Di taman yang akhirnya sunyi, diwarnai senja yang kian gelap ditemani lampu jalanan yang cukup terang, aku duduk bersebelahan dengannya. Tatapanku lurus ke depan, mengamati tumpukan bebatuan kerikil yang mungkin saja tengah mengejek kami.
Aku melirik sebentar, mendapati Euna sedang menunduk. Karenanya, aku berdehim.
Dia terkejut.
"Sudah lumayan lama." Kataku.
"Eum."
Aku menghela nafas berat. Aku benci menjadi canggung bersama orang yang masih kucintai.
"Euna apa kabar?" Tanyaku.
Dia melihatku sesaat, lantas menjawab. "Baik."
Aku tersenyum sambil bergumam. "Harus seperti itu." Lalu meletakkan kedua tanganku untuk menopang badan seraya menatap langit. "Akhirnya."
"Ada apa?"
"Setidaknya aku bisa mewujudkan harapanku."
"..."
"Bersebelahan dengan Euna, mengobrol dengan Euna, lagi."
Dia tersenyum, sangat kikuk. Dia seolah berbeda dengan orang yang kukenal. Apa dia benci sama aku karena aku datang selambat ini?
"Itu—" dia akhirnya memulai sebuah pembahasan. Saking excitednya aku menegapkan badan, menunggunya dengan begitu leluasa. "Perusahaan kamu makin besar ya."
Bahuku terjatuh. Aku berharap dia menanyakan kabarku. Kutelan saliva secara paksa. Alih-alih membawanya kembali, memeluknya saja akan terasa seperti kriminal.
"Tentang kesalahan keluargaku dulu—"
"No, jangan."
Aku menoleh usai bibirnya memotong ucapanku.
"Jangan dibahas."
Wajahnya sedikit tidak bersahabat. Aku mengangguk, "maaf."
"Bukan salah kamu."
Aku mengepalkan tangan, menghirup udara secara dalam dan berusaha menghelanya secara santai. Rasa bersalahku masih akan menghantui, mungkin seumur hidupku.
Dia diam, aku juga.
Kami sama-sama menghabiskan waktu disini.
"Jeno."
Aku menengok.
"Pulang, sudah malam."
Kulipat kedua bibirku dan tersenyum lirih. "Anakmu sudah mencarimu, ya?" Kataku basa-basi.
"Kenapa?"
"Anak dan suamimu." Ulangku. "Mungkin mereka sudah mencarimu sekarang."
"Tapi aku—"
"..."
"Aku belum menikah, aku—belum punya anak."
Aku terhenyak.
Setan,
jadi selama ini, aku salah paham?
"Kamu tahu darimana tentang itu?"
"Selama ini—tidak, maksudku, tadi aku tak sengaja melihat kamu bermain bersama seorang anak kecil, bersama Lee Haechan juga."
Euna tersipu dengan tangan yang menutupi mulutnya. "Tidak begitu. Anak itu anak dari Haechan, dan selalu dititip kepadaku. Karena mama dan papanya sama-sama sibuk bekerja. Lalu kebetulan saja aku baru saja resign dari pekerjaanku minggu kemarin."
Dia terus menjelaskan semuanya, menjelaskan jika anak kecil yang selalu kulihat bersamanya itu adalah Lee Haera, anak dari Lee Haechan, sahabatku dulu. Selagi Euna menuturkan segala penjelasannya, diam-diam kebahagiaanku dalam hati meledak-ledak sambil memandangnya.
Meski begitu aku harus tetap berhati-hati agar tidak membuatnya merasa gak nyaman.
"Jeno."
"..."
"You okay?"
Aku tersadar saat gadis ini menegurku karena terus tersenyum aneh. Aku berusaha mengatur diriku untuk tidak terlihat bodoh, sial.
Pria macam apa aku ini?
Sulitnya aku berusaha melanjutkan obrolan kami agar bisa bersama dalam waktu yang lama. Syukurnya juga Euna tampak nyaman bahkan meneruskan pembicaraan kami.
Hingga aku menawarkan diri untuk mengantar sampai ke tempat tinggalnya, dia tidak menolak.
Kami tiba di depan sebuah apartemen yang biasa saja namun terlihat nyaman. Karena itu milik Euna. Sayangnya aku tiba-tiba panik, karena merasa ponselku tidak ada bersamaku.
"Kenapa?" Tanya Euna.
"Itu, ponselku tidak ada."
"Serius?"
Aku mengangguk. "Bisa pinjam ponselmu sebentar? Aku mau menelepon, barangkali aku meninggalkannya di suatu tempat."
"Ini." Berinya secara sigap dan aku segera mengetikkan nomor ponsel di atas papan ketik. Belum sempat semuanya kuketik, namaku muncul.
Aku tersenyum tipis.
Dia masih tahu dan bahkan menyimpan nomorku.
Aku segera menghubungi ponselku, dan berselang beberapa sekon aku meraihnya di dalam saku celana.
"Loh, itu ada." Kata Euna saat aku mengeluarkannya dari balik saku.
Aku terkekeh, dia terkecoh. "Nomorku masih yang lama." Dan mengembalikan ponsel tadi pada pemilik yang terlihat sebal tapi menggemaskan, seperti dulu. "Nomormu diganti ya? Kalau ada waktu senggang, beri tahu ya."
"Jeno—"
"Kita mulai semuanya dari awal."
Aku buru-buru menjauh. "Kamu bilang ini udah malam dan aku harus pulang. Berarti lain kali aku harus datang pagi ya. See you!"
—sincerely, jeno—
⚠️⬇️
Hahaha, gimana dengan bonus partnya? Semoga bisa melengkapi cerita Sincerely Jeno ya pokoknya😝 Updatenya dadakan, tapi draftnya hampir kelupaan xoxoxo
Oh anyway, kalau kalian lagi mabok atau bucin Renjun boleh nih mampir ke cerita yang ini :
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Canon in Jun genrenya hampir sama dengan SJ cuma isinya pasti beda kak🤭 Ayo move kesana dan ramein juga, thankies!