Esok paginya Changsub menelepon Aliya. Ia menatap wajah Minhyuk yang masih terlelap di sampingnya. Telepon tersambung tapi tak ada jawaban. Changsub menghubunginya lagi. Kali ini diangkat
"Aliya? Kau baik-baik saja? Aku khawatir" kata Changsub
"Kepalaku sakit sekali" Aliya menjawab dari ujung telepon. Changsub menutup teleponnya dan menyambar jaketnya. Ia bergegas. Hari ini ia berencana membawa Aliya ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan ia terus memikirkan kata-kata Hyungnya.
Changsub membelokkan mobilnya dan membeli sebotol susu, ia juga membeli beberapa bungkus bubur instan dan makanan kecil. Ia masuk kembali ke mobilnya dan menatap kantong belanjanya.
"Bukankah itu seharusnya urusan rumah sakit?" Ia mengambil sesuatu dari kantong celananya. Kunci duplikat rumah Aliya yang tak sempat ia kembalikan. Ia memasukannya lagi dan berlalu.
Sesampainya di kediaman Aliya, ia berpapasan dengan pelayan toko hotdog yang kerap ditemuinya.
"Ah tuan" katanya sopan
"Aku mau mengembalikan ini" kata Changsub menyerahkan kunci duplikat rumah Aliya.
"Maaf tuan, simpanlah dulu, aku buru-buru" pelayan itu berlalu dengan cepat.
Changsub mengantongi kunci itu lagi. Ia mengetuk pelan pintu abu kusam rumah Aliya. Tak ada jawaban. Ia memanggil Aliya. Tak ada jawaban. Ia menelepon ponsel Aliya. Tak ada jawaban. Changsub mengambil kunci duplikat yang dipegangnya dan masuk ke dalam.
Ia melihat Aliya sedang tertidur. Wajahnya pucat dan beberapa bekas bungkus makanan berserakan. Changsub mendekatinya dan menatap lembut wajah wanita itu. Aliya menitikkan air mata.
"Kau pasti kesulitan" katanya pelan.
Changsub membereskan kantung makanan kosong yang berserakan dan membuangnya ke tempat sampah. Ia bergegas ke dapur. Tak banyak benda yang ia temui disana. Ia mengambil beberapa panci, memanaskan susu dan membuat bubur instant. Ia tak segan membuka kulkas dan menemukan sebungkus strawberry merah yang tampak manis. Tak lupa ia menambahkan sebuah telur mata sapi setengah matang di atas mangkuk bubur. Setelah siap, ia membawanya diatas baki dan kembali ke kamar Aliya.
Changsub duduk di samping tempat tidur Aliya dan menyeka peluh yang membanjiri wajah Aliya. Ia masih demam.
"Aliya ..." Changsub membangunkannya. Aliya mengerjap dan tertegun sejenak
"Changsub" katanya pelan. Ia berusaha bangkit. Changsub membantunya duduk.
"Maaf kalau aku lancang, aku ..." Changsub tak dapat berkata-kata. Ia menarik makanan yang sudah ia siapkan. Aliya tersenyum melihatnya.
"Jadi aku tak perlu ke rumah sakit?" Katanya menatap makanan buatan Changsub. Ia tersenyum.
"Makanlah" Changsub menatapnya. Tiba-tiba Aliya menangis.
"Terima kasih, Changsub" Changsub menghapus air mata Aliya dengan ibu jari.
"Aku akan selalu membantumu jika kau butuh bantuanku, Aliya" katanya mengusap air mata Aliya yang belum berhenti.
***
Changsub memutuskan untuk tetap berada disana sampai Aliya merasa lebih baik.
"Kau tak bekerja?" Tanya Aliya. Changsub menggeleng sambil mengupas jeruk. "Jangan-jangan kau tak punya pekerjaan" kata Aliya.
"Apa aku terlihat seburuk itu?" Changsub memelototi Aliya. Aliya terkekeh.
"Kau tak pernah menceritakannya padaku"
"Aku ..." Changsub menatapnya "sembuhlah dahulu. Aku akan memberitahumu pekerjaanku kalau kau sudah sembuh" kata Changsub.
"Lee Changsub" Aliya diam "kenapa baik sekali kepadaku? Kau menyukaiku?"
"Apakah datang bulan juga membuatmu berhalusinasi?" Wajah Changsub memerah. Ia tak bisa memastikan perasaannya pada Aliya. Apakah itu suka atau hanya perhatian biasa. Ia tak tau rasanya jatuh cinta. Tapi wanita di hadapannya membuatnya berdebar dan khawatir di saat bersamaan.
"Aaah, kukira kau menyukaiku. Aku tak pernah diperlakukan dengan sebaik ini oleh orang-orang" kata Aliya pelan.
"Kau harus cepat sembuh" Changsub tersenyum.
***
Sejak kejadian itu, Changsub dan Aliya bertambah dekat. Keesokan harinya kondisi Aliya belum membaik. Changsub datang lagi membawa sebotol susu dan beberapa kantong coklat. Bedanya hari ini Aliya sudah bisa bangkit walau tubuhnya lemah.
"Ayo berjalan-jalan. Ada taman didepan sana. Kau butuh udara segar" kata Changsub. Aliya menurutinya. Ia memakai mantelnya dan berjalan pelan.
Mereka duduk disebuah bangku kayu dan menempelkan kaki mereka pada pasir di bawahnya.
"Kau tak bekerja lagi untukku?" Tanya Aliya.
"Aku bekerja, nanti" kata Changsub seadanya. Aliya menjangkau wajah Changsub dan memegang pipi Changsub dengan kedua tangannya.
"Kau orang yang baik. Tapi kau harus tetap bekerja dengan baik agar bisa dapat banyak uang" kata Aliya.
Changsub tersipu. Wajahnya yang putih bersinar itu kini memerah. Ini pertama kali baginya disentuh wanita. Tangan Aliya terasa hangat. Mata coklat gelap itu menatapnya langsung. Jantung Changsub berdetak cepat. Ia bahkan tak tau harus bagaimana. Telinga Changsub ikut memerah.
"Aaah, kau benar-benar harus ikut denganku ke suatu tempat saat kau benar-benar sembuh" Changsub melepaskan tangan Aliya sebelum ia benar-benar meledak.
"Aku akan menunggunya" Aliya tersenyum manis.
KAMU SEDANG MEMBACA
WHITE CAMELIA
Fiksi PenggemarSINOPSIS "CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA ITU OMONG KOSONG!" Seru Changsub suatu ketika. Ia sedang duduk menyesap minuman kerasnya ketika seseorang yang hanya dilihatnya selama 7 detik menganggu setiap tidur malamnya. Mereka menyebutnya Camelia. Nama c...
