Siang hari yang cerah itu terasa lambat laun menjadi senja yang menggelap dan begitu dingin. Udara usai hujan membawa heningnya masih menyisakan sunyi, pun beberapa memori buruk yang telah terjadi.
Namun walau begitu aku tetap bersyukur, setidaknya kini ada yang menemaniku melangkah, pun menggenggam jemari kananku.
Lee Jeno, dia masih ingin bersamaku.
Tongkatku dilipat Jeno dan disimpannya ke dalam tas, membiarkan kakiku melangkah bebas karena ada dirinya yang menuntun perjalananku. Sesekali Jeno memberiku jokes recehannya, menghibur kesedihan seorang gadis yang sedang kehilangan arah dan papanya.
"Nih, aku punya satu tebak-tebakan lagi."
"Apa itu?"
"Kendaraan umum apa yang paling imut?"
"Hm, kan semua kendaraan besar."
"Ada yang imut."
"Apa?"
"Kereta api, cute cute cute."
Otomatis aku tertawa kencang padahal itu hanya ucapan sederhana. Jeno ikut tertawa dan heran kenapa responku lumayan melewati batas.
"Yang terakhir."
"Hahaha!"
"Hewan apa yang tidak bisa santai?"
"Tidak lagi deh, Jeno."
"Salah."
"Kan aku bukan jawab tebakannya, tapi meminta kamu berhenti."
"Aku tidak akan berhenti sebelum kamu jawab."
"Singa?"
"Netnot."
"Terus apa?"
"Can't chill (kancil)."
Aku menepuk ringan bahunya dengan mata yang sudah tertutup sepenuhnya karena kembali tergelak. Jarang, jarang ada teman bahkan aku sudah tidak tau kemana temanku yang dulu selalu melucu bersamaku.
Setelah sekian lama, akhirnya aku merasa bahagia selepas ini lagi.
Kami terus melangkah, seraya kuucapkan arah rumah sewa yang kutempati. Begitu aku yakin kalau kami sudah tiba, Jeno enggan melepas tanganku.
"Jeno?"
"Kamu yakin di lantai 3?"
"Iya."
"Nomor 234?"
"Kenapa?"
"Tapi—"
Balasannya menggantung, aku segera melepas tangannya dan meraba-raba pintu, mencari kotak surat yang di belakangnya selalu aku selipkan kunci. Mendadak kakiku menyambar sesuatu dan begitu aku sentuh, itu terasa seperti sebuah koper.
Kakiku melemah.
Ada apa ini? Apa aku benar-benar diusir dari dunia oleh papa? Tapi, apa salahku? Apa aku berdosa karena telah merelakan penglihatanku yang bahkan aku sendiri tidak menginginkannya?
Mengapa di saat aku telah rela, sesuatu yang lainnya kembali datang demi mengujiku?
Kuhela nafas pasrah, merosot turun dengan memegangi koper itu. Lantas aku akan tinggal di mana?
"Na."
Kusembunyikan wajahku dengan menunduk, melepaskan air untuk kesekian kali dari mataku.
Ternyata papa jahat, papa sudah tidak sayang padaku.
Semuanya sudah cukup untuk menjadi alasan. Sejak aku tidak bisa melihat, perlaha orang-orang meninggalkanku seolah aku sudah tak hidup lagi. Bukan aku yang menginginkan ini, bukan aku yang ingin membebani mereka.
Tiba-tiba Jeno berjongkok di sampingku.
"Euna."
"..."
"Sudah ya."
"..."
"Mau tinggal bersamaku beberapa waktu?"
"Jeno."
"Aku juga tinggal sendirian, rumahku tidak begitu luas tapi kamu bisa menemaniku tinggal di sana."
"..."
"Ayo, ini sudah malam."
"..."
Jeno bangkit, menarik pelan koper di depanku. Tak berselang lama dia ikut menarik lenganku agar bergegas bangkit dan pergi dari sana.
Angin malam bertiup semakin kencang, menerbangkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahku. Aku hanya bisa melangkah gontai melewati tiap jarak yang membawa diriku dan Jeno ke sebuah tempat.
Tak lupa, suara deruan roda koper menemani kami yang diam.
Tidak, sebenarnya hanya Jeno yang terdiam. Aku masih menangis seperti membenci diriku sendiri.
Aku berhenti, melepas tangan Jeno.
"Kenapa?"
"Kamu pulang saja." Pintaku.
"Terus kamu?"
"Sudah cukup aku membebani orang, aku tidak mau egois. Tinggalkan aku sendiri. Tak apa, mulai dari sekarang aku akan sendiri. Lebih baik begitu, daripada berharap dan semuanya kembali terulang."
"..."
"Aku mohon, Jeno pulang ya?"
Jeno mendesahkan nafas beratnya, koperku sepertinya diletakkan begitu saja.
Kalau dia mau pergi, lebih baik begitu.
"..."
"..."
"..."
"Jadi?"
Dia masih di sini.
Kedua tangannya meraih tanganku, mengatakan sesuatu dengan sedikit berbisik. "Kamu tahu? Aku bukan orang baik, Euna. Tapi meskipun begitu masih mengusahakan untuk melakukan hal baik."
"..."
"Mustahil ya? Tidak, aku sungguh ada untukmu. Aku ada."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sincerely.
Fanfiction[✓.] Buta yang kualami membuatku tak mampu lagi melihat indahnya hidup. Tak kusangka, kehadiran seorang Barista bernama Lee Jeno mampu menggambarkan eloknya dunia dalam kegelapan ini. © HATESTRAWBERRY
