Alunan lagu yang begitu sendu ini sedang terdengar pada kedua telingaku, alunan yang sayup-sayup bersumber dari beberapa sudut stasiun. Alunan ini cukup menenangkan bagiku yang penat setelah seharian bekerja.
Beberapa kereta menimbulkan deru yang bukan menjadi tempat tujuanku, tak cukup kuat untuk membuyarkan lamunan dan pikiran yang kosong ini. Benar-benar kosong, tanpa sesuatu yang istimewa di benaknya.
Tak sengaja aku melirik kereta yang baru datang, dan ternyata itu kereta akan membawa para penumpang menuju stasiun dekat tempat tinggalku. Kueratkan genggaman pada tas jinjing ini, bersiap masuk ke dalamnya.
Begitu tiba,
"Na."
Aku menoleh, menemukan sosok Lee Haechan untuk kesekian kali.
"Aku hampir terlambat."
"Loh, kamu kenapa naik kereta? Ke mana mobilmu?"
"Masuk bengkel."
"Lagi?"
Haechan mengangguk.
"Kamu apakan sampai mobil itu masuk ke bengkel lagi?"
"Biasa, sudah lumayan lama juga kan mobilnya."
Kuhela nafas di depan Haechan, cukup iba dengan kendaraan berwarna merah itu. Akhirnya aku dan Haechan terbawa dalam obrolan ringan selagi kereta terus melaju, larut dalam kebersamaan dan candaan khasnya.
Sesekali aku tertawa, melupakan lelah dan jenuh yang memeluk diri. Sesekali juga, memoriku dan suara pria lain datang, menurunkan kesenangan dalam diri yang baru saja singgah ini.
Aku berusaha menutupi semuanya, enggan bila saja Haechan akan menganggapku sebagai perempuan aneh yang tak kunjung keluar dari zona masa lalunya.
At least, I tried.
Wajah manis Haechan dengan pelan membuatku terbayang akan rasa bersalah. Dia berusaha menghiburku walau bukan dia yang menetap di dalam benakku. Dia berupaya, namun hingga saat ini, bukan dia yang kuinginkan.
Tidak, tolong jangan jadi perempuan yang jahat untuk bermain di atas perasaan pria baik sepertinya.
Jadi—bagaimana aku bisa menyadarinya? Geriknya mudah terdeteksi di dalam instingku, perilakunya yang sederhana namun istimewa, dapat menjawab segalanya. Aku tak bodoh, aku pun tak begitu mudah menebak.
Tapi semuanya sungguh nyata.
Aku tahu mobil Haechan sebenarnya baik-baik saja, dan dia akan memarkir mobil itu sedikit jauh dari stasiun tadi. Aku tahu, aku pernah melihatnya.
Di sisi lain aku berharap, Haechan tak akan melakukan semua dugaanku.
Begitu tiba di tempat tujuan, masih bersama tawaan yang renyah ini, kami turun dengan dirinya yang masih bertahan ingin menemaniku sampai ke depan rumah.
Haechan yang seperti ini membuatku semakin merasa bersalah.
"Na, kamu baik-baik saja, kan?"
Satu hal yang sangat menonjol, lagi, dari dia adalah, dia selalu menanyakan hal itu. Setiap waktu.
"Aku harap kamu akan selalu begitu ya."
"Chan."
Dia berdehem.
"Apa aku boleh menanyakan sesuatu?"
Dia diam, berjalan di sampingku melewati trotoar yang dihiasi oleh beberapa deret pepohonan subur. Semoga ini pertanda berupa izinnya untuk aku bertanya.
"Apa kamu tidak terbebani berteman denganku?"
Haechan menghentikan langkahnya, membuatku aku melakukan hal serupa. Dia memiringkan kepalanya.
"Aku harap kamu ada bersamaku—bukan karena pesan dari dia yang dulu. Aku harap kamu ada di sini, detik ini, karena memang aku adalah temanmu."
"Ya, aku sudah lupa dengan pesannya."
"Lagi—aku harap, kamu tidak melangkah sejauh yang kamu inginkan. Aku bisa sendiri, kok."
"Maksudnya?"
"Bukannya aku tidak suka, bukan. Aku senang kamu selalu ada, tapi—"
"..."
"Aku merasa berat."
"..."
"..."
"Euna, apa aku boleh jujur?"
"..."
"Aku sebenarnya ada untuk kamu, itu murni karena aku suka—"
Aku mundur selangkah, dia reflek terdiam.
"..."
"Jangan, Chan."
"Kenapa?"
"..."
"Is it a sin?"
Entah mengapa, genangan air ini tiba-tiba saja muncul di pelupuk mataku. Lantas menyebabkan kehadiran Haechan sedikit buram di dalam pandanganku.
Dia memainkan lidahnya pada sudut bibir untuk mengambil jeda sejenak. Lalu berkata, "kamu tidak bahagia saat bersama?"
Aku menunduk.
"Tak apa, lebih baik kita saling jujur malam ini."
"..."
"Tak apa, percaya padaku."
"Kalau kamu bicara tentang bahagia, aku bahagia bersama kamu. Tapi Chan, aku tidak bisa untuk terus-menerus merasa jahat karena di saat kita bahagia bersama—"
"..."
"Aku akan selalu teringat pada Jeno."
Rautnya sontak menekuk, kecewa dengan nama yang kusebutkan.
Gemuruh kutukan untuk diriku sendiri muncul dalam dada. Aku mengecewakan dia yang selalu menemaniku.
Tapi bagaimana caranya aku harus selalu terlihat palsu dan sekejam itu? Bagaimana caranya? Ada orang lain yang membuatku tertawa, tapi itu akan berujung pada kilas balik dan segala kenangan itu.
"Jangan sampai kamu hanya cinta kenangannya, bukan orangnya."
"Itu bukan cinta—"
"Kamu hanya tidak menyadari itu, Euna."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sincerely.
Fanfiction[✓.] Buta yang kualami membuatku tak mampu lagi melihat indahnya hidup. Tak kusangka, kehadiran seorang Barista bernama Lee Jeno mampu menggambarkan eloknya dunia dalam kegelapan ini. © HATESTRAWBERRY
