

Bodoh? Mungkin, memang ya.

Kusandarkan diri pada dinding usai melayani beberapa pengunjung yang sempat membludak. Hari ini cukup melelahkan, banyak orang yang mengunjungi kafe demi mencoba menu baru.

Pandanganku mengedar, melihat apa saja yang bisa kutemukan dengan sepasang netra ini.

Cuaca hari ini begitu cerah, ada pesawat yang terbang di antara awan, orang-orang yang berjalan santai di luar sana, serta dedaunan gugur ke atas tanah karena musimnya.

Tanpa kusadari, tubuhku tiba-tiba tersentak.

Lelaki berpostur tinggi yang sangat kukenal, berdiri dengan topi yang menghalangi sebagian wajahnya. Dinding kaca kafe bak memancarkan gambar tak nyata. Ia seperti mengamati tempat ini dengan mata yang berada dalam satu wajah bersama rahang tegasnya.

Aku segera bangkit, berjalan dengan cepat untuk menyusulnya. Aku harap dia benar-benar orang yang sedang kucari.

Sempat aku terhalang oleh beberapa hal yang menghambat langkahku. Tetapi aku tak cukup menyerah hanya karena hal kecil itu, hingga aku bisa meraih gagang pintu kafe.

Dia sudah tak ada di sana.

Padahal aku sangat yakin bila pria itu adalah Jeno. Atau mungkin—aku yang terlalu terbayangi olehnya?

"Euna."

Aku menoleh, menemukan Manager Seo yang memberi isyarat. "Kasirnya."

"Ah, maaf, manager."

Beliau mengangguk, kali ini memaafkan keteledoranku usai membiarkan kasir itu kosong. Aku menggeleng, membuang sejauh mungkin akan bayangan tadi.

"Maaf anda telah menunggu, terimakasih telah berkunjung."

Beruntungnya, setelah melayani pelanggan tadi ia tidak kesal. Aku menghela nafas berat, mengutuk ketidaksiapanku atas hari ini.

Kulirik sebuah tv yang menggantung di sudut sana. Layarnya menyiarkan berita keluarga konglomerat yang tengah mempermasalahkan perihal tahta dan perusahaan usai pemiliknya meninggal dunia.

Aku tak begitu mengenal siapa mereka, yang mungkin saja mereka adalah orang penting.

Saat aku ingin melanjutkan pandanganku keluar sana, satu tokoh penting disebutkan pada layar tv, menarik seluruh perhatianku begitu cepat.

Pemuda ini ternyata adalah anak terakhir dari sang pemilik perusahaan terbesar ketiga. Akankah menjadi pemegang selanjutnya?

Tanganku terjatuh ke udara, menemukan siapa yang dimaksud dari headline berita tersebut. Wajahnya terpampang dengan jelas, menampar batinku sekeras yang ia bisa.

Dia, Lee Jeno.

Orang yang selama ini kucari akan kesederhanaannya yang selalu menemaniku.

Orang yang selama ini kucari akan kesederhanaannya yang selalu menemaniku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di luar sana, ia masih berusaha untuk menjaga dan melindungimu.

Sincerely.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang