Unbonded - 5

1.6K 187 5
                                        

Musik klasik mengalun lembut, dan panggung utama mulai dipenuhi oleh pasangan berdansa. Kedua orang tua Mew, kedua orang tua Gulf, dan hampir semua tamu undangan sudah saling memeluk, dan berputar sesuai alunan lagu. Sedangkan kedua pengantin—Mew dan Gulf—sibuk dengan urusan masing-masing.

Gulf mengetuk-ketukkan kakinya, sesuai irama dan dengan tatapannya yang tidak lepas dari lantai dansa. Mew sendiri terus menatap ponselnya, tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari sana.

"Jadi kita cuma diem aja?" gerutu Gulf pelan. "Cuma diem sambil nunggu kamu selesai sama kerjaani?"

Mew meletakkan ponselnya, memasukkannya ke dalam saku bajunya. "Memangnya? Kamu mau turun ke lantai dansa?" Ia mengulurkan tangannya kepada Gulf, sebagai candaan. Sama sekali tidak menyangka bahwa Gulf akan meraihnya.

"Akhirnya sadar," ucap Gulf sarkas.

"Tunggu—" Mew menatap tangan Gulf dan mata laki-laki itu bergantian, memastikan bahwa Gulf tidak sedang bercanda. "—kamu serius?"

Menanggapi pertanyaan Mew, Gulf memicingkan matanya. Kakinya ia angkat, ia gerakkan untuk menginjak kaki Mew. "Jelas aku serius! Ini kejadian sekali seumur hidup! Nggak mungkin aku cuma duduk diam kalau ini harusnya hari bahagiaku!"

Mew mengaduh, tangannya berusaha meraih punggung kaki yang menjadi korban amarah Gulf. "Tapi kalau dansa aku harus sentuh kamu, pegang tanganmu, peluk kamu, mungkin juga cium kamu. Kamu masih mau dansa?"

Tangan Gulf melayang di udara, kemudian mendarat di lengan Mew, menimbulkan suara yang cukup keras. "Berhenti ngoceh! Cepat bawa aku ke lantai dansa!"

Yang Mew lakukan hanya menurut, menarik tangan Gulf begitu lembut dan membawanya ke lantai dansa. Tangan Mew singgah pada pinggang ramping Gulf, mendekapnya cukup erat dengan tatapannya yang tidak lepas dari sepasang sepatunya. "Tapi aku nggak jago dansa," curhat Mew. Ia mulai bergerak, berjalan gugup dalam lingkaran. Mew sama sekali tidak berani menatap Gulf, takut di olok-olok olehnya.

"Nggak apa, dulu aku sempat ambil kelas dansa," ucap Gulf meyakinkan. Ia yang memimpin sepenuhnya. Laki-laki itu dengan lihainya berputar, tangannya beristirahat di bahu Mew, mengarahkan sang suami harus bergerak seperti apa dan bergerak kemana.

"Jadi kamu memang nunggu momen ini?" tanya Mew penasaran. Yang ditanya mengangguk, begitu antusias hingga ujung rambutnya bergerak naik dan turun.

"Ya. Berdansa sama orang yang aku cinta, di hari pernikahanku. Dansa pertamaku untuk pasangan hidupku, aku mau yang seperti itu. Tapi dansa pertamaku malah sama kamu, orang asing yang terpaksa aku nikahi gara-gara orang tuaku." Gulf sedikit mempercepat langkahnya, demi menyamakan langkah kakinya dengan sang suami. "Jangan terlalu cepat, ikuti iramanya," Gulf memarahi Mew.

"Tatap mataku, ikuti gerakanku," perintah Gulf. Ia bergerak anggun, sedangkan Mew—Mew bergerak kaku.

"Nggak mau—" Mew memalingkan wajahnya. "—natap kamu cuma bikin aku tambah gugup."

"Nggak usah gugup." Gulf menggenggam tangan kanan Mew, sedangkan tangan kirinya masih di tempat semula. "Sekarang, mendekat," titah Gulf.

Dahi keduanya saling bersentuhan—walau sebelumnya Mew cukup ragu untuk mendekat—kini atmosfer diantara mereka begitu mesra. Lampu di ruangan padam, satu-satunya penerangan adalah lampu panggung yang berpusat pada mereka. "Ini aneh," bisik Mew.

"Apanya yang aneh?" tanya Gulf, balik berbisik.

"Kenapa disini gelap?"

"Karena kedua pengantin sedang berdansa."

"Memangnya itu harus?"

"Nggak juga sih, tapi suasananya bagus, kan?"

"Lumayan."

Unbonded. || MewGulfCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang