#Mahendra Series
mereka dipertemukan atas sebuah alasan dan Indri rasanya ingin mengutuk Tuhan saat tahu alasan kenapa Tuhan membawa Dipta ke dalam hidupnya. Indri kembali terluka bahkan dengan alasan yang sama, mungkin Tuhan sebenci itu padanya ia...
========== Don’t Plagiarism!!!! Karya ini milik pribadi siamatiranrasa, mari saling menghargai! ==========
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hola, People!
Dipta menajamkan penglihatannya, ia merasa seperti ada yang salah dengan matanya. Entah sejak kapan ibunya berubah bentuk badan, bahkan rambut ibunya terlihat begitu indah dilihat dari belakang. Dipta kembali mengucek mata, mungkin saja ia hanya berhalusinasi karena semalam sempat begadang mengurus kerjaan sehingga membuatnya kurang fokus hari ini.
“Kamu ngapain disitu?” Dipta mengernyit, itu terdengar seperti suara ibunya tapi perempuan yang sedang berkutat di dapur sama sekali tak terlihat sedang berbicara.
Dipta baru saja akan melangkah mendekat ke dapur kembali suara ibunya terdengar “Eh, nih anak di Tanya malah nyelonong aja, kamu gak kesurupan kan pagi-pagi?” Dipta pasti sudah gila, bagaimana mungkin suara ibunya terdengar dari belakang sedang yang ia tahu perempuan yang sibuk dengan alat memasak itu adalah ibunya meski terlihat agak berbeda.
Dipta perlahan berbalik dan terkejut mendapati sang ibu sedang menatapnya garang, jadi jika itu ibunya terus perempuan di dapur siapa? Dipta bergidik pelan sampai suara lain ikut bergabung bersama mereka.
“Tante…” Dipta kembali menghadap dapur dengan cepat dan rasanya ia ingin mengumpat saat itu juga. Dipta tak habis pikir apa yang dilakukan wanita agresif itu dirumahnya.
“Liatinnya gitu amat bang, entar naksir loh” suara ledekan Bimo membuat Dipta menarik pandangannya dan berbalik menatap ibunya “Dia ngapain disini bun?” sahut Dipta sambil menunjuk kearah Indri.
Dipta menatap Indri tajam “Kamu itu kepala batu yah, saya kan sudah bilang berhenti ganggu saya, kamu bukan tipe saya, paham?”
“Dipta, bunda gak ngajarin kamu kasar gitu yah” suara ibunya terdengar menegur Dipta.
Indri hanya mengedikkan bahu tak peduli “Dih, situ kepedaan. Aku kesini buat ketemu tante Wulan kali” plus pedekatein kamu sih sebenarnya Indri melanjutkan dalam hati ucapannya.
Dipta menggeleng kepala tak percaya, wanita satu ini memang aneh. Manusia mana yang datang bertamu pagi-pagi dan bahkan berkutat dengan dapur seakan-akan dia tuan rumah disini.
"Terserah kamu saja lah" tutup Dipta sebelum melangkah ke meja makan dan tak menghiraukan keberadaan Indri lagi.
Indri merasa tak enak hati, sejak tadi wajah Dipta terlihat sangat terganggu dengan keberadaanya. Indri berdehem pelan "Tante, kayaknya Indri pamit aja deh" sahut Indri pelan.
"Loh kok buru-buru gitu sih, kamu tunggu bentar. Nanti berangkat bareng sama Dipta aja"
"Bunda apa-apaan sih, dia bisa kesini sendiri berarti pergi juga bisa sendiri. Nyusahin aja"