Dua Puluh Enam

296 23 0
                                        

Kepala Breach rasanya seperti mau pecah. Ia meregangkan otot-ototnya yang kaku. Sepanjang pagi sampai terdengar adzan dhuhur ini ia masih berkutat dengan proposal skripsi. Tahun ini prosedur pengajuan skripsi begitu menguras tenaga. Sebelum ia mengajukan SK pembimbing terlebih dahulu ia mengajukan judul beserta proposal kepada Dosen pra skripsi. Setelah acc baru ia bisa mengajukan judul ke fakultas. Fakultas masih akan menelaah baru menyesuaikan dosen yang sesuai dengan skripsi yang diajukan. Setelah SK dosen terbit mahasiswa dapat melakukan bimbingan proposal sebelum seminar proposal. Ketika telah melalui seminar proposal, mahasiswa dapat melakukan penelitian setelah revisi.

"Istirahat dulu Breach, tambah kurus lah nanti," Breachia menyimpan drafnya. Nanti ia akan melakukan bimbingan lagi ke dosen.

"He eh, punyamu gimana Crane?" Gadis itu tersenyum ceria.

"Alhamdulillah acc sempro Breach. Aku doakan kamu segera nyusul ya. Tadi baru pengajuan sih. Belum tahu kapan jadwalnya. Tapi ya udah persiapan perizinan penelitian, alat, bahan tinggal cap cus bismillah semoga gak ada revisi lagi, " Breach duduk di sebelah Crane. Ia baru saja mengambil nasi. Perutnya benar-benar terasa lapar.

"Alhamdulillah, aamiin yaa Allah yaa rabbal alamiin. Ini habis ini mau ketemu dospem 1. Dug der dug der sih," Crane tersenyum menyemangati. Breachia sangat bersyukur memiliki Crane sebagai sahabat dalam hidup di perantauan. Ia kadang masih suka sedih dengan semua tekanan menjadi mahasiswa. Melihat teman-temannya ada yang sempro, penelitian, sidang bahkan wisuda lebih dulu. Namun ia percaya selama berusaha dan berdoa ia yakin bisa. Semua tidak bisa ia pukul rata. Mereka yang duluan selesai pasti Sudan merasakan apa yang mini sedang ia rasakan. Mereka memiliki kendala masing-masing hingga sampai pada titik sekarang termasuk dirinya.

Dinding kamar kos Crane penuh sticky note juga jadwal bimbingan serta tulisan motivasi. Ia bahkan mengedit foto dirinya memakai toga wisuda. Suara printer Crane dan Breach bersahutan ketika mereka selesai revisi lalu mencetak untuk bisa bimbingan.

Belakangan ia dan Rama kadang berkomunikasi. Rama juga sibuk di pendidikan tingkat IVnya. Sermatutar Ramadhan Zevino Bamantara. Gelar yang akan segera berubah menjadi Letda Ramadhan Zevino Bamantara. Breach selalu mendoakan Rama agar pendidikannya dimudahkan dan dilancarkan.

*

Breach berjingkrak dalam hati. Akhirnya acc sempro. Ia segera mencetak form pengajuan serta memfotokopi persyaratan lain. Ia pulang ke kos dengan sedikit lega. Masih belum sepenuhnya lega. Baru beberapa persen dari target goalnya namun ia selalu mensyukuri progress tiap harinya.

"Crane yuhu di manakah dirimu?" Sejak dari pintu garasi Breach sudah memanggil nama Crane. Ia buru-buru meletakkan sepatu ke rak lalu masuk ke kos.

"Apa sih Breach? Berisik ganggu tidur aja," Breach memeluk Crane lalu mengajaknya berputar dan berjingkrak. Crane harus menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh. Nyawanya masih belum terkumpul tapi sudah diajak jingkrak-jingkrak.

"Aku juga udah pengajuan sempro tadi. Tinggal nunggu jadwal juga," Breach menyudahi tingkah petakilannya. Ternyata lelah juga.

"Oh Bagus kalau bisa harinya sama ya haha," Breach meletakkan jus dan crapes yang tadi ia beli ke meja.

*

Sembari menunggu jadwal sempro, Breach melakukan pengajuan izin penelitian serta peminjaman alat. Ia meminjam alat bor bipori di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang. Sebelumnya ia telah mencoba meminjam di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Kabupaten Magelang namun alatnya kurang lengkap. Mencari data sekunder juga seperti terombang ambing di DPUPR lalu di Balai Pelestarian Sumber Daya Air (PSDA) wilayah Progo Bogowonto. Tetapi data yang ia perlukan ternyata harus melalui Balai PSDA pusat yaitu di Balai Besar Wilayah Sungai Progo Bogowonto Luk Ulo di Kutoarjo.

Rencana Breach agak melenceng sedikit dari perkiraan. Usai sempro ia masih harus revisi. Setelah acc sudah didapat ia segera mengambil bor biopori ke Dinas Lingkungan Hidup. Karena penelitian Breach dan Crane waktunya hampir bersamaan jadi mereka tidak bisa saling Bantu. Crane menyewa teman-teman untuk menjadi surveyor dalam penelitiannya. Sedangkan Breach, ia melakukan penelitian sendiri. Membuat lubang biopori lalu melakukan percobaan peresapan selama 7 hari berturut-turut.

