Benci sama cinta itu beda tipis
⚠️[AREA 18+]⚠️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Doyong Nct as Dion Arya Delvano
Jungwo Nct as G. Julio Argantara
Dita Sn as Devita Safira Ayuna
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•••
Jam telah menandakan pukul 00 lewat lima menit namun Vita gadis manis itu belum juga tertidur. Lain halnya dengan lelaki disampingnya entah sejak kapan pria yang menyandang status suaminya itu telah tertidur pulas.
Pelukan diperut Vita juga merenggang. Dengkuran halus iacdengar keluar dari mulut Dion suaminya itu. Ia tau pasti Dion sedang kelelahan karena begitu banyak pekerjaannya saat dikantor walau Vita tak tau menahu apa saja yang pria itu kerjakan di kantornya.
Dengan perlahan dan kehati-hatian Vita menyingkirkan tangan Suaminya itu dari atas perutnya. Ia mendudukkan dirinya di samping kasur. Tiba-tiba saja ia terasa haus entah sudah menjadi kebiasaannya kali ini setiap tengah malam pasti ia terbangun karena tenggorokannya terasa kering ia pun jadi haus.
Tak menunggu waktu lagi Vita langsung keluar dari kamar untuk pergi kedapur. Sebelum itu ia memastikan keadaan Dion yang sudah sangat tertidur pulas. Dengan perlahan Vita membuka dan penutup pintu.
Baru saja ia melangkahkan kaki turun melewati tangga pertama yang ia pijak Vita mendengar suara tamparan serta ringisan suara wanita.
Vita yang penasaran ia langsung melirik pintu kamar Julio yang tak jauh dari pintu kamar Dion. Vita segera menepis pikirannya tentang mendengar suara tamparan tadi. Ia melanjutkan langkah kakinya turun melalui tangga didepannya.
Namun lagi Vita mendengar suara tamparan. Vita yang sudah sangat dibuat penasaran ia langsung berjalan perlahan menuju kamar yang dimaksudnya tadi yaitu kamar Julio. Yang Vita yakini suara itu berasal dari kamar tersebut.
Sesampainya disana entah karena keburuntunganya pintu kamar itu tak terkunci dengan tangan yang mulai bergetaran Vita mencoba membuka pintu itu. Vita berhasil memegang kenok pintu dan mulai menggeser pintu itu sedikit. Sedikit lagi ia akan melihat keadaan kamar Julio namun semua itu tak terjadi.
"Vita apa yang kamu lakukan disitu". Suara lelaki itu mengagetkan dirinya. Vita gelagapan dibuat Dion, ya dia lelaki yang membuat jantung Vita berdetak tak normal karena keget.
"Huh...". Vita menghela napas lalu mendekat kearah Dion. "Astaga Mas Dion ngagetin tau".
"Ngapain kamu didepan kamar Julio". Tanya Dion ada nada ketidak sukaan yang Vita dengar.
"Aaa..itu tadi kamarnya kebuka terus aku tutup lagi". Ucap Vita
"Ouh".Jawab Dion
"Mas Dion kenapa bangun".Tanya Vita
Dion menguap sebentar lalu menjawab pertanyaan Vita."Kamu yang tiba-tiba ilang dari kamar, ayok masuk". Dion merangkul Vita masuk kekamar.
"Mas, aku mau kedapur bentar mas Dion duluan aja".
Dion yang memang masih sangat mengantuk ia hanya bisa mengangguk lalu masuk kembali kekamarnya. Vita bergegas turun dari tangga menuju dapur untuk minum.
Vita meneguk air yang ada didalam gelas yang ia tuang tadi. selesai menghabiskan minumannya Vita bergegas mencuci bekas gelasnya itu. Ia menghidupkan keran airnya.
Alangkah kagetnya Vita tiba-tiba ada seseorang memeluknya dari belakang. "Astaga, Mas Dion bisa jangannmtph...". Perkataan Vita terhenti kala ia membalikkan dirinya ingin melihat orang yang memeluknya namun orang yang ia pikir itu Dion langsung menciumnya.
"Mmpthmm".Vita menggeliat ia mencoba memukul orang didepannya itu yang menciumi bibirnya dengan rakus. Belum lagi pelukan kedua tangannya dipinggang Vita begitu kuat.
