12. Cinta gak? Cintalah masa nggak!

463 45 1
                                        

==========
Don’t Plagiarism!!!!
Karya ini milik pribadi siamatiranrasa, mari saling menghargai!
==========

==========Don’t Plagiarism!!!!Karya ini milik pribadi siamatiranrasa, mari saling menghargai!==========

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hola, People!

Selepas mobil Ringga meninggalkan apartemen nya, Indri bergegas menuju lift untuk ke lantai dimana unitnya berada. Indri menghela nafas, duduk berjam-jam di dalam mobil ternyata cukup melelahkan, bunyi dentingan lift menandakan kotak besi itu sudah sampai di lantai tujuan Indri.

Berjalan sambil menarik koper dan memainkan ponsel di tangan satunya membuat Indri tak sadar jika saat ini seseorang sudah menatapnya di pintu unit perempuan itu. Indri mengadu saat kepalanya terasa membentur sesuatu, mengangkat kepala dan Indri dibuat kaget setelahnya tak menyangka jika Dipta sekarang berdiri tepat di hadapannya.

"Loh Dipta? Ngapain disini?" Indri merutuki dirinya dalam hati, bukannya sudah jelas jika pria itu pasti ingin menemuinya.

Dipta menyugar kasar rambutnya "Kamu buka pintu aja dulu" ucap Dipta sambil bergerak ke pinggir dan mempersilahkan Indri membuka pintu unitnya.

Jantung Indri sudah bergemuruh bersahutan, Dipta yang kini berdiri tepat di belakangnya dan nyaris tanpa jarak bahkan Indri bisa merasakan dada bidang pria itu di bagian belakang kepalanya. Setelah menekan sandi unitnya dan bunyi klik Indri mendorong pintu untuk terbuka, baru saja selangkah kakinya menginjak lantai unitnya tubuh Indri di balik dengan cepat dan tepat saat itu juga bibirnya bertemu dengan benda kenyal nan basah, bibir milik Dipta saat ini memagut miliknya.

Indri tak kuasa menahan senyuman di sela-sela ciuman itu saat Dipta semakin mempersempit jarak, dengan berani Indri mengalungkan lengannya ke leher Dipta dan pria itu makin menjadi dengan menelusup kan lidahnya untuk saling menggoda dengan milik Indri. Dipta mengerang tertahan saat Indri meremas pelan rambut pria itu, Indri mengigit bibir menahan suaranya saat mulut dan lidah Dipta kini perlahan bermain di rahang kemudian semakin turun ke arah leher Indri.

Kegiatan mereka mungkin saja semakin jauh andai suara seseorang tidak menginterupsi mereka "ASTAGA, MATA GUE!"

Indri mendorong keras bahu Dipta saat menyadari suara siapa itu, dan kini ia memilih bersembunyi di balik badan Dipta karena terlalu malu menatap wajah orang yang saat ini sudah pasti menatap tajam Dipta, bisa di dengar dari helaan nafas wanita itu, Arissya Dewangga.

"Indri, gak usah sembunyi lu!"

Indri memunculkan sedikit kepala dari balik tubuh Dipta "Hai!"

"Gak usah cengengesan lu, tuh bibir bengkak di sedot tawon?" Arissya menggeleng kepala melihat kelakuan dua orang dihadapannya.

Dipta menarik pelan Indri untuk berdiri di sampingnya "Kenapa sih Sya, itu bukan tawon yang sedot tapi gue" ucapan frontal Dipta membuat wajah Indri memerah malu.

Yes, I Will. (Lengkap)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang