Pukul satu dini hari aku terbangun, merasa dahaga yang kian mengering bahkan membuatku henyak sejenak di atas ranjang selama beberapa menit. Setelah merasa setengah jiwaku cukup untuk sekadar melangkah ke dapur, aku segera bangkit dengan langkah yang terseok.
Mataku sempat beberapa kali melihat ke arah kamar Jeno, menemukan pintunya sedikit terbuka tetapi sangat gelap di dalam sana. Aku pikir dia memang sengaja membiarkan pintu itu terbuka. Jadi, setelah minum, aku melangkah ke sana berniat untuk menutupnya rapat.
Saat aku meraih gagangnya, tiba-tiba bunyi pecahan kaca terdengar dari dalam kamar itu.
Sontak aku membukanya lebar, segera menyalakan lampu kamar. "Jeno!" Teriakku saat melihatnya terkapar di samping ranjang dengan telapak tangan yang berdarah, tengah menangis, mencoba melukai dirinya sendiri.
Cermin di kamar ini pecah berantakan. Barang-barangnya berserakan ke segala penjuru ruangan, tega membiarkan pemiliknya tepuruk sendirian di atas lantai.
"Jeno, tolong sadar."
"..."
"Lee Jeno, lihat aku."
Dia hanya terus menangis, enggan melepaskan benda tajam di tangannya.
"Jeno, ada apa?"
Dia masih sama.
"Buka matamu, Jeno!"
"..."
"Lihat aku! Ini aku, ini Euna!"
Lambat laun nafasnya yang tersengal mereda, genggamannya melonggar tetapi tetap saja memegangi kaca itu.
"Jeno, aku mohon."
Kedua netranya lantas terbuka, beralih melihatku dengan kesayuan dan seluruh keterpurukan di balik benaknya.
"..."
Tadi malam dia tersenyum begitu lebar, menyambutku ramah, bahkan membuatkan makanan-makanan yang enak walau dia baru saja pulang bekerja. Namun, beberapa jam setelahnya, dia harus melawan traumanya yang meningkat, yang kini lebih parah.
"Kamu tak boleh seperti ini."
"Euna." Katanya dengan suara bergetar. "Maafkan aku, aku mohon maafkan aku."
Aku meraih tubuhnya, menenangkan pria Lee ini seraya mengusap punggungnya yang masih terguncang. "Tak apa, Jeno. Tolong kamu dengar aku, apapun kesalahan itu, aku akan selalu memaafkanmu. Tak apa Jeno, semuanya baik-baik saja."
Dia menangis lagi.
"Jeno, aku sedih melihatmu seperti ini. Bahkan kamu berani melukai diri kamu sendiri, kamu membuatku sakit."
"..."
"Bila memang semuanya terasa begitu berat, dan bila memang semuanya terasa sangat sulit, tolong berhenti. Apapun bisa kamu lakukan, tapi jangan untuk menyakiti diri kamu sendiri. Aku sedih, aku tak mampu melihatmu seperti ini."
Dia terus menangis, ikut memelukku erat dengan tangannya yang berdarah tanpa mengatakan sepatah kata.
"Jeno."
"..."
"Sejujurnya, aku sudah tahu semuanya."
"..."
"Traumamu, masalahmu, masa lalu kita yang sebenarnya berkaitan. Aku sudah tahu semuanya."
"..."
"Aku bisa paham dengan semua kalimatmu selama ini."
"..."
"Aku tidak marah, aku tidak kecewa, aku tidak menyesal untuk tetap bersamamu. Karena aku tahu, kamu adalah orang yang sangat baik."
"Maaf ya Na, maaf—"
Aku menggeleng. "Aku akan marah saat kamu seperti ini. Kamu memintaku menghargai diriku sendiri, tetapi kamu malah tak bisa melakukannya pada dirimu sendiri."
"..."
"Selain meminta maaf padaku, tolong kamu meminta maaf pada dirimu sendiri."
"..."
"Kamu berhak berdamai dengan masa lalumu, Jeno."
"..."
Aku melonggarkan pelukannya, kemudian menangkup wajahnya yang masih berair karena derasnya air mata yang merintih. "Aku menyayangimu sepenuh hati."
"..."
"Senyumanmu adalah hal yang paling berarti di dunia ini bagiku. Kamu datang ke dalam hidupku, itu adalah hal terindah yang tak akan pernah terbenam."
"..."
"Senyumanmu adalah yang terbaik. Karena senyumanmu mampu mewakili ribuan kata indah juga mampu menutupi ribuan masalahmu yang bergulat."
"Na, aku—aku—"
"Aku mencintaimu, Lee Jeno. Untuk itu, tolong jaga dirimu yang aku cintai."
It's okay not to be okay. It's okay if you love me to be your good-bad memory.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.