Vita merasa ia tak akan bernapas lagi karena ciuman itu belum berakhir. Entah sudah berapa menit lelaki itu menyesap, melumat bibir Vita yang mulai membengkak.
Vita meraup napas kasar saat lelaki itu melepas tautanya dan langsung memukul kasar pria didepannya itu."kamu apa-apaan sih lepasin". Ucap Vita namun lelaki itu malah mengangkatnya masuk kekamar tamu.
"Lepasin". Vita berusaha memberontak baru saja Vita diturunkan oleh lelaki didepannya itu. Ia langsung menginjak kakinya. Sontak pria itu kesakitan Vita langsung keluar dari kamar itu bergegas ia lari dengan cepat masuk kekamarnya.
Sesampai dikamar Vita langsung menidurkan dirinya disamping Dion dengan napas tersenggal-senggal. "Kamu berubah, kenapa kamu jadi cowok kasar Yo". Ucap Vita dalam hati air matanya bergelinang saat ia membalikkan tubuhnya membelakangi Dion.
Lelaki yang menciumnya kasar tadi yaitu Julio. Kenapa Julio menjadi pria sekasar itu. Vita hampir tak mengenali sikap pria itu sekarang.
"Julio, asal kamu tau walaupun kita udah gak bisa bersatu, aku selalu doain kamu bisa dapat wanita yang lebih baik dibandingkan aku".
"Kamu itu cowok paling penyayang yang pernah aku temui, senyuman itu selalu bikin aku bahagia".
"Julio, maafin aku yang gak bisa balik kekamu".
Vita membalikkan badannya menghadap Dion ia menghapus air matanya.
"Kayanya aku udah jatuh hati sama kakak tiri kamu, Maafin aku yo". Vita mengumumkan dalam hatinya pernyataannya mengenai hatinya kini jelas.
Vita yakin ia telah menaruh hati ke Dion suaminya itu. Vita telah memikirkan sesuatu yang akan ia bicarakan nanti ke abangnya.
Vita terus memandangi wajah Dion dengan lekat. Entah kenapa Vita mendekatkan wajahnya ke wajah Dion dan ia mencium mulut suaminya itu. Hanya menempel tak pergerakan lain yang Vita lakukan. Tak terasa air matanya mengalir dan mengenai pipi Dion.
Baru saja Vita melepas ciumannya. Namun kepalanya ditahan. Dion yang terbangun langsung menyatukan kembali bibir mereka. Dion mulai melumat bibir Vita entah dapat dorongan mana Vita langsung membalasnya. Tanpa ia tahu Julio melihat semua itu. Vita membalas semua lumatan yang dilakukan Dion kepadanya.
Julio hanya bisa tersenyum kecut melihatnya. Sinta yang berada di pintu kamar menatap Julio lalu mendekatinya. Ia juga melihat apa yang tengah terjadi dikamar itu.
Entah refleks atau apa Sinta memegang bahu Julio."Udah lupain aja dia gue liat dia udah bahagia sama Dion". Bisik Sinta.
Julio yang melihat Sinta disampingnya ia langsung menyeret wanita itu kekamarnya. Ia mendorong kasar tubuh Sinta di atas kasur."Tau apa lo soal kebahagian hah".
"Gue cuma pengen lo berhenti lakuin rencana lo itu dan coba buat ngiklasin semua yang terjadi sama lo".
Julio menyeringai kearah wanita itu."Iklaskan kata lo, jadi lo harus iklas juga muasin gue". Julio langsung mencium leher Sinta. Sinta hanya bisa pasrah kalau ia melawan dirinya akan semakin sakit dibuat Julio.
Kita liat dari dua kamar itu mereka memang sama-sama sedang melukakan kegiatan bercinta. Tetapi terdapat perbedaan dikeduanya. Julio yang kasar dan Dion yang penuh kelembutan.
Dion melakukan semua dengan lembut. Vita akui ia mulai menyukai bercinta dengan Dion. Malam ini Dion memberikan kenikmatan bagi dirinya tiada tara. Sedangkan Sinta harus menahan sakit saat disetubuhi oleh Julio. Ia akan terus menjadi pelampiasan kamarahan lelaki itu. Sinta rasanya menyesal menasehati Julio tadi.
TBC.
Sumpah aku gak tau ketik apaan ide itu muncul tiba-tiba...