11.

69 20 9
                                        

Vote sebelum membaca.

~oOo~

"ATHANASIA!"

Sia melihat kearah pintu kelas. Terlihat Leta yang berdiri disana, dan disampingnya berdiri Aurum dan Intan. Leta terlihat menahan amarah, sangat terlihat jelas dari mukanya yang memerah dan sorot mata tajam yang mengintimidasi Sia.

Sia dengan wajah lempengnya menatap Leta. "Kenapa?" tanyanya seperti tidak tahu apa-apa. Padahal dia tau bahwa Leta marah karena dia yang mengatakan Leta jalang dan murahan tadi.

Leta berjalan mendekato Sia dan menggebrak mejanya. "KENAPA LO BILANG!? LO JANGAN SOK POLOS DEH! APA MAKSUD LO NGOMONGIN GUE JALANG DAN MURAHAN!? APA MAKSUD LO!?" teriak Leta tidak perduli bahwa banyak orang dikelas itu yang melihat mereka bertengkar, bahkan ada yang merecord mereka.

Sia berdiri lalu menatap Leta dan kedua temannya bergantian. "Itu kenyataannya 'kan?"

Plak!

Leta menampar pipi Sia sangking marahnya. Semua orang yang berada disitu menganga tidak percaya.

"LO GAK ADA BUKTI! JADI JANGAN ASAL NUDUH DEH! LO TU GAK TAU APA-APA TENTANG GUE! GUE BUKAN JALANG, GUE GAK MURAHAN! MUNGKIN LO TUH YANG MURAHAN, DEKET SAMA KAK ARGAN DAN KAK GLEN! ITU YANG PANTES DISEBUT MURAHAN! DIBAYAR BERAPA LO SAMA MEREKA, HAH!?"

Leta mencengkram kuat kerah baju Sia. Satu tangannya sudah mengepal diatas dan siap mendaratkannya kemuka Sia. Sia hanya bisa memejamkan matanya sembari menunduk. Saat Leta hendak memberi Sia pukulan, ada tangan seseorang yang memberhentikan tindakan Leta.

Orang itu menurunkan tangan Leta yang terkepal. "Gue sama Argan gak bayar dia sedikitpun." katanya dingin.

"K-kak Glen..." kata Aurum dan Intan berbarengan.

Glen mendengar semuanya. Dari awal sampai akhir. Tatapan Glen tertuju kepada siswi yang sedang memegang handphonenya sembari mengadahkan handphonenya kearah mereka.

"Hapus. Atau lo lebih milih hp lo hancur?" kata Glen dingin.

Siswi itu langsung menunduk dan menghapus rekamannya. Sungguh, tatapan Glen sangatlah menyeramkan.

Tatapan Glen kembali kearah Leta. "Lo ada dendam pribadi ke dia?" tanya Glen.

Leta menatap Sia jijik lalu beralih menatap Glen. "Iya Kak, gue ada dendam pribadi ke dia. Dia yang hancurin hidup gue! Mama sama papa gue lebih sayang ke dia ketimbang gue, anaknya sendiri! Dia ngambil semua yang seharusnya menjadi milik gue. Jujur, gue gak mempermasalahkan itu semua. Tapi, yang bikin gue semakin benci ke dia adalah, dia yang udah ngambil cinta pertama gue! Gimana gue gak marah coba!?" kata Leta sembari mencoba menetralkan emosinya.

"Cinta pertama lo? Siapa?" kata Argan yang tiba-tiba muncul lewat pintu.

Leta menatap Argan sembari tersenyum sendu. "Lo, Kak. Lo, cinta pertama gue. Maaf, gue gak sempet ngakuinnya." kata Leta sambil menunduk, tidak tahan melihat wajah Argan.

Argan memegang pundak Leta. "Gue udah tau Let, udah tau dari lama malah. Tapi, lo tau 'kan, kenapa gue gak bisa nerima cinta lo?"

Leta menatap Argan lalu mengangguk. "Kita sepupuan, karena itu lo gak bisa bales cinta gue." kata Leta sambil tersenyum sendu.

Athanasia [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang