🎶 Troye Sivan - Strawberries and Cigarettes
Sunyi.
Aku belum bisa tidur di atas ranjang milik Lee Jeno. Badanku menghadap ke atas, pada langit-langit kamar, dengan kedua tangan yang menjulur ke bawah. Ranjang ini hanya cukup menampung satu orang, karena Jeno sendiri berada di atas lantai beralaskan kasur lain, katanya.
Hanya berjaga-jaga dari tidur disebabkan aku masih merasa aneh tinggal bersama orang baru seperti dia. Aku memang lelah, tapi aku tidak berniat untuk tidur.
Jeno memang baik, tapi aku belum sepenuhnya percaya padanya.
Kupilin ujung selimut tipis yang membentang di atas tubuhku. Menerka-nerka dalam gelap, apa Jeno sudah tidur?
Nafasnya terdengar menghela berat dalam tiap hitungan beberapa detik, kuyakingkan itu merupakan jawaban dari terkaku.
Uh, aku belum seyakin itu untuk mengenalnya sebagai salah satu penolong nasibku dari Tuhan hari ini.
Kegerakkan tanganku ke bawah, menuju koper yang tadi diletakkan di samping ranjang atau tepat di samping kepalaku. Dan tiba-tiba, "Na?"
Aku tersentak.
"Euna?"
"Iya."
"Kamu kenapa?"
"Kenapa?"
"Kamu mengusap kepalaku daritadi."
Reflek aku menarik tangan karena aku tak menyangkan jika itu rambut Jeno. "Maaf, tadi aku kira rambutmu itu ujung karpet."
Jeno mendengkus lalu terkekeh, seperti memperbaiki posisi di bawah sana. "Bisa saja." Balasnya dengan suara parau. "Kamu tidak tidur?"
"Hm, ya—seperti itu."
Terdengar suara jemarinya yang menyalakan lampu, membuatku bangkit dari tidur untuk duduk. "Kamu mau apa?"
"Mau main gitar."
"Jeno aku minta maaf ya, aku tidak bermaksud mengganggumu. Tadi aku ingin mengambil sesuatu dalam koperku."
"Tidak apa, santai saja. pun lagi ingin bermain gitar sebentar."
Aku menunggu Lee Jeno melanjutkan kegiatanya yang entah itu semalam atau sepagi buta ini. Sesekali dia terdengar mengecek senar gitar, sebelum akhirnya dia menyanyikan sebuah lagu.
"...Headlights, on me
Racing to 60, I've been a fool
But strawberries and cigarettes always taste like
Blue eyes, black jeans
Lighters and candy, I've been a fool
But strawberries and cigarettes always taste like you."
Aku tahu liriknya, tapi aku tidak tahu judul dan penyanyi dari lagu ini karena aku hanya selalu mendengarkannya di beberapa sudut jalanan yang biasa memutarkannya.
Mungkin memang beda saat Jeno yang menyanyikannya, namun aku bisa merasakan kelembutan suara beratnya kala mengalun.
"Jeno." Panggilku setelah dia terdengar selesai.
"Iya."
"Ini lagu milik siap?"
"Troye Sivan, judulnya Strawberries and Cigarettes."
"Suara kamu bagus."
"Ah, tidak juga."
"..."
"..."
"..."
Aku diam, tak memiliki bahan pembicaraan untuk selanjutnya. Aku pikir, saat ini aku berada di tempat baru, bersama orang yang baru pula.
Aku bahkan tak tahu apa Jeno sedang menatap gitar, atau mungkin ponselnya. Karena yang aku rasakan hanyalah—aku bisa merasakan kehangatan di tempat ini.
Melepas beberapa saat berlalu, petikan senar gitar tanpa alunan mengisi pendengaranku. Ah, kini aku paham, probably dia sedang mencari nada yang pas untuk mengisi kekosongannya.
Kuraba permukaan ranjang yang menampung tubuhku, aku ingin berbaring lagi. Setelah aku dapat berbaring, aku berusaha menghadap ke samping, dan memejamkan mata.
Aku tak mau Jeno terganggu dengan mengobrol selagi dia bermain dengan gitarnya, karena aku sendiri belum tidur.
Tuhan, semoga aku selalu bisa baik-baik saja dengan lelaki ini.
Ya, kamu baik-baik saja karena kedua netranya akan selalu menjagamu. Melihatmu dengan tulus tanpa harus dipahami oleh arus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sincerely.
Fanfiction[✓.] Buta yang kualami membuatku tak mampu lagi melihat indahnya hidup. Tak kusangka, kehadiran seorang Barista bernama Lee Jeno mampu menggambarkan eloknya dunia dalam kegelapan ini. © HATESTRAWBERRY
