#Mahendra Series
mereka dipertemukan atas sebuah alasan dan Indri rasanya ingin mengutuk Tuhan saat tahu alasan kenapa Tuhan membawa Dipta ke dalam hidupnya. Indri kembali terluka bahkan dengan alasan yang sama, mungkin Tuhan sebenci itu padanya ia...
========== Don't Plagiarism!!!! Karya ini milik pribadi siamatiranrasa, mari saling menghargai! ==========
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hola, People!
Bimo baru saja tiba di rumahnya saat Dipta langsung menyongsongnya "Lu liat Indri?!" Tanya Dipta panik.
"Udah gue anterin pulang" sahut Bimo enteng.
"Maksud lu? Emang hak lu apa nganterin pulang tunangan gue?"
Bimo memutar bola mata malas "Dia mau pulang sendirian, yakali gue biarin"
"Kenapa gak ngasih tahu gue?!"
"Kayaknya Indri emang gak mau di anterin lu deh bang"
Dipta berdecih atas pendapat Bimo "Jangan sok tahu lu"
Bimo hanya mengedikkan bahu "Oh yah bang, cewek lu nangis matanya merah waktu gue anterin. Lu sadar gak sih udah nyakitin dia?" Tutup Bimo sebelum melangkah masuk meninggalkan Dipta sendirian.
*****
Setelah diantar oleh Bimo yang Indri lakukan di apartemennya hanya menonton serial Netflix maraton, bahkan meja di hadapannya sudah di penuhi bungkus makanan ringan dan mangkok bekas mi instan. Ponsel Indri sengaja ia matikan, berkali-kali ia mencoba fokus pada tontonan d hadapannya tapi rentetan kejadian hari ini terus mengusik Indri. Tak ada tanda-tanda Dipta mencarinya, mungkin hingga sekarang pria itu sibuk mengurus anak dan ibu dari anaknya, melupakan Indri yang mungkin sebentar lagi akan berstatus perempuan yang pernah jadi tunangan Dipta alias mantan.
Anggapan Indri salah, suara gedoran pintu yang terdengar frustasi membuat Indri bisa menebak siapa pelakunya. Indri memang langsung mengganti password unitnya, ia tak ingin Dipta bisa seenaknya masuk dan bersikap seakan diantara mereka tak ada masalah apapun. Suara gedoran yang makin keras memaksa Indri beranjak bangun dan setengah hati membuka pintu apartemennya.
"Kamu marah sama aku?!" Suara Dipta terdengar di penuhi kekalutan.
Indri memilih tak perduli, setelah membuka pintu ia kembali berbalik hendak melangkah untuk melanjutkan kegiatan menontonnya. Dekapan Dipta dari belakang menghentikan langkah Indri.
"Aku minta maaf"
Indri menahan diri sekuat tenaga untuk tak berbalik dan membalas pelukan Dipta, ia harus mulai membiasakan diri bahwa mungkin Dipta memang bukan untuknya.
"Sayang..."
Indri mengigit keras bibirnya, menahan keinginan untuk terisak kembali mendengar panggilan sayang yang mungkin tak akan ia dengar di masa depan.
"Aku minta maaf kalau sikap aku melukai kamu, aku gak bermaksud apapun. Kamu tahu betul Ri, bagaimana aku mencintai kamu, aku mohon jangan berpikir untuk pergi. Aku mohon beri tahu aku kalau kamu gak nyaman, apapun akan aku lakukan tapi jangan pernah tinggalin aku sayang"