Breach sibuk dengan laptopnya. Ia mengerjakan tugas setelah mandi pagi dan sarapan. Ia Juga menikmati tayangan kartun bertokoh utama robot kucing. Sesekali ia mencomot lapis legit yang telah ia potong di piring.
Crane sibuk mengacak baju dalam almarinya. Ia bingung apa yang akan ia kenakan. Breach hanya menjawab bagus saat Crane bertanya. Crane menjadi semakin bingung. Gadis itu akhirnya memakai baju yang pertama ia ambil. Kemudian merapikan kembali ke dalam almari.
" Capai banget. " Crane mendudukkan dirinya di sofa samping Breach.
" Lebay lagian lo mah. Kayak mau ke mana ja. Penampilan mah senyamannya lo aja sih. "
" Ya kan emang mau ke mana gue entar. "
" Ya ya serah lo deh Juminah. Lagian tiga jam bolak-balik bongkar-bongkar almari segala. Dari gue nonton kartun sampai laporan pertama gue selesai nih. " Breach menyandarkan tubuh ke sandaran sofa. Crane yang telah mendapat pesan jika Fazli telah di depan kosan segera keluar.
" Hati-hati lo. Awas dikejar bayangan loh. Haha. " Breach merapikan laptop. Ia menyimpan file laporan. Mencari buku referensi ke kamar. Ia mengernyit saat ada yang mengetuk pintu kosan. Mana mungkin Crane mengetuknya ia bisa langsung masuk. Ibu kos juga impossible mengetuk pintu. Ia membuka pintu terkejut ada Rama.
" Loh? "
" Hai. Kata Crane lagi sibuk ngerjain laporan yah? " Rama tersenyum.
" Eh iya. Duduk di teras ya Ram. Bentar. " Breach menutup pintu kemudian masuk. Ia mengambil minum dan makanan ringan untuk Rama. Setelah itu ia masuk lagi mengambil buku serta laptop dan terminal kabel.
" Maaf aku sambil ngerjain laporan yah. Eh diminum dimakan juga. Silakan seadanya aja yah hehe. Maaf di luar Juga. " Breach menangkupkan kedua tangan di depan dada.
" Gak papa. Aku yang ganggu ya ini? "
" Gak ko. " Breach membolak balik halaman beberapa buku kemudian menandainya dengan pulpen warna. Karena kurang nyaman duduk di kursi. Ia duduk lesehan di lantai. Menggeser ke samping kursi yang tadi ia duduki.
" Ram boleh minta tolong gak. Cariin jurnal yang kaya gini pakai ponselku aja. " Ia memberikan note dan ponselnya. Rama menerima dan segera jari-jarinya mengetik dalam keywords ponsel.
" Kalau udah ketemu kirim ke bluetooth pcku namanya yang paling panjang. Makasih Ram. " Setelah mengirim jurnal, Rama mendapat telepon dari abinya. Ia sangat merindukan sang abi juga adik kembarnya. Sesekali Rama tertawa saat mengobrol dengan abi.
" Maaf Ram, jadi dicuekin deh lo. Tadi Om Gravin? "
" Santai aja. Bentar lagi adik gue ngajak vc grup sama abi. Kadang gue ngerasa kami konyol. Tapi kenyataan emang gitu sih. " Breach mengangguk. Ia sedikit meregangkan tangan. Juga mengerakkan kepalanya. Rasanya sangat pegal. Ia membereskan laptop, buku dan peralatan ke kamar. Kemudian duduk di kursi meminum air di gelas yang tadi ia bawa saat menyuguhkan Rama.
Ia melihat Rama masih asik vc dengan abi dan adiknya. Ah beberapa Hari ini dia juga belum memberi kabar orang rumah. Ia mengetikkan beberapa kalimat di kotak pesan kemudian mengirimkannya.
" Dah selesai nugasnya? " Rama duduk kembali. Breach menggeleng tugasnya masih banyak.
" Istirahat dulu sih. Oh ya mau makan apa nih? Habis ini dhuhur mau pesan aja apa sekalian ke masjid? " Breach menatap Rama yang baru saja mendaratkan pantat ke kursi.
" Nanti sekalian salat aja. Dekat gak tempat makan sama masjidnya? " Rama meletakkan ponsel ke meja.
" Jauh sih. Pakai motor aja entar. "
KAMU SEDANG MEMBACA
Beloved Brave (Tamat)
Teen FictionSekuel Future Pedang Pora nih. Hehe.😀😀😀 Ini adalah aku dengan tujuanku. Umi kuharap umi meridhoiku walau tidak di sini. Banyak yang harus aku korbankan. Tapi jika aku bisa apapun untuk ibu pertiwi akan kulakukan.