Teman-temannya ada yang menawarkan bantuan. Namun, Breach masih bisa melakukan sendiri. Ia tidak mau merepotkan orang lain untuk half yang masih bus ia lakukan sendiri.

Air Mata, keringat, pikiran semua tercurah untuk bisa menyelesaikan skripsi. Terkadang, motivasi Breach down. Ada satu titik di mana ia sangat jenuh dengan revisi. Ia sampai berpikir apakah dirinya depresi. Ia pernah memiliki keinginan untuk mengunjungi psikolog. Namun, teman-teman dan keluarga selalu memotivasi dirinya. Sehingga ia bisa berdiri dengan tegak lagi.

*

"Congratulation sayangku a nangis ih," Crane memeluk sambil berkaca-kaca. Ya Breachia lebih dulu sidang pendadaran daripada Crane.

"Alhamdulillah, makasih ya sayangku. Semoga cepat sidang juga lancar, sukses," Breachia menepuk punggung Crane. Teman-teman melihat mereka terharu. Breach tidak menyangka ia mendapat sambutan meriah dari teman-temannya.

"Makasih ya semua. Aamiin aamiin yaa Allah," Breach mengaminkan doa dari teman-temannya. Masih ada revisi menanti. Ia berdoa semoga Allah mempermudah jalannya. Kalau harus jujur. Ia sudah bosan revisi, bimbingan, revisi, bimbingan. Tapi sebagai mahasiswi tingkat akhir, itulah prose's yang harus dijalani.

Ia sangat bersyukur melewati satu proses ini. Tapi inilah gerbang menuju kehidupan sebenarnya. Biasanya ia diberi uang saku dan hidup di rumah. Kini saatnya ia harus mengembangkan sayap. Ia melanjutkan magang di PDAM Magelang. Pada semester 6 dan 7 ia magang di PDAM. Sebenarnya Breach mendapatkan tawaran di satu perusahaan kontraktor. Tapi ia masih mempertimbangkannya. Kerja di lapangan benar-benar harus mempersiapkan mental. Apalagi ia seorang perempuan rantau. Sejujurnya ia lebih senang jika di luar Pulau Jawa.

Ia mendapat informasi lowongan DPUPR di Sulawesi dari teman semasa kerja praktik (KP) di Semarang dulu. Sampai saat ia masih berhubungan baik dengan mereka. Ia akan mencoba melamar di lowongan itu. Tapi kalau di sana ia benar-benar jauh dan berbeda pulau dengan orang tuanya. Mereka mendukung keputusan Breach asalkan tidak merugikan. Jauh di dalam hati, ia ingin berada di PT Pelabuhan Indonesia III penempatan luar Jawa. Tapi ia akan mengusahakan peluang yang ada sekarang. Ia masih belum mau pulang kampung dengan keadaan jobless. Paling tidak ketika ia pulang kampung dirinya sudah settle. Impiannya memiliki rumah dengan venting yang bisa buka tutup dan double kaca. Jadi ketika genting dibuka dan hujan ia masih bisa menikmati langit tetapi masih terlindung kaca. Kredit nail haji juga merupakan list futurenya. Ia berharap satu saat nanti bisa menunaikan ibadah haji bersama suami, orang tua, dan mertua.

"Ia congrats," Aida menyempatkan ke kos Breach. Aida merupakan lulusan Universitas Diponegoro. Breach baru saja pulang dari acara wisudanya. Orang tua Breach tidak hadir karena sedang ada acara.

"Makasih Ai, gimana dirimu kabarnya? Kangen banget lama gak ketemu."

"Iya ya kita kan sibuk skripsi masing-masing. Aku yang di waduk, ngelab sana sini. Kamu yang ini ono juga haha. Aku di terima di kantor yang waktu itu aku cerita."

"Oh ya? Ah Seneng banget alhamdulillah akhirnya setelah berderai-derai ya?" Aida terkekeh.

"Aku habits ini pulkam baru interview. Interview online sih. Kuharap sesuai rencana. Aku Gak mau lama-lama di rumah."

"Kenapa? Gak mau istirahat dulu?" Breach menggeleng. Ia sudah menyelesaikan masa magangnya di PDAM. Jadi ia bisa Bebas menentukan pilihan lain sekarang.

"Bukan aku banget Ai, diem di rumah."

"Gimana Rama?"

"Rama baik, lagi sibuk juga. Aku lama gak kontekan juga. Kadang jadwal free dia kan jadi beda soalnya kegiatan di luar terus. Akupun pusing skripsi jadi ya saling ngerti aja. Palingan via chat."

"Pacaran gak sih sama Rama?"

"Dibilang pacaran engga juga. Gak ngerti deh. Gak masalah juga sih kan masih free semua haha" Tawa Breach menular ke Aida. Kos sepi karena Crane sedang makan siang dengan orang tua dan kakaknya. Ia diajak tapi tidak mau. Ia ingin menghabiskan waktu dengan Aida.

Beloved Brave (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang