[31] run or die

927 256 23
                                        

Berada di tempat asing, jauh dari satu-satunya harapan hidupku. Dan karenanya, bernafas merupakan satu-satunya cara untuk tetap bertahan, atau setidaknya pulang.

Juga, menuruti kemauan para manusia yang memiliki segalanya.

"Kalau sampai kamu banyak bicara atau bertingkah, Lee Jeno yang akan menanggu perbuatanmu dari sana."

Tanganku terkepal, disusul dengan tatapan yang menunduk.

Sudah dua hari sejak aku harus meninggalkan negaraku secara paksa, tanpa berekspektasi akan menderita lagi seperti ini. Aku tak pernah mengira bahwa aku akan menemukan titik jahanam seperti saat ini.

Aku sungguh takut, aku sendiri, dan aku sakit.

Norwegia adalah negara yang pernah Jeno impikan agar melanjutkan hidup kami, tetapi Norwegia pula yang kini menjadi saksi bisu atas siksaan untuk diriku ke depannya.

Bayangkan saja, aku baru menginjak tempat ini, aku tak punya siapapun. Bahkan untuk menghubungi sosok Lee Haechan, itu sudah sangat mustahil.

Aku terus diancam, menurut, dan harus mendengarkan mereka yang membuiku, kalau saja beberapa waktu ke depan aku memang dibuat menetap di tempat ini. Mereka akan mengatur segala keperluanku, tetapi dalam otak ini, lebih baik aku pergi dari dunia dibanding tetap berada di bawah tangan mereka.

Mereka memintaku untuk menjauhi Jeno. Namun, ini terlalu jauh.

Kulihat kembali kakak kedua Jeno yang datang untuk mengurus semua jejakku di Norwegia. Aku hanya bisa menatap pria yang terus mengancamku itu, dengan kata-kata atau umpatan yang akan selalu berhasil membungkam mulutku.

Jika aku gegabah, maka Jeno yang akan menanggung semua. Jika aku tetap ada, maka semuanya tak akan pernah berakhir.

"Kak, aku mohon—"

"Tidak ada yang memintamu memanggilku kakak."

"Aku hanya ingin menghubungi Jeno dan temanku, sekali saja."

"Kami kira Jeno mencarimu? Hahaha, tidak, dia begitu sibuk dengan jabatan barunya."

"..."

"..."

Mengusap air mata aku pun sudah tidak mampu. Mungkin hingga air mataku mengalirkan darah sekalipun, keluarga Lee tak akan mau mengampuniku selamanya.

"Kak, tak apa kalau memang aku yang harus tanggung jawab karena aku pernah berada di samping Jeno."

"..."

"Tapi tolong, jangan ancam Jeno. Aku mohon ya kak?"

Dia sekadar menatapku sinis, lalu kembali membolak-balikkan kertas urusannya. Benar-benar tak ada yang peduli dengan kondisiku sekarang, bahkan aku tak tahu apa sebentar lagi hanya tersisa namaku di dunia ini.

"Hei, bawa dia ke hotel yang kukatakan." Perintahnya pada salah satu pengawal. "Sekarang!"

Dengan sigap orang-orang itu kembali menarik tanganku untuk bergegas dengan cepat meninggalkan tempat ini.

Sekali lagi, kuulang. Aku tak bisa melakukan apa-apa selain menurutinya. Karena sudah sepantasnya ini semua terjadi bila memang aku akan terus ada.

Aku bak tahanan digelandang menuju sebuah van yang terparkir di depan lobby. Berjarak beberapa meter dari van tersebut, aku hanya bisa memandangi udara begitu hampa.

Aku sedikit paham, kenapa Lee Jeno ingin berada disini.

Udara dan langit Norwegia menyatu dengan sangay baik, membawaku pada kilas balik di dalam memori indah kami, di mana Lee Jeno berencana membawa kehidupan kami menetap di sini saat sudah menikah.

Seandainya.

Atau itu—hanya tinggal kenangan.

Para pria bertubuh tambun ini mengobrol beberapa saat, membuyarkan lamunanku terhadap situasi Norwegia. Mereka bahkan melepasku sebentar, bercerita tentang bagaimana mereka kelelahan karena harus mengawasiku selama 24 jam penuh.

Diam-diam aku mencuri pandangan pada pagar, yang sangat dekat dari kami masih terbuka lebar.

Aku mundur beberapa langkah, masih dengan tangan yang kosong.

Beberapa saat kemudian,

"Hei!"

Aku berlari secepat mungkin, meninggalkan tempat sialan itu untuk pergi ke mana saja. Persetan jika besar kemungkinan aku akan menjadi pengemis di negara orang, aku hanya enggan berada bersama mereka.

Teriakan mereka terus menghantui, kejaran mereka terus berlangsung. Mendekati keramaian publik, mereka perlahan melambat dan membuatku semakin jauh. Aku terus berusaha, membawa diriku kemana saja.

Meski itu bukan untuk berlari padanya.

Sincerely.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang