[21] you and i

1K 323 46
                                        

🎶 Rainbow - NCT Dream

Pagi telah menyambut hari, kubuka sepasang mata ini, bersegera menemukan cahaya mentari yang cukup terang itu, berbondong-bondong masuk melalui celah ventilasi. Aku terdiam sejenak, menemukan sebuah tangan yang juga masih menggenggam tanganku dari bawah ranjang.

Aku menoleh, dia masih Lee Jeno.

Dia sungguh serius, tidak pulang dan lebih memilih tidur di bawah sana. Ranjang lamanya. Aku melihat ke sebelah tubuh Jeno, menemukan boneka teddy bear pemberian Lee Haechan tempo hari yang ikut menopang kepalanya.

Teringat di benakku akan semalam, bagaimana mulutku begitu sulit mengucap kata setelah pria Lee ini datang, dalam sekejap melamar usai menghilang.

Tidak, maksudku—aku masih belum bisa memastikan apa ini normal, nyata, atau sebatas delusi belaka?

Kini Jeno tak lagi mengenakan kemeja hitamnya yang menyisakan kaus putih pada tubuh tegap itu, membiarkan kemeja dengan aroma khasnya yang kumaksud ikut menyelimuti setengah badanku. Sejujurnya, ini lebih hangat dibanding selimutku yang tebal.

Aku aneh, bukan?

"Na."

Aku tersadar, lalu menatapnya.

"Kamu mau atau tidak?" Lanjutnya dengan suara parau, baru saja bangun.

"Apa—?" balasku menggantung dengan suara ringan.

"Menikah denganku."

Menikah tidak segampang itu, namun membuang waktu juga tidak pernah lebih daripada penting. Dalam hidupku, aku pikir aku sudah tak punya arah dan tujuan apapun selain bertahan.

Lalu, apa yang harus kukatakan sekarang?

"Aku boleh tanya?"

Jeno menghela nafas. "Padahal aku belum dapat jawaban."

"..."

"It's okay, tanya saja Na."

"Kenapa, kamu tidak mencari yang lebih pantas daripada aku?"

Sontak Jeno melihatku sepenuhnya dengan wajah bantal itu. "Justru kamu yang paling pantas, karena kamu pernah ada di masa-masa sulitku. Menemani aku di saat aku sendiri, membuatku bahagia setelah sekian lama aku menanti kebahagiaan di dalam angan itu."

Sekarang aku berusaha menghindari manik matanya.

"..."

"..."

Jeno mengusap jemariku. "Kamu belum yakin atau kamu ada yang lain?"

"Tidak."

"Tidak yang mana?"

Aku dibuat sulit untuk menjawab semua pertanyaannya.

"Sejujurnya, sekuat apapun janjiku, tapi kalau ada jarak yang memisahkan, itu akan selalu terasa menyeramkan. Tidak adil di saat aku ada di hatimu, tetapi bukan aku yang ada di sampingmu."

"Siapapun itu, tak akan ada yang sama denganmu Jeno." Akhirnya aku bisa membantah.

"Jadi?"

Pada akhirnya aku ikut menggenggam tangan Jeno, membuat sorot matanya semakin intens dalam di obrolan ini, disusul bersama ukiran tipis melengkung pada bibirnya.

"Ayo bangun." Ajaknya.

Aku perlahan bangkit dengan gerakan kami yang seolah seirama. Aku menghadapkan diri padanya, merasakan deja vu saat aku dulu belum bisa melihatnya, pun selalu melakukan ini.

Sekarang, aku sudah bisa melihat dengan jelas apa yang Jeno lakukan.

Dia meraih kotak cincin semalam yang ada di atas meja, lalu memandangiku begitu lamat. "Aku janji, untuk kali ini aku tak akan pergi tanpa izin darimu lagi."

"..."

"Memang aku pernah pergi, namun itu karena aku harus melindungimu, Euna."

Jika dia memang setulus itu, apa aku bisa menepatkan alasan yang akan menjadi dinding baja padanya yang juga telah melakukan ini semua?

"Euna, apa kamu bersedia menikah denganku?"

Sederhana, tapi hatiku tak dapat menahan segalanya. Faktanya, sudah berulang kali Jeno telah mengatakan kalimat itu, bahkan rela untuk tidak pulang dan menungguku setuju atau tidak dariku.

Jeno terus mengulum bibirnya dengan wajah berbinar.

Berujung pada,

"Iya, aku mau."

Jeno menghela nafas yang sangat lega itu, melepas segala risau yang terus menghantuinya. Aku tersenyum, ingin terlihat seperti dirinya yang sangat gembira. Tak lama kemudian, cincin itu sudah menjadi mengisi jari manisku, sekaligus menjadi perhiasan pertama yang menemani hidup ini.

"Terimakasih banyak, Euna."

"Ini bukan apa-apa, Jeno."

"Aku tak akan bisa—"

Tiba-tiba ponselnya berdering, memotong pembicaraan kami. Sepertinya itu panggilan dari keluarganya, dan Jeno mengucapkan banyak kebohongan. Dia bilang dia baru saja tiba di bandara, dengan cepat melangsungkan sambungannya seraya berdiri juga mengenakan topi.

Setelah menyelesaikan pamitannya melalui telepon, Jeno melihatku. "Na, aku pulang dulu ya."

"Kamu bohong ke keluarga kamu?"

Jeno terdiam sebentar. "Aku harus melakukan ini, aku enggan begitu diatur oleh mereka. Secepat mungkin, aku akan bawa kamu ke keluargaku."

Aku ikut berdiri, ingin mengantarnya keluar dari sini. "Ini kemejamu."

"Simpan di sini saja dulu."

"Kenapa?"

"Supaya aku punya alasan untuk bisa ke sini lagi."

Ck!

Dia buru-buru berkemas, bersiap pulang dan membuka pintu. Saat ingin melangkah pergi, Jeno kembali berbalik. "Sebentar."

Belum sempat aku bertanya ada apa, dia mendadak meraih kepalaku dan melakukan forehead kiss tanpa memperdulikan jantung seorang Euna yang semakin tidak terkendali.

"Jangan lupa makan, ya."

Tanpa menungguku menjawab, dia bergegas pergi. Akhirnya, kini aku melihatnya beranjak, tanpa ada rasa khawatir bila saja dia tak akan kembali lagi.

Sincerely.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang