#Mahendra Series
mereka dipertemukan atas sebuah alasan dan Indri rasanya ingin mengutuk Tuhan saat tahu alasan kenapa Tuhan membawa Dipta ke dalam hidupnya. Indri kembali terluka bahkan dengan alasan yang sama, mungkin Tuhan sebenci itu padanya ia...
========== Don't Plagiarism!!!! Karya ini milik pribadi siamatiranrasa, mari saling menghargai! ==========
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hola, People!
Mulai hari ini Indri memegang keyakinan penuh pada kalimat jika tak ada yang kebetulan di dunia ini segala sesuatunya terjadi Karena Tuhan sudah mentakdirkan, seperti pertemuannya dengan Bayu Dipta Mahendra. Indri tahu nama lengkap pria itu setelah merayu Arissya dan berjanji akan menghandle butik selama seminggu sedang Arissya menikmati waktu bersama keluarga kecilnya, bagi Indri tak masalah toh dia juga tak ada pekerjaan ataupun keluarga yang menunggunya.
Kembali lagi ke waktu saat ini, Indri yang berniat menghabiskan waktu sendiri setelah semua pekerjaan di butik selesai malah di pertemukan kembali dengan Dipta di salah satu café yang memang menjadi langganan Indri setiap pulang bekerja. Indri menyadari pandangan curiga Dipta saat dia tanpa permisi duduk di hadapan pria itu.
"Kamu penguntit yah?" Indri menatap bingung Dipta sebelum menggeleng "Bukan kok, aku Indri kalau kamu lupa" ucap Indri yang diakhiri senyum manis andalannya.
Dipta memutar bola mata malas "Dengan kamu yang tiba-tiba ada di hadapan saya menjelaskan satu hal, kamu ikutin saya kan?"
"Dih, pede amat. Seagresif-agresifnya aku, stalkerin orang sampai ngikutin dia itu bukan gaya aku banget" ucap Indri sebelum memanggil pelayan memesan minuman.
Setelah pelayan menjauh Dipta terlihat menghentikan kegiatannya dan memandang Indri menilai "Kamu ini emang keras kepala yah? Bukannya saya sudah bilang saya gak suka cewek agresif dan seenaknya kayak kamu ini"
Indri mengedik bahu tak peduli "Kamu gak punya hak larang-larang aku buat suka sama kamu, kalau ngerasa terganggu yaudah gak usah peduliin aku gampangkan" Indri bisa mendengar Dipta mendengus kesal.
Tak lama minuman pesanan Indri datang, tanpa peduli tatapan tajam Dipta di hadapannya Indri menyesap minumannya. Entah berapa lama mereka duduk diam hingga suara hujan yang semakin deras mengalihkan fokus Indri dari pria yang sepertinya merealisasikan kata-kata Indri untuk tak peduli padanya.
Indri paling benci hujan, dia benci suara gemuruh akibat petir, hal itu mengingatkannya pada kenangan paling ingin dia lupakan seumur hidupnya, kenangan yang menjadikan Indri tak punya keluarga. Indri bisa merasakan keringat sudah mengucur di pelipisnya bahkan tangannya sudah mulai basah, suara petir yang bersahutan di luar sana benar-benar mengacaukan Indri.
Setelah menyimpan selembar uang seratus ribuan di meja dan tanpa pamitan pada Dipta yang terlihat sibuk memainkan ponselnya Indri bergegas meninggalkan tempat itu, orang lain tak boleh melihat dia dalam keadaan lemah dan tak berdaya Indri harus segera sampai di apartemen dan sialnya dia tak membawa mobil sebab mobilnya masih di bengkel.
Dengan tangan yang saling meremas Indri melangkah keluar dari café, mencoba untuk berjalan kaki saja karena memang apartemennya tak cukup jauh. Peduli setan dengan hujan, Indri melangkahkan kaki tapi suara gemuruh yang cukup besar menghentikan langkahnya ditengah hujan, Indri terdiam tak bisa mendengar apapun. Ingatannya dibawa kembali ke hari itu, hari dimana ayahnya membuatnya patah hati untuk pertama kalinya.