20. Get Hurt Alone

572 48 0
                                        

==========
Don’t Plagiarism!!!!
Karya ini milik pribadi siamatiranrasa, mari saling menghargai!
==========

==========Don’t Plagiarism!!!!Karya ini milik pribadi siamatiranrasa, mari saling menghargai!==========

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hola, People!

Arissya tahu jika Indri sedang tak baik-baik saja, terlihat saat beberapa kali sahabatnya itu kedapatan melamun. Bahkan sekarang Indri terlihat menghembuskan nafas lelah seakan-akan ada beban berat yang sedang di pikul perempuan itu.

"Ri, gak pulang? Dipta gak jemput?"
Indri menggeleng pelan "Gak jemput kayaknya" balas Indri singkat.

"Tumben, kalian lagi berantem yah?"

Pertanyaan Arissya membuat Indri bergeming, di tatapnya Arissya yang terlihat menunggu jawabannya. Indri berpikir untuk memberi tahu Arissya perihal kejadian seminggu lalu, tapi ia takut akan jadi masalah baru nantinya, Indri tersenyum pelan sebelum menggeleng seakan menjawab jika dirinya dan Dipta baik-baik saja.

Indri pamit pulang lebih dulu, dan beruntungnya Arissya langsung mengiyakan tanpa bertanya apapun lagi. Hampir seminggu lalu Indri dihadapkan pada kenyataan yang membuatnya berpikir dua kali untuk melanjutkan semua ini bersama Dipta, tapi usaha kekasihnya itu untuk meyakinkan Indri nyatanya mampu membuat Indri memilih bertahan. Meski sejak hari itu pula Indri tahu tidak akan ada yang sama lagi, mungkin perlahan ia akan benar-benar kehilangan Dipta.

Mobil Indri terparkir sempurna di basemen gedung apartemennya, dengan lunglai Indri melangkah menuju lift yang membawanya ke lantai unitnya berada. Indri kehilangan pertahanannya saat pintu apartemennya tertutup, Indri menangis sendirian.

Dipta berubah, mengabari Indri tak sesering biasanya bahkan Indri lebih sering menghabiskan waktu sendirian dibanding bersama kekasihnya sendiri. Indri tahu betul penyebabnya, pria itu sedang menghabiskan waktu bersama putranya dan mungkin juga ibu dari putranya. Hal seperti ini malah membuat Indri kehilangan harapan untuk bertahan sekali lagi, jika saja Indri ingin egois, ia hanya ingin Dipta untuk dirinya sendiri.

Tangis Indri berhenti saat mendengar seseorang membuka pintu apartemennya, dengan tergesa Indri menghapus bekas airmatanya, jelas ia tahu siapa yang akan datang.

"Sayang..." Indri memaksa diri tersenyum, saat wajah sumringah Dipta muncul di hadapannya.

"Kok gak bilang mau kesini?"

Dipta melangkah membawa Indri ke dalam pelukannya "Emang aku harus bilang untuk datang ke apartemen tunangan aku sendiri, sayang kangen banget"

Indri mengigit pelan bibirnya sendiri menahan agar tangisnya tak tumpah saat ini "Dari kantor langsung kesini?" Tanya Indri setelah melepas pelukan dan kembali duduk di sofa ruang tamunya.

"Aku habis ketemu Lio, anak aku itu pinter banget. Aku beliin dia banyak mainan terus dia minta di temenin ke Dufan, jadi kita ke Dufan setelah itu aku anterin Lio pulang dan pas dia udah tidur baru aku kesini" Dipta bercerita dengan wajah berbinar, jelas pria itu begitu bahagia.

Yes, I Will. (Lengkap)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang