12

849 57 1
                                        

Ghiffar tengah bersiap untuk keluar. Ia memakai pakaian pesiarnya. Akuifer berniat akan mengagetkan Ghiffar. Namun, rencana Akuifer gagal. Baru akan menepuk pundak Ghiffar gadis itu telah dikunci pergerakannya oleh Ghiffar.

Akuifer berusaha melepas kuncian Ghiffar. Ia akan menjegal kaki Ghiffar. Tetapi Ghiffar sigap menghindar. Jadilah mereka seperti berpelukan. Akhirnya Ghiffar mengalah. Ia melepaskan Akuifer. Tangan Akuifer memerah karena bekas cengkraman Ghiffar. Gadis itu mengetikkan bahunya.

Ghiffar yang melihat Akuifer berjalan di depan memiliki ide. Ia memetik ranting beserta daun. Menggelitik Akuifer.

" Wes wes wes kalian ini. Berantem ja kerjaannya gak capai apa? " Rado menjadi penengah saat Akuifer akan melayangkan bogem ke Ghiffar.

" Teman kau itu. Jahilnya kumat, heran kalau udah pesiar. " Rado tertawa. Ia merangkul Ghiffar di kanan sedangkan Akuifer di kiri.

" Lagian diladenin sih. " Ghiffar juga balas merangkul Rado.

" Bisa mati sia-sia dong. Tiba-tiba kekunci gak bisa napas. " Akuifer menatap Ghiffar sengit.

" Kan nanti bisa kukasih napas buatan Pel. Iya Kan Rad? " Akuifer mendumel mendengar candaan Ghiffar.

Mereka menunggu Bus Trans Semarang di halte BRT. Ghiffar berdiri di pojok dengan Akuifer duduk di dekatnya. Hari memang masih agak terang walau sudah menjelang malam. Semarang masih terasa panas. Peluh yang terbentuk di kening dan pelipis Ghiffar, ia biarkan saja. Akuifer yang sebal melempar sapu tangannya. Ghiffar sigap menangkap lemparan sapu tangan.

" Kenapa dilempar, punya siapa nih? " Anak-anak sekolah yang juga menunggu bus berjengit. Mereka yang tadi menatap Ghiffar kagum segera mengalihkan pandangan karena takut.

" Heh Ipal punya gue itu. Pakai! Keringat kau alamak. " Ghiffar menyengir. Ia agak merasa bersalah karena tadi bertanya dengan nada agak tinggi.

" Maaf ya adik-adik hehe. " Ghiffar meminta maaf kemudian mengelap peluh dengan sapu tangan. Rado masih asik saja dengan ponselnya. Mungkin menghubungi sang rekanita. Ocha adalah pacarnya sejak kelas X SMA sampai sekarang. Mereka menjalani LDR.

Tak lama bus datang. Mereka segera masuk ke dalam. Bus again penuh karena memang jam pulang kerja dan jam pulang sekolah. Akuifer, Ghiffar, dan Rado memilih berdiri. Rado mengambil video Ghiffar dan Akuifer sang saling toyor kepala dalam bus. Ia selalu tertawa melihat tingkah aneh kedua lettingnya itu.

" Far, Fer. " Ia memanggil mereka menoleh ke arah ponsel dengan kamera menyala.

" Kenapa? " Sahut keduanya kompak. Akuifer mengernyit melihat Rado terpingkal-pingkal. Ia baru sadar jika sedari tadi Rado mengarahkan ponsel ke arahnya dan Ghiffar. Menyadari Akuifer akan mengambil ponselnya Rado menyimpan video kemudian memasukkan ponsel di kantung celananya.

😀😀😀

Simpang Lima tidak pernah sepi. Lalu lalang kendaraan dari pagi sampai pagi tiada henti. Seolah pusat kota ini tidak pernah mati. Ketiganya sampai di Simpang Lima hampir maghrib. Mereka memutuskan until salat di Masjid Raya Baiturrahman Semarang. Mereka berpisah, Akuifer menuju tempat wudhu putri sedangkan Ghiffar dan Rado ke tempat wudhu putra.

Subhanallah walhamdulillah walaila haa I'll Allah wallahu Akbar 3×
Astagfirullahal 'adzim
Laa ila haa illallah

Suara iqamah berkumandang. Akuifer berjalan ke saf depan. Ia dapat melihat imam yang berada di lantai bawah.

😀😀😀

Beloved Brave (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang