[12] comeback home

1K 346 32
                                        

🎶 It Will Rain by Bruno Mars

Dear my dream,

I'll be there for you.

But it's hard to believe,

Something doesn't feel right.

Detik ini aku sedang membisu di atas ranjang. Mataku masih diperban, masih dalam proses pemulihan. Bahagianya aku sudah bisa melihat sedikit cahaya begitu jelas, yang seolah sebentar lagi akan membawaku untuk menemukan diriku yang dulu.

Sayup-sayup aku mendengarkan suara rintikan air dari jendela yang terbuka, dari damainya dunia di luar sana.

Di luar sana sedang hujan. Ya, hujan.

"Selamat malam, Euna."

Reflek bibirku tersenyum saat mendengar suara Lee Jeno yang kembali muncul. Dia baru saja pulang dari bekerja, selalu mempercepat langkahnya untuk menemaniku di rumah sakit ini.

"Ini, aku bawakan kamu wafer kesukaanmu."

"Terimakasih, Jeno."

Dia meletakkan tas ranselnya, dan mungkin—sebuah plastik, kemudian berdehem sebelum duduk di sampingku. "Bosan ya?" Tanya Jeno seraya mengusap kepalaku.

"Tidak, kok."

"Suka bohong deh."

Aku terkekeh.

"Tadi Haechan datang untuk menemanimu?"

"Iya, tapi aku masih canggung dengannya."

"Tak apa, tak harus seakrab itu. Oh ya, kamu mau makan wafernya sekarang?"

Aku mengangguk. "Boleh."

Jeno menggumamkan sesuatu, seperti sedang bersenandung, meraih sebatang wafer dari dalam kemasannya. Dia membenarkan posisi duduknya sejenak, lalu menyuapkan satu wafer itu ke dalam mulutku. "Aaa—"

Kuterima pemberiannya dengan senang, lebih bahagia lagi daripada tadi.

Aku tak tahu mengapa aku selalu merasa sebahagia itu saat bersamanya.

"Di luar masih hujan ya?"

"Hm—sepertinya sudah tidak, tapi masih sangat mendung." Balasnya sambil mengunyah, aku pun mengangguk paham. "Kenapa memangnya?"

"Tidak, hanya ingin tahu."

"Sabar ya, sebentar lagi kamu akan bisa melihat langit, melihat situasi di sekitar kamu."

"..."

"Melihat aku juga, kok."

"Iya, aku tidak sabar ingin melihatmu."

"Benarkah?"

"Tentu!"

Untuk selanjutnya obrolan kami berhenti, membiarkanku dan Jeno sama-sama sibuk mengunyah wafer ini.

"Na."

Aku berdehem.

"Kalau perbannya sudah dibuka, kamu pulang ke rumah ya?"

Out of nowhere, ucapan sekaligus permintaannya membuatku tersentak. Aku dibuat gelisah, padahal Jeno hanya memintaku untuk pulang.

Pulang seperti biasa, kan?

"Di luar hujan lagi." Sambungnya.

Tanganku yang lain meraih lengan Jeno. Aku begitu enggan melepasnya.

"Kenapa?"

"Kamu jangan pergi ya?"

Bodoh, kenapa suaraku malah bergetar?

"Memang aku mau ke mana?"

"..."

"..."

"..."

"Aku sekadar bilang, nanti kamu pulang ke rumah ya, Euna."

"Aku kan tidak tahu harus ke mana lagi kalau bukan ke rumah kamu, Jeno."

"Rumah kita."

"..."

"Itu adalah rumah kita."

Jeno jahat. Dia malah membuatku menahan tangis ini tanpa alasan yang jelas.

Tiba-tiba Lee Jeno menarik tubuhku untuk bersandar di bahunya. Aku berjuang menahan rahang yang mengeras ini untuk tidak ikut terguncang karena usapannya pada bahuku.

Tuhan, tolong ya. Aku tak ingin lagi kehilangan siapa siapa dari duniaku.

Apalagi—satu-satunya manusia yang bersamaku saat ini hanya dia. Aku tidak mau kehilangan Lee Jeno.

Karena aku sangat menyayanginya.

If you only knew, he needs you to the moon and back, Euna.

Sincerely.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang