Lima

3K 380 49
                                        

Shani POV

Sembari menunggu pelayan datang mengantarkan makanan, aku duduk dengan gelisah layaknya orang bego. Baru kali ini aku merasa mati gaya berhadapan dengan seseorang. Padahal biasanya aku tidak perlu repot-repot memikirkan sesuatu yang mau dikatakan karena pasti selama ini lawan bicarakulah yang sibuk mengoceh untuk menarik perhatianku. Bukan karma kan ini?

"Ehm gracia" suaraku terdengar pelan memanggil si empunya nama yang sedari tadi sibuk bermain dengan ponselnya. Dia mendongak, menatapku dengan menaikkan satu alisnya.

"Nng gajadi, terusin aja" Tuhkan baru ditatap kayak gitu aja mendadak otak blank, lupa apa yang mau dikatakan.

"Dasar orang aneh!" Gumamnya pelan yang masih bisa kudengar. Untungnya suasana canggung ini tidak berlangsung lama karena si pelayan datang mengantarkan makanan. Kami makan dalam diam sampai semua makananku habis tak bersisa. Tinggal gracia yang masih memakan makanannya dengan tenang dan pelan.

"Lo bisa ga liatin gue-nya ga kayak gitu" dia bertanya tiba-tiba.

"Lha mata-mata siapa, kok ngatur"

"Objek diruangan ini banyak, liat yang lain jangan liat ke gue terus. Risih!"

"Suka-suka guelah" Dia mendengus. Kemudian meletakkan sumpitnya pertanda dia sudah selesai.

"Kok ga diabisin makanannya?" Tanyaku.

"Udah enek" jawabnya sambil bersandar dikursi. Aku hanya mengangguk kemudian membuka ponselku.

"Udah bisa pulang sekarang?" Tanyanya.

"Buru-buru banget"

"Urusan gue banyak. Gue ga ada waktu nurutin lo yang kebanyakan improvisasi daritadi. Lo mau anterin gue ga? Kalau ga gue balik sendiri" Dia mulai memakai tasnya.

"Ck! Oke bentar" aku kemudian memanggil pelayan untuk membawakan tagihannya.

"Apa-apaan ini! Bisa tolong jelasin kenapa kayak gini?" Aku berbicara dengan nada tak santai saat mengetahui si pelayan membawakan dua tagihan ke hadapanku. Itu artinya tagihanku dan gracia dipisah.

"Maaf miss tapi ini sudah permintaan dari miss gracia untuk membuat tagihannya terpisah" jawab pelayan itu sopan.

"Ini norak tau ga! Nih untuk dua tagihan itu sekaligus, sana proses" Aku memberikan kartu kreditku pada pelayan itu.

"Mohon maaf miss, tapi tagihan miss gracia sudah dibayar" aku melongo kemudian menatap gracia menuntut penjelasan.

"Gre, bisa tolong jelasin kenapa kayak gini?" Dia hanya diam menatapku malas.

"Gue ga mau tau ya! Kasih dia refund, dan bayar tagihannya pakai itu" aku berkata dengan emosi pada pelayan itu.

"Maaf miss. Tapi ini sudah ketentuannya. Kami tidak berani melanggar"

"Arrggh! Sekarang mana manager atau ownernya panggil kesini. Gue mau bicara sama dia!" Aku berdiri kemudian setengah berteriak pada pelayan itu.

"Biar saya saja" gracia mulai bicara pada pelayan itu. Tak lama pelayan itupun segera berlalu pergi.

"Duduk! Gue mewakili manager atau owner disini. Apa yang mau lo bicarakan?" Dia menyuruhku duduk kemudian mengatakan hal yang membuatku agak shock.

"Oh gue ngerti sekarang. Ini restaurant milik keluarga lo. Fine gue terima! Tapi kenapa soal tagihan itu harus dipisah? Lo pikir gue ga sanggup bayar semua makanan ini? Lo udah nyakitin harga diri gue"

"Owwh sorry nona shani yang terhormat, gue ga bermaksud melukai harga diri lo, lagian bukan urusan gue juga sih. Ini udah rules gue dari dulu jauh sebelum gue kenal sama lo. Gue ga suka hutang budi sama orang lain, jadi apa yang kita makan itu jadi tanggung jawab kita masing-masing"

"Tapi ini udah kebiasaan gue juga dari dulu, siapapun yang gue ajak pergi dia jadi tanggung jawab gue. Buktinya selama ini mereka happy-happy aja tuh. Lo malah nolak rejeki"

"Kalau gitu kenapa ga ajak mereka aja? Lagian dari awal gue kesini juga lo yang maksa. Jadi ga usah sok jadi orang yang tersakiti disini"

"Apa kita bakal kayak gini terus kalau makan atau pergi berdua?"

"Maksudnya apa ini? Kayak gini terus gimana? Lo denger gue ya. Ini pertama dan terakhir kalinya gue pergi sama lo. Gue harap setelah ini kita ga akan pernah ketemu lagi!" Setelah mengatakan itu dia kemudian berdiri berjalan keluar. Mau ga mau aku mengikutinya. Lo liat aja ntar, gue pasti bisa bikin lo jatuh ke pelukan gue.

---------------

Gracia POV

"Lo ga nanya rumah gue dimana?" tanyaku saat cukup lama kita saling diam di dalam mobil. Dia bahkan ga nanya sedikitpun alamat rumahku.

"Ga perlu. Gue udah tau" seriusan? Creepy nih orang lama-lama. Dan benar saja 15 menit kemudian mobilnya berhenti tepat di depan rumah.

"Lo mau ngapain?" Tanyaku saat melihatnya melepas seatbelt dan bergerak membuka pintu mobil.

"Ehm mau ikut kedalam" jawabnya santai.

"Siapa yang nyuruh? Mending lo balik deh sana"

"Ga ada yang nyuruh. Inisiatif gue. Bersyukur dong harusnya karena rumah lo kedatangan tamu terhormat kayak gue"

"Dih ga sudi! Sana pulang!" Dengan kasar aku segera membuka pintu mobil dan berjalan keluar. Sedangkan Shani? Mana pernah dia dengerin omongan orang, sudah pasti ikut keluar.

Baru berjalan beberapa langkah dengan shani yang mengekor di belakang, tampak seorang anak kecil berlari dengan riang dari dalam rumah menghampiriku. Akupun tersenyum menyambutnya.

"Mommy. . ."

Tbc.

Meet The BullyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang