21. Mari berpisah

787 60 3
                                        

==========
Don’t Plagiarism!!!!
Karya ini milik pribadi siamatiranrasa, mari saling menghargai!
==========

==========Don’t Plagiarism!!!!Karya ini milik pribadi siamatiranrasa, mari saling menghargai!==========

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hola, People!

Indri menggila, apartemennya berubah menjadi kapal pecah. Pecahan kaca dimana-mana dan setelah membuat kekacauan Indri sekarang hanya meringkuk di sofa dengan airmata yang tak henti-hentinya. Dipta tak mengejarnya, bukankah sudah jelas pria itu tak memilih Indri, meremas pelan dadanya yang terluka mati-matian. Indri sendirian, menelan habis luka yang begitu keterlaluan menikam nya.

Indri terlonjak kaget saat suara dobrakan pintu di sertai teriakan menyapa indera pendengarannya "Indri..."

Arissya menerjang memeluk sahabatnya, Ringga dan Aleya yang juga ada disana menatap sendu pada Indri yang biasanya terlihat ceria.

"Ri, jangan kayak gini"

Indri menggeleng pelan "Gue capek Sya, kenapa harus gue? Kenapa Gue yang dipilih Tuhan untuk menanggung ini, gue bahkan gak sekuat itu" Indri terisak, airmatanya luruh dalam pelukan Arissya.

"Gue ikutan sakit liat lu kayak gini Ri, kita bisa lewatin ini bareng-bareng Ri" Arissya mencoba menguatkan sahabatnya.

Sedang Aleya dan Ringga memilih membereskan apartemen Indri, mereka membiarkan Arissya menenangkan Indri. Aleya bisa memahami bagaimana terlukanya Indri sekarang, Arissya sudah cerita semuanya. Indri yang begitu membenci ayahnya, kemudian di hadapkan pada kenyataan bahwa tunangannya memiliki anak dengan perempuan yang sama yang menjadi alasan Indri kehilangan kasih sayang Papa dan Mamanya. Anak yang dibawa Papa Indri dan di perkenalkan sebagai anak perempuan lain dari papa sepupunya itu.

Aleya pun tak tahu harus bagaimana, ia berdoa agar sepupu kesayangannya itu bisa segera meraih bahagianya.

*****

Cahaya matahari pagi merangsek masuk di sela-sela jendela kamar apartemen Indri, membuat si empunya perlahan terbangun dari lelapnya tidur. Indri terbangun memandangi langit-langit kamarnya, semalam ia menangis hingga tertidur di pelukan Arissya, mungkin Ringga yang memindahkannya ke dalam kamar. Hari ini Indri akan mengakhiri semuanya, beruntung baginya karena belum berstatus istri Dipta seperti kisah Papa dan Mamanya, Indri mungkin hanya akan kehilangan Dipta dan setelahnya Indri akan melupakan pria itu dan kembali berbahagia.

Indri beranjak bangun, ia meraih ponsel miliknya di nakas, mencari kontak seseorang yang akan di temui nya hari ini.

Indri
Boleh ketemu siang ini? Di Puan Cafe.

Setelah pesannya terkirim, Indri kembali mengunci ponsel dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia harus terlihat baik-baik saja, akan ia tunjukkan pada pria itu jika keputusan yang Indri ambil tak akan terlalu menyakitinya.

Yes, I Will. (Lengkap)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang