I still remember the 25th of April, me in your sweater
You said it looked better on me than it did you
Aku sedang berada di ruang tunggu. Kata petugas medis, ini sudah sore, dan semua pemeriksaan mata telah usai. Kini aku hanya menanti kedatangan Jeno untuk menjemputku, lalu pulang lagi ke rumahnya.
Dokter tadi tak memberitahukanku mengenai hasilnya sekarang. Katanya, pihak rumah sakit akan ada yang mengirimkannya langsung ke alamat rumah sewa Jeno. Aku harap, semuanya akan baik-baik saja.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang mengusap puncak kepalaku. "Sudah selesai?"
Aku tersenyum, itu Lee Jeno.
"Aku lama ya?"
"Tidak, kamu datang tepat waktu."
"Kamu tidak menunggu lama bukan?"
Aku menggeleng, berbohong sedikit. "Tidak kok."
Jeno mengangkat tanganku untuk bangkit, kemudian merapikan sweaternya yang sengaja ditenggerkan pada tubuhku. "Sepertinya terlalu kebesaran."
"Tak apa, ini nyaman."
"Yakin?"
"Ya."
"Kamu jadi lucu memakai sweaeterku."
"Uh, sepertinya tidak."
Dia tertawa. "Ya sudah, kita pulang sekarang?"
Aku mengangguk.
Jeno lantas membawaku keluar dari kawasan rumah sakit, berjalan menuju gerbang dan selanjutnya menuju halte. Sebelum mencapai gerbang, Jeno berkata, "ada bunga kecil."
"Di mana?"
"Samping kirimu. Tahu heather tidak?"
Aku menggeleng.
"Semacam semak tapi terdapat bunga-bunga kecil, itu imut."
"Ah, begitu?"
"Tapi heather pun termasuk salah satu slang, artinya primadona."
"Hm, seperti kamu ya?"
Jeno tertawa kecil. "Kok aku?"
"Dari suaramu, aku yakin kalau kamu itu bukan orang biasa."
"Kamu cenayang ya."
Aku terkekeh. Jeno menjadi lucu sekali setiap waktu.
Walks by
What a sight for sore eyes
Only if you knew how much i like you
Tanpa alasan yang jelas, Jeno mengarahkan tanganku untuk melingkar di tangannya. Bukan lagi menggenggam, tapi kinj aku yang memeluk tangan tebalnya.
"Kenapa?"
"Tanganku yang ini sedang dingin, ingin dihangatkan sedikit."
Aku tersenyum dan mengeratkan dekapan pada tangannya. Kami menunggu kedatangan bus di halte, menikmati kicauan burung-burung yang melewati udara di atas kami.
Perlahan suara mesin berat itu datang, Jeno mengarahkanku agar lebih dulu naik ke dalam bus. Selepas itu dia mendudukkanku sebagai prioritas lagi di sebuah kursi.
"Kamu tidak duduk?"
"Duduk, kok."
"Tas kamu di sini saja."
"Kenapa?"
"Biar kamu tidak sempit, aku saja yang memangkunya."
"Oke, kalau itu mau kamu."
Aku riang menyambut tas ranselnya di atas pahaku. Setelah itu aku memeluk tasnya dan mendiami perjalanan dengan mengukir lengkungan pada wajahku. Aku diam, membiarkan Jeno beristirahat dari obrolan.
Tiba-tiba saja dia menarikku untuk meletakkan kepala ke atas bahunya. "Perjalanannya akan lama, kamu tidur saja dulu."
Aku tak begitu paham, dengan segala keinginannya, aku begitu mudah menurutinya sekalipun aku sama sekali tak berniat menyulitkannya.
Lee Jeno terlalu baik untukku, membuatku bertekad serta memiliki harapan untuk membalas kebaikannya.
Dalam kepulangan kami kali ini, aku diminta bersandar dan mengambil sedikit rehat di sampingnya. Tasnya masih ada di dalam pelukanku, membawaku dalam kenyamanan dalam kesederhanaan ini.
Lee Jeno, aku tak akan bosan untuk mengatakan ini. Tapi terimakasih ya, terimakasih karena kamu telah ada.
Kamu itu seperti karunia terindah bagiku, meski sampai detik ini pun aku belum bisa melihat parasmu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sincerely.
Fanfiction[✓.] Buta yang kualami membuatku tak mampu lagi melihat indahnya hidup. Tak kusangka, kehadiran seorang Barista bernama Lee Jeno mampu menggambarkan eloknya dunia dalam kegelapan ini. © HATESTRAWBERRY
