Anya duduk disofa yang berhadapan dengan kedua orang tuanya, Auli dan Azran. Keduanya masih nampak muda walau usianya sudah memasuki usia 45 tahun.
"Jadi, kenapa Anya dipanggil untuk pulang ke rumah?" tanya Anya penasaran. Biasnya Anya akan pulang ke rumah ini saat libur kuliah, tapi ini kan belum waktunya libur.
Auli berdehem singkat, lalu berbicara "Kamu mau ketemu Adit?" tanya Auli to the point. Anya terhenyak mendengar nama Adit kembali disebut.
Tanpa menunggu 2 kali dia langsung mengangguk, dia mau ketemu Adit, dia sangat merindukan Adit. "Tapi ada syaratnya." ujar Azran.
"Apa syaratnya?"
"Kamu udah punya pacar atau belum?" tanya Auli mengalihkan pembicaraan. Anya menggeleng pelan.
"Enggak ada Bu, Anya kan suka nya sama Adit dari dulu."
Auli mengangguk. "Kamu harus lihat kondisi dia dulu, baru bisa memutuskan." ujar Auli.
Anya nampak keheranan, terbukti dengan alisnya yang terangkat sebelah.
"Ibu mau jodohin kamu sama Adit, tapi kami gak memaksa. Kamu lihat dulu kondisi Adit baru boleh memutuskan. Kami gak mau merusak masa depan kamu Anya." jelas Auli lembut.
Anya terdiam, dijodohin? Ya gak masalah sih. Lagipula bagus daripada Anya pacaran dan menambah daftar dosanya.
"Kapan kita kesana?" tanya Anya semangat, dia tak sabar ingin bertemu dengan Adit, sudah 14 tahun mereka berpisah.
Azran meminum teh manisnya terlebih dahulu baru menjawab "Nanti malam, ini masih jam 4 sore artinya kamu boleh istirahat dulu dikamar." jawabnya lembut.
Anya mengangguk semangat, tapi lebih baik dia ke ruang Gym saja, sudah lama tidak sparing dan melatih kekuatan otot tangannya.
🍃🍃🍃🍃
Jihan sibuk membenahi Adit, dari mulai memandikannya, mengganti popoknya, mengganti handuk yang terus melingkar di lehernya.
Memakaikan baju, bedak, minyak kayu putih, menyuntikan makanan ke selang dihidungnya, memberikan minum.
Adit sudah rapi dan tampan sekali, walau tubuhnya terlihat kurus dan ringkih, bahkan tulang selangkanya sedikit terlihat. Berat badan Adit hanya 40 kg, sangat ringan untuk seukuran pria.
Dia ditidurkan dikasur yang ada dikamarnya.
"Adit, hari ini Anya mau datang. Adit harus ganteng ya." ujar Kardi lembut sembari mengelus rambut putranya, Adit memandang Kardi dengan tatapan polosnya, lalu mengerjab pelan.
Tatapannya kembali terpecah "Ahg-yah.." panggil Adit pada Kardi, Kardi tertawa pelan sembari menjawil pelan hidung Adit.
"Kenapa nak? Kenapa manggil Ayah?" tanya Kardi lembut. Walau banyak orang yang menyuruh Kardi untuk membawa dan menitipkan Adit di rumah sakit saja dibanding dirumah.
Tetap Kardi tak mau, Adit anaknya dan mereka berusaha untuk merawatnya semampu mereka. Tapi tak bisa selamanya karena mereka juga memiliki kesibukan lain.
Seperti Kardi yang tak lain adalah seorang Owner dari pabrik keramik yang harus terus melanjutkan tugasnya, Jihan seorang Dosen yang harus terus mengajar setiap hari dikampus yang berbeda.
Maka dari itu, mereka harus mencarikan Adit pasangan hidup dan jawabannya tak lain adalah Anya. Jika Anya nantinya tak mau, maka mereka tak punya harapan lagi.
Segala usaha sudah dilakukan, Terapi, minum obat dan sebagainya. Tapi Adir seakan sudah pasrah akan hidupnya, dia tak mau berjuang.
Mungkin jika kedatangan Anya nantinya, bisa membuat Adit bersemangat untuk kembali berjuang.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Lumpuh Husband [End]
RomansaDijodohin, sangat klise sekali. Tapi dijodohin sama pria lumpuh? Dan pria itu adalah teman masa kecilnya. Udah lumpuh, manja+cengeng, apa jadinya kehidupan rumah tangganya. "Dit, ayo ganti popoknya." "Anhhya..annhya.." "Kenapa Dit?" "Anhyaa..Anhyaa"...
![My Lumpuh Husband [End]](https://img.wattpad.com/cover/267902855-64-k531840.jpg